Senin, 12 November 2007

Lho mihun-e kok lengket ngene?

Lho mihun-e kok lengket ngene?

BEGINILAH kalau para bulok (bujang lokal) dan bujang beneran di mess masak mihun (mi putih kering) takkala badan sudah capek dan mata ngantuk. Ceritanya dinihari sekitar pukul 01.00, Selasa (13/11) dua bulok (bujang lokal) Cak Febby, tuan 'dengkek' Albert, serta si bujang beneran Agus Boyo tiba di mess Tribun Batam di Mitraraya Batam Centre setelah seharian ngantor.
Seperti biasa, sampai di mess perut biasanya keroncongan, jadi ya harus masak dulu biar perut tak protes. "Gus... masak mi. Itu ada mihun, mihunnya direbus dulu baru, baru dimasak," celetuk Febby.
Agus yang memang biasa kebagian masak, tanpa pikir panjang langsung merebus mihun. Sambil menunggu mendidih, ia meracik bumbu2 untuk memasak mie spesial itu.
"Lho mihun-e kok lengket ngene?" teriak Agus setelah melihat mihunnya sudah lengket jadi satu seperti bubur.
"Lho kamu salah Gus, harusnya mihunnya jangan direbus, tapi cukup direndam air panas aja biar lembek," sahut tuan Dengkek.
"Terus piye ki?" tukas Agus dengan nada suara bersalah.
"Ya udah gak apa-apa. Terus aja dimasak, gak usah omong Cak Febby," imbuh Albert sambil melongok keluar rumah, sambil menengok si bos Febby yang lagi asyik menyemprot mobil APV hitam kesayangannya.
Rupanya si bujang beneran satunya, Edi Sijabat Erat pun yang sebetulnya tidak bisa masak pun 'sok tahu' ikut-ikutan nimbrung ngaduk-aduk masakan mihun yang sudah membentuk gumpalan- gumpalan. Bukannya tambah beres, masakan mihun godok itu pun makin runyam bentuknya.
Singkat cerita, mihun godok itupun selesai dimasak, di makan berempat. Rasanya memang tetap enak, tapi bentuknya itu lho, jadi gumpalan-gumpalan tak jelas bentuknya.
"Sekali layar terkembang, pantang surut, harus dihabisin mihunnya" canda Febby.
"Nyam...nyam...nyam"
Aku yang tiduran di kamar sedang berusaha untuk bisa tidur, tapi tak juga datang kantuknya, sehingga mendengar percakapan mereka jadi teringat pengalaman ketika masak sarden bareng Agus. Waktu itu aku yang sudah menyiapkan bumbu pelengkap untuk memasak sarden minta tolong Agus untuk membuka kaleng sarden.
Tanpa tanya-tanya lagi, Agus ambil pisau terus melubangi kaleng sarden. Tapi bukannya dibuka pinggirnya, tapi Agus hanya melubangi bagian tengah kaleng sarden sebesar jari tangan.
"Lho Gus kok dibolong tengahnya kecil gini, gimana ikannya bisa keluar?" tanyaku penasaran.
"Sori bos, gak pernah masak sarden," kilah Agus Boyo.
Oalah...beginilah nasib jadi bulok di rantau, termasuk aku. Jauh dari istri.

Tidak ada komentar: