Kamis, 08 November 2007

Langkah PT ATB Hadapi Krisis Air (1)



Pilih Tarif Naik atau Krisis Air

SEBAGIAN masyarakat Batam pelanggan air minum PT Adhya Tirta Batam (ATB) belakangan ini dari waktu ke waktu menghadapi persoalan semakin berkurangnya aliran air bersih. Mengapa itu bisa terjadi, apa kendala yang dihadapi PT ATB dan solusi yang ditawarkan. Berikut laporan wartawan Tribun Ahmad Suroso. yang diturunkan secara bersambung .


PERUSAHAAN air minum PT Adhya Tirta Batam (ATB) kini menghadapi persoalan yang cukup memusingkan baik bagi ATB sendiri maupun pelanggan, yakni berkurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan air kepada para pelanggan secara yang trendnya terus mengalami penurunan. Ini dirasakan terutama oleh pelanggan yang berada di daerah pinggiran, seperti Tanjunguncang, Tanjungriau, Tanjungsengkuang, Tanjunguma, Punggur dan lainnya..

Fakta ini diakui oleh manajemen PT ATB. Menurut Dirut PT ATB Brian Sims, dan Direktur Produksi & Distribusi PT ATB, William Solary, penurunan tersebut sudah terasa sejak tiga tahun lalu, khususnya dalam 9 bulan terakhir. "Kecenderungan penurunan ini dari minggu ke minggu makin memprihatinkan," ujar William kepada wartawan di kantor pusat ATB, Muka Kuning, Kamis (8/11).

Pada kesempatan itu bersama pimpinan direksi PT ATB lainnya, yakni Direktur Komersial Paul Benet, Direktur Teknik Benni Andriyanto, Direktur Keuangan Dian Hasan, Customer Service Manager Maria Jacobus, humas ATB Adang Gumilar, dibeberkan semua hal yang selama ini menjadi sorotan pers Batam terhadap PT ATB.

Dari laporan atau keluhan yang masuk ke ATB, kondisi supply ke pelanggan menurut William yang paling kritis daerah Tanjungriau, dan sekarang sudah mengarah ke Tanjunguncang. Misalnya daerah Water Front City hanya bisa mendapat pasokan air kurang dari 8 jam sehari. Begitu juga dengan daerah Batuaji, Dotamana di Batam Centre, Tanjungsengkuan dan Tanjunguma.

Berkurangnya penyediaan air tersebut dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan permintaan sambungan baru, sementara persediaan air ATB cenderung stagnan. Selain itu banyak daerah-daerah pertumbuhan yang sebetulnya tidak masuk masterplan PT ATB yang mengajukan penyambungan.
"Kami tak mau menutup mata, seperti daerah Tanjungriau itu tidak ada dalam masterplan kami untuk melakukan penyambungan di sana, tapi tetap kami penuhi, karena sudah jadi komitmen kami untuk melayani permintaan masyarakat," kilah Maria
"Batam itu unik, karena pertumbuhan penduduknya tinggi, ekstrim dibanding daerah lain," cetus William menimpali. Otomatis permintaan penyambungan baru terus bertambah. "Dalam setiap tiga bulan sekali harus tambah aliran air 500 liter perdetik," ujarnya.
Maria menambahkan, mulai Mei 2006 lalu calon pelanggan yang masuk daftar tunggu mencapai 14.000. Dari jumlah tersebut lebih separonya bisa disambung, dan kini yang masuk daftar tunggu tinggal 6.293. Dari 6000-an yang masuk daftar tunggu tersebut tidak semua bisa diproses karena menurut Beni, dari survei yang dilakukan ATB, ternyata tidak semua rumah sudah ada penghuninya. "Yang riil dihuni hanya 1.500-an calon pelanggan," kata Beni.
Hal itu terjadi karena banyak developer yang mengajukan penyambungan baru meskipun rumah belum dihuni. "Kepentingan developer kan beda dengan kepentingan kami dan pelanggan. Lha kalau rumah belum ada penghuninya, lalu disambung aliran air dari ATB siapa yang bayar." imbuh Beni.
PT ATB pun menghadapi dilema. Seperti diungkapkan Sims, semakin cepat PT ATB memenuhi permintaan pelanggan baru, maka akan semakin cepat proses penggiliran pengaliran air ke pelanggan yang lama. Contohnya, satu daerah yang tadinya bisa dilayani penyambungan air 24 jam turun jadi 20 jam, yang tadinya 20 jam jadi 15 jam, yang 15 jam jadi 10 jam, 10 jam jadi 5 jam, dan yang tadinya lima jam jadi tidak teraliri.
"Ini terjadi karena kami krisis kekurangan air. Solusinya kami berencana membuat Instalasi Pengolahan Air Duriangkang tahap 3 untuk menambah persediaan air, menambah jaringan dan sebagainya. Untuk itu kami mengajukan ke Muspida dan OB untuk penyesuaian tarif sekitar 18 bulan lalu.. Tapi itu ditolak. Kami waktu itu sudah mengingatkan bila penyesuaian tarif tidak setujui kami tak bisa membangun IPA Duriangkang dan akibatnya akan terjadi kekurangan air di Batam," katanya. (bersambung)

Tidak ada komentar: