Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Agustus 2008

Mengapa Perlu Perbanyak Sholawat di bulan SYA'BAN

* Hubungannya dengan keutamaan Bulan Sya'an

AlHAMDULILLAH atas berkat rahmat Allah SWT kita masih diberi kesempatan bertemu bulan Sya'ban. Inilah waktunya yang afdhol bagi kita untuk memperbanyak bacaan sholawat, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja.

Firman Alloh, "Innaloha wa malaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayyuhaladzina amanu shollu alaihi wa salimu taslima"
, artinya," Sesungguhnya Alloh dan malaikatNya bersholawat pada Nabi (Muhammad), wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah pada Nabi (Muhammad)".

Sabda Nabi,"Bulan Rojab adalah bulan Alloh, bulan Sya'ban adalah bulanku, dan bulan Romadhon adalah bulannya Alloh, tetapi sedikit yang mengingat Sya'ban".

Memang sedikit yang mengingat bulan Sya'ban. Sebagai bulannya Nabi Muhammad SAW. Mengapakah bulan Sya'ban disandarkan pada Nabi Muhammad SAW ?

Perhatikanlah, turunnya ayat di atas, yaitu tentang perintah bersholawat, Firman Alloh,"Innaloha wa malaikatahu yusholluna ala nabi, ya ayyuhaladzina amanu shollu alaihi wa salimu taslima", ayat tersebut turunnya adalah di dalam bulan Sya'ban.

Sebab itulah, pada bulan ini, merupakan kesempatan besar bagi umat Islam untuk mendekatkan diri pada nabi Muhammad, melalui memperbanyak membaca sholawat

Kemudian perhatikanlah firman Alloh di atas:
1. Alloh bersholawat pada Nabi Muhammad.
2. Malaikat bersholawat pada Nabi Muhammad.
3. Orang-orang yang beriman bersholawat pada Nabi Muhammad.

Ada tiga macam sholawat pada Nabi Muhammad. SholawatNya Alloh, Sholawatnya malaikat dan sholawatnya orang-orang mukmin. Yang masing-masing adalah berbeda. Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya manusia dan semulia mulianya manusia. Beliaulah yang dapat memberikan SYAFA'AT pada kita. Beliaulah USWATUN HASANAH, beliaulah WASILATUL UDMA.

Bagaimana semestinya iktiqod kita di saat bersholawat ???

"Sholawat" akar katanya adalah "Shollu". Sama dengan akar kata dari "Sholat", yang "Shollu" itu berarti "HUBUNGAN", pada saat kita membaca sholawat pada Nabi, ibarat kita memasang suatu jalur penghubung antara kita pada Nabi.Atau itu sama artinya kita menjalin KOMUNIKASI dengan nabi Muhammad.
Di sinilah mestinya IKTIQOD kita.

Sambil mengharap syafaat beliau, mengharap petunjuk beliau, mengharap limpahan rohmat beliau, sebagaimana yang sudah kita pahami. "TAAT pada ROSULULLOH sama dengan TAAT pada ALLOH". "Tidak akan sampai pada ALloh kecuali melalui Muhammad".

Apakah kita pernah berpikir bahwa ALloh mengajarkan Islam secara langsung pada kita ??
Tidak..., melainkan Melalui beliaulah (Muhammad), Alloh menurunkan ajaran Islam pada seluruh umat manusia. Beliaulah WASILATUL `UDMA, atau "WASILAH YANG AGUNG".

Kemudian melalui para Ulama "Warosatul Anbiya" atau Ulama yang mewarisi ilmu-ilmu para nabi-lah kita memperoleh pengajaran dan keterangan tentang agama Islam. Tidak langsung dari Alloh seketika, pada kita, melainkan melalui perantara beliau-beliau itu, para alim ulama, para tabiin, para sahabat dan melalui Nabi Muhammad SAW.

Sebab itulah Alloh memerintahkan pada kita di Al-Qur'an untuk mencari PERANTARA atau WASILAH yang dapat mendekatkan diri pada-Nya. Para sahabat juga berdo'a dengan memanfaatkan PERANTARA Muhammad, Paman Muhammad, Ibnu Abbas, dll.

Kembali pada keutamaan bulan Sya'ban 1429 Hijriah yang untuk tahun Masehi-nya diawali pada tanggal 3 Agustus 2008, pada bulan ini, sekali lagi merupakan kesempatan kita mendekatkan diri pada Nabi Muhammad SAW melalui banyak-banyaklah membaca sholawat pada beliau.

Sholawatnya Alloh pada Muhammad adalah berbeda dengan sholawatnya malaikat pada Nabi Muhammad, dan berbeda pula dengan sholawatnya orang mukmin pada Muhammad. Sholawatnya malaikat adalah berbeda dengan sholawatnya Alloh pada Muhammad dan berbeda pula dengan sholawatnya orang mukmin pada Muhammad SAW.

Kemudian, pada 15 Sya'ban atau nisfu sya'ban, merupakan puncak keistimewaan bulan ini, dan sungguh-sungguh sangat merugi orang yang tidak mau memanfaatkan tanggal tersebut untuk memohon pada Alloh.

Pada tanggal 15 Sya'ban itu-lah turun 300 rohmat, sebagaimana berita Jibril pada Muhammad. Dan pada tanggal 15 Sya'ban inilah seandainya catatan "pencabutan nyawa seseorang" untuk tahun depan sudah akan berlaku, pada malam 15 Sya'ban ini, catatan itu turun pada malaikat pencabut nyawa.

Sekelompok orang-orang tasawuf memanfaatkan malam ini untuk memohon pada Alloh, agar seandainya catatan itu untuk kita sudah turun, mohon supaya ditangguhkan. Pada bulan Sya'ban ini marilah, saya mengajak saudara-saudara seiman, untuk benar-benar memanfaatkan hari-hari, jam-jam, bahkan tiap detik, untuk dijaga agar tidak lepas HUBUNGAN dengan Nabi Muhammad SAW, melalui bacaan-bacaan sholawat.

Adapun redaksinya bacaan Sholawat ada beberapa macam, yakni
ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD
atau
SHOLLALLOHU 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
atau
ALLOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WASALIM

Jumat, 18 Juli 2008

Tanda-tanda keagungan bulan Rojab

BULAN Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan merupakan bulan yang paling dimuliakan Allah SWT.
Untuk itulah kita dianjurkan untuk berdoa agar kita bisa bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini. Inilah doa menyambut bulan Rajab guna persiapan menghadapi bulan Ramadhan : "ALLAHUMMA BAARIKLANAA FI RAJAB WA SYA'BAN WA BALIGHNA RAMADHAN". "Ya Allah berikanlah berkah-Mu kepada kami di bulan Rajab dan Syaban, dan pertemukan kami dengan Ramadhan." Amin yaa Rabbal 'Alamin ...

Pada bulan Rajab umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunat dan amalan-2 sunat lainnya. disela-sela kesibukan bekerja. disela-sela kesibukan tugas yang banyak, ditengah makanan-makanan yang enak-enak, dikerumunan orang lain yang asyik menikmati makanannya, luruskanlah niat puasa kita, ibadah-2 sunah kita, "Semata-mata untuk menjalankan perintah Allah dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah SWT "

Tentu kita tidak ingin melewatkan begitu saja datangnya bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan dengan sia-sia. Karena itu dibawah ini saya posting Tanda-tanda keagungan bulan Rojab tulisan Huttaqi alias Edy Setiawan, yang semoga bisa diambil manfaatnya. Amien

1. Qoola Rosulullohi shollallohu alaihi wasallama ,
"Innamaa summiya rojabun li annahu yatarojjabu fii hi khoirun katsiirun li sya'baana waromadloona"

Bersabda Rosululloh saw,
"Adanya dinamakan bulan Rojab karena dia itu agung, di dalamnya mengandung kebaikan yang banyak (dan kebaikan yang banyak itu dipersiapkan) untuk menghadapi bulan Sya'ban dan bukan Romadhon"
(Hadits keterangan dari shohabat Anas, diriwayatkan oleh Imam Hasan)

2. Adanya peristiwa besar pada bulan ini, yaitu pada tanggal 27 Rojab, diperjalankanNya nabi Muhammad oleh Alloh. Peristiwa besar Isro' dan Mi'roj bertemunya Nabi Muhammad dengan Alloh secara langsung tanpa melalui perantara Jibril, dan ditetapkannya perintah kewajiban Sholat Lima.

3. Menurut Sultan Auliya, Syech Abdul Qodir Jaelani, di dalam kitabnya Al-Ghoniyyah li thoolibi thoriqil haq Juz I halaman 173.
Disebutkan begini,
"Rojabu huwa ismun min asmaail mustaqoti was tiqooquhu minat tarjib huwa at ta'dzim"

artinya,
"Kalimat ROJAB, dia itu nama sebagian nama-nama yang dikeluarkan, adapun mustaqnya dari TARJIB dan maknanya AGUNG.

Masih menurut Syech Abdul Qodir,
Kalimat Rojab itu tersusun dari 3 huruf,
RO' singkatan dari Rohmatulloh (RohamtNya Alloh)
JIM singkatan dari Judulloh (KedermawananNya Alloh)
BA' singkatan dari Birulloh (KebaikanNya Alloh)

4. Di dalam kitab Nazahatul Majalis /juz I/ hal 45
diceritakan,
Kerterangan dari shohabat Tsauban. suatu saat sahabat Tsauban di ajak berjalan-jalan oleh Rosululloh saw yang mana dalam perjalanannya itu melewati salah satu kuburan. Dan ketika berada di antara deretan kuburan, Rosululoh berhenti kemudian menangis. Setelah itu Rosul bersabda pada sahabt Tsauban,"Hai Tsauban, mereka yang di dalam kubur ini banyak disiksa dalam kuburnya. Maka aku berdoa kepada Alloh supaya mereka diringankan siksanya".
Kemudian Rosul bersabda,
"Yaa Tsauban, Lau shoomahaa uu laa i yauma min rojabin waqooma lailatam minhu maa 'adzaabuhu"
"Ya Tsauban, seandainya mereka yang disiksa itu waktu hidupnya mau puasa Rojab walau 1 hari dan sholat sunat Rojab walaupun hanya semalam maka pasti tidak akan mengalami siksa yang seperti itu"

Sahabat Tsauban nanya lagi,
"Faqultu yaa Rosulullohi yashuumu yaumin waqiyaamu lailatin yamna u 'adzaabil qobri"
"Apa puasa 1 hari lalu sholat sunnat 1 malam (cuma 2 rokaat) bisa mencegah adzab kubur ?"

Rosul jawab," Na'am" Ya memang benar,
sampai Nabi bersabda,
"Demi Dzat yang menguasai diriku dalam kekuasaannya, tidak ada orang muslim dan muslimat puasa 1 hari dari bulan Rojab dan sholat sunat Rojab, kecuali dicatat ibadah 1 tahun"

5.Qoola Rosulullah saw,
"Shoumu awwala yaumin min Rojabin kaffaarotu tsalaatsa siniina, watstsaani kaffaarotu sanatain, watstsaalitsu kaffarotu sanatin tsumma kulli yaumin syahron"

Bersabda Rosululloh saw,
"Puasa tgl 1 bulan Rojab menutup dosa 3 tahun. Puasa tanggal 2 bulan Rojab menutup dosa 2 tahun, Puasa tanggal 3 Rojab menutup dosa 1 tahun. Kemudian tiap-tiap hari (setelah tgl 3) menutup dosa 1 bulan." (hadits keterangan dari shohabat Ibnu Abbas)

dan masih banyak lagi keterangan-keterangan yang menginformasikan tentang keutamaan bulan Rojab.

Waktu kita sangat terbatas di dunia ini, moga-moga bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Alloh swt, melalui pintu-pintu yang sudah ditunjukkan oleh Rosululloh. (AHMAD SUROSO)

Minggu, 10 Februari 2008

Mengumbar Nafsu (3)


Foto:martyastiadi.worldpress 
GAYEMI - Sapi sedang bermalas-malasan sambil gayemi.

Melek, dolek, dicekek, nelek, terus matek. Mau...?



Seno: Ada lagi yang gelimpang/tumbang jadi ular
D.Ruci: Ya...ada, yaitu ular Sowo, itu semburnya menakutkan, semburannya mempan/berbisa. Kalau menulis surat, suratnya sakti. Nggak mempan bisa-nya, ya gubetane/lilitannya.

Seno: Kok ada yang seperti kerbau, sapi.
D.Ruci: Kerbau dan sapi itu hanya makan saja (gayemi), tidak tahu apakah di kanan kirinya ada yang sakit, tidak ambil pusing, yang penting gayemi saja. Tidak peduli, siapa yang membuat langit, bumi, siapa yang membuat kandang...? Siapa yang menyediakan makan, minum dan yang membersihkan kotoran di kandang...dll? (butuh air ada, butuh makan ada makanan, butuh lampu terang ada).
Kalau ditanya siapa yang membuat ini semua...? Jawabnya hanya gobak-gobek dengan bersuara melenguh (suara khas sapi). Umpama dimaknakan itu Laa A'rifunaa (tidak tahu) Itu sapi Seno...., tapi manusia juga ada yang seperti itu.
Menengadah ke langit melihat langit, melihat matahari dan adanya matahari sehingga jadi terang. Lahir di bumi butuh air sudah ada, butuh makanan bahan makanan sudah ada, butuh pakaian bahan pakaian sudah ada, butuh angin/udara, api, semua sudah tersedia. Jika ditanya siapa yang menyediakan itu semua...? Jawabnya tidak tahu. Ini sama dengan sapi tadi.

Kalau ternyata ada manusia seperti itu, itu lebih jelek dari sapi. Sebab manusia diberi akal, dan sapi tidak, derajatnya dibawah sapi. Allah berfirman yang artinya:"Sejelek-jelek binatang yang melata, disisi Allah ialah mereka yang tuli, bisu, dan buta dan mereka itu tidak menggunakan akal" (S Al Anfal/ayat22). "Mereka itu seperti binatang ternak" (S.Al Ar'of/S7/ayat 179).

Kerjanya hanya makan dan minum saja. Pertama mereka itu melek, lalu dolek, terus dicekek, lalu nelek, terus matek. Begitu bangun tidur langsung dolek (mencari makanan), kemudian dicekek (dimakan), kemudian nelek (buang air besar), lalu matek (mati). Jadi hidupnya tidak ibadah.

D.Ruci: Ada yang glimpang seperti laba-laba
Laba-laba itu membuat rumah dari perutnya, tetapi rumah laba-laba itu kalau hujan kehujanan, ada angin ya kanginan, panas kepanasan, tidak bisa dibuat berteduh, dan hanya untuk menjaring barangkali ada serangga/capung yang menempel disitu, lalu dimakan. Jadi kerjanya hanya mencari makan (ibarat jaring-jaring ekonomi), seperti yang disebutkan dalam Alquran surat Al Ankabut/ayat 41: "Kamatsalil ba'kabut (seperti laba-laba).
Semua dijaring, dimana-mana semua kena jaring, sehingga yang tidak menjaring tidak kebagian. Ada jaring-jaring politik, ekonomi, banyak sekali. Jaring-jaring itu dibentangkan ke timur, barat, selatan, utara, ke atas, ke bawah. Makanya jangan heran bila banyak yang tidak kebagian.
Makanya dalam Alquran surat Al Ankabut, diperintahkan agar manusia hati-hati karena banyak laba-laba. Laba-laba itu yang keluar panjang dan krembyah-krembyah.

D.Ruci: Ada yang seperti khimar, sebagaimana diisyaratkan dalam Alquran:"Seperti khimar yang membawa kitab (Al Jum'ah/S.62/ayat 5).
Jadi ada khimar yang membawa kitab, tapi itu hanya membawa saja, tidak tahu isinya. Itu sejenis toko kitab dan pemilik tokonya sendiri jika ditanya isinya tidak tahu (Ini banyak sekali). Ada kitab undang-undang, kitab tafsir, bisa membaca, bisa mencari, tapi tidak mengerti isinya, adanya tidak mengerti karena tidak dilaksanakan.
Meskipun sangat pandai kalau mengikuti hawa nafsunya, lalu di manakah letak kepandaiannya? Makanya yang ada itu bodohnya. Meskipun tidak bisa membaca tapi kalau tidak mengikuti nafsunya itu namanya alim. Alim itu keluar dari hati, tidak keluar dai kitab. Kalau keluarnya dari kitab dan jika kitabnya ditutup maka nakal lagi.

Seno: Lalu bagaimana baiknya agar hidup itu sempurna?
D.Ruci: Jika kamu mencari, untuk sempurnanya hidup itu hanyalah sempurna menurut hamba/kawula, dan jangan diukur menurut Gusti Kang Murbeng Jagad. Dan sempurnanya hidup itu hanyalah keseimbangan:
* Keseimbangan antara periksa dan rasa
* Keseimbangan antara aqal dan hati
* Keseimbangan antara jasmani dan rohani
* Keseimbangan antara individu dan kebersamaan
* Keseimbangan antara syariat dan haqeqat
* Keseimbangan antara dhohir dan batin
* Keseimbangan antara mulki dan malakut
* Keseimbangan antara ghoib dan syahadah
* Keseimbangan antara iman dan kemanusiaan.
Semuanya itu tercakup ada di atasnya orang yang syukur, yaitu syukur kepada Allah, kepada dirinya, kepada sesama manusia, dan syukur kepada hidupnya sendiri. Ini yang namanya sempurnanya hidup, yaitu hidupnya sendiri. Bukan hidupnya Dzat Kang Manon (Manon itu Gusti Allah).
Wallahu a'lam bishowwab. (Ahmad Suroso/bersambung)

Sabtu, 09 Februari 2008

Mengumbar Nafsu (2)



Seno alias Bimo alias Werkudoro

Wujudnya Manusia, Nafsunya Kera


DALAM tulisan sebelumnya sudah aku paparkan sedikit kisah asal muasal mengapa Semar perut dan bokongnya mbedah alias menonjol ke depan dan ke belakang. Terus mengapa Togog mulutnya panjang dan sobek, istilah bahasa Jawa ndower. Semua itu terjadi akibat dari menuruti nafsu rakus, haus kekuasaan yang tak terkendali.

Lalu apa akibatnyanya bila kita sebagai hamba Allah yang hakekat diciptakanNya hidup di dunia untuk beribadah kepadaNYA ternyata dalam hidupnya di dunia yang fana ini hanya mengumbar nafsunya hayawannya saja. Untuk menjelaskan hal ini tidaklah mudah. Untuk memudahkan pemahaman kisah yang hakekatnya merupakan bagian dari pelajaran ilmu Tauhid akan aku nukilkan kisah pertemuan Nabi Musa As dengan Nabi Khidir As.

Oleh Sunan Ibrahim Makhdum alias Sunan Bonang, satu dari Walisongo, kisah itu digubah menjadi buku "Seno Mencari Air Hidup" atau berisi kisah Nabi Musa As dan Nabi Khidir As mencari Maul Hayat. Dari buku dan pelajaran yang pernah aku peroleh dari guru ruhaniku di sebuah kota santri di Jawa Timur, disebutkan mengapa lambang Nabi Musa mencari MA-UL HAYAT itu Bimo/Seno/Werkudoro?

Antara lain karena Nabi Musa As mendapat mukjizat2 yang hebat, pendiriannya sangat kukuh. Begitu juga Seno, pendiriannya kuat, punya kesaktian, hanya mengenal haq dan batal saja. Makanya lambangnya Seno itu menunduk, tidak menengadah, dan menggenggam kukunya yang sangat tajam, maknanya kuku itu kuat dan kokoh. 
Nabi Musa as mempunyai kedudukan yang menguasai kaum Bani Isroil. Begitu juga dengan Seno, dia mempunyai kedudukan tinggi di negeri Amarto (yang suka wayang epos Mahabarata tentu tahu ini).

Dari cerita dibawah ini yang mengambil tamsil dari pewayangan serta tidak sedikit memakai istilah dari bahasa pewayangan, semoga dapat membantu memahami apa akibatnya bisa hidup hanya mengumbar nafsu. Tentu saja ini bukan makna dalam arti dhohir atau lahir tapi lebih merupakan tajasudil makna.
****

"Kamu boleh mencintai segala apa yang ada di dunia sekehendakmu, engkau akan dipisahkan dengan apa yang kamu cintai. Berbuatlah sesuatu menurut kehendakmu, engkau akan dibalas karena perbuatanmu. "(Alhadits).

Sabda Rasulullah tersebut hakekatnya mengandung tiga hal. Pertama boleh kita 40 th, 80th, 100th akhirnya juga mati. Kedua, boleh kita mencintai segala sesuatu yang ada di dunia ini maka engkau akan dipisahkan dengan apa yang engkau cintai.

Ketiga, kita berbuat apa saja, toh nanti akan dibalas menurut perbuatan kita. Perbuatan baik akan dibalas kebaikan, perbuatan jahatpun akan dibalas setimpal dengan kejahatannya. Jadi hakekat mati itu MUFARRIQUN BIHI (perpisahan antara ruh dan jasmani).

Berikut dialog antara nabi Musa As dengan nabi Khidir As. Seno adalah perumpaan dari nabi Musa As, dan D.Ruci adalah perumpaan nabi Khidir.

Seno: Akan kembali kemana, kalau ruh sudah bisa dengan badan (jasmani)?

D.Ruci: Ruh itu tidak dari bumi, tidak dari api, tidak dari air, tidak dari angin, tetapi ruh itu dari alam yang namanya MALAKUT atau GHOIB atau disebut alam AMAR. Jadi ruh itu kembali ke alam AMAR. "Amruhu min amri robbi (Ruh itu termasuk urusan Tuhanku" (S.Al Isro/ayat 85).
Singkat cerita dalam dialog antara Seno dengan D.Ruci, Seno bertanya mengapa di alam malakut ada pohon-pohon yang tumbang bisa menjelma macam-macam warna.
Ada yang menjelma berubah menjadi babi besar, yang mengeluarkan api, ada yang menjadi kera, ada yang hilang sifat pohonnya, menjadi kerbau, sapi, kambing, menjadi keledai, ular ada yang menyerupai laba2, anjing, jadi batu yang mengeluarkan api, rupa syaiton.
Di dalam firman Tuhan S.Yaasiin/S.36/ayat80 disebutkan," Dari pohon yang hijau itu mengeluarkan cahaya atau api".

D.Ruci: Ada yang Seperti kera
Seperti dalam Alquran S.Albaqoroh ayat 65,"Jadilah kamu kera yang hina".
Tentu kita semua tahu bagaimana kera/monyet bila sedang makan. Meski sedang makan kalau dilempari makanan pasti diterima terus, tidak pernah memberi tapi kalau diberi pasti diterima. Lisannya masih makan sambil garuk-garuk, kalau dilempar tangan kirinya menerima, dilempar lagi tangan kanannya menerima, dilempar lagi ekornya menerima. Ini lambangnya orang yang tamak/rakus.
Jadi asal muasalnya itu manusia, tapi dalamnya kera.

D.Ruci: Ada yang tumbang seperti batu.
Batu itu hati orang yang keras (hati keras seperti batu). Jika hati seperti batu, maka hujan tetap hujan, air tetap air, kelihatannya saja basah, tapi tak bisa menembus apa-apa, tidak ada penerangan yang bisa mencairkan, bila sudah seperti itu. Makanya ada yang disebut hatinya batu, kepala batu. Firman Allah, "Fahiya Kalhijaarot", yang artinya "maka ia seperti batu" (Albaqoroh ayat 74).

Seno: Kok ada apinya...?
D.Ruci:
memang itu calonnya bahan bakar neraka. Allah berfirman yang artinya, "Dan bahan bakarnya neraka itu manusia dan batu (batu hati)". (Albaqoroh ayat 24).
Batu hati itu jika tidak dinyalakan, ya tidak nyala. Dan neraka jika tidak dinyalakan dengan dimasuki manusia, maka tidak akan nyala, adanya nyala karena dinyalakan sendiri.
Wallahu a'lam bishowwab. 
(bersambung/ahmad suroso)

Kamis, 07 Februari 2008

MENGUMBAR NAFSU (1)




Pilih Jadi Semar atau Togog?

SYAHDAN, tersebutlah dahulu kala, dunia baru saja tercipta. Matahari, bulan dan bintang bertaburan di angkara. Samudra membentang luas. Alam sudah tercipta, tapi belum ada manusia. Tersebutlah di alam dewata, Sang Hyang Wenang, raja segala dewa memperanakkan seorang putra, Sang Hyang Tunggal namanya. Di kerajaan jin, Raja Begawan Rekatama mempunyai seorang putri cantik jelita, Dewa Rekatawi namanya.

Setelah dewasa, Sang Hyang Tunggal dan Dewa Rekatawi dinikahkan. Tak lama kemudian Dewa Rekatawi mengandung. Di luar harapan, ia tidak melahirkan bayi, tapi sebutir telur. Dan begitu keluar dari rahim, telur itu terbang, melesat ke angkasa, lalu jatuh di hadapan Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang yang sangat sakti, tahu, dari mana telur itu berasal, dan apa yang harus terjadi pada telur tersebut. Maka disabdanya telur itu, dan telur itu pun berubah menjadi mahluk.

Kulit telur menjadi bayi laki-laki, dinamai Sang Hyang Antaga. Putih telur juga menjadi seorang bayi lelaki, dinamai Sang Hyang Ismaya. Dan kuningnya menjadi bayi laki-laki pula, dikasih nama Sang Hyang Manikmaya.
Semula mereka rukun dan damai hidupnya. Namun saat menginjak dewasa, Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya bertengkar, memperebutkan tahta ayahnya, Sang Hyang Tunggal. Masing-masing mengklaim yang paling berhak menggantikan ayahnya, dan merasa paling sakti. Mereka bertengkar tiada habisnya.

Sang Hyang Manikmaya lalu mencoba menengahi pertikaian kedua saudaranya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, ia mengusulkan kedua saudaranya berlomba untuk menunjukkan kesaktiannya, siapa yang dapat nguntal (menelan) Gunung Garbawasa, dialah yang akan berkuasa. Di dalam gunung itu terkandung apa saja yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia.

 Setelah keduanya setuju, maka pergilah mereka menghadap Gunung Garbawasa.Pertama-sama Sang Hyang Antaga yang memulai sayembara. Ia mencoba nguntal gunung itu, tapi tak berhasil, meskipun sudah berulang kali mencoba, sampai mulutnya sobek. Jadilah Sang Hyang Antaga, dewa yang semula tampan wajahnya berubah menjadi jelek. Mulutnya lebar, karena sobek.

Saat tiba giliran Sang Hyang Ismaya, ia mengheningkan cipta. Dipandangnya Gunung Garbawasa dalam-dalam. Ia membayangkan masuk kedalam rahim ibunya. Ia bertanya, bagaimana seorang mahluk sebesar dia pernah berada dalam rahim yang sekecil itu. Itulah misteri jagad raya. Begitu ia sampai pada kesadaran ini, di-untal-nya Gunung Garbawasa yang ada di hadapannya. Ia berhasil.

Namun celakanya, ia tak dapat mengeluarkan kembali gunung itu. Ia sadar seharusnya tak boleh kebesaran jagat raya ini ia taklukkan dengan nafsunya. Kini jagad raya inilah yang menghukumnya. Sejak saat itu Sang Hyang Ismaya menjadi buruk tampaknya. Perutnya besar dan bokongnya pun membesar pula ke belakang, tersodok puncak gunung yang ditelannya.

Marahlah Sang Hyang Tunggal mengetahui kelakuan mereka, "Kalian dewa, tapi kelakuan kalian seperti manusia juga". Saat itu manusia belum diciptakan. Ungkapan Sang Hyang Tunggal mengandung arti sesungguhnya telah direncana dalam rancangan jagad raya ini, bahwa manusia itu adalah mahluk yang pandai bertikai dan bertengkar di antara sesamanya.

Usai melampiaskan amarahnya, Sang Hyang Tunggal mengusir kedua anaknya ke dunia ini.Nama mereka pun berubah. Sang Hyang Ismaya menjadi SEMAR. Dan Sang Hyang Antaga menjadi TOGOG. Semar dititahkan untuk melindungi manusia yang baik yang dalam pewayangan diwakili kaum Pandawa. Sedangkan Togog diperintahkan menemani manusia jahat.

Sepeninggal Semar dan Togog, hanya Sang Hyang Manikmaya-lah yang kini tinggal di surga. Sepintas Sang Hyang Manikmaya tidak bersalah. Padahal sesungguhnya justru dialah yang mengompori kedua saudaranya untuk membuat perlombaan nguntal gunung itu. Ia tahu, kedua saudaranya pasti gagal. Bisa diduga maksud tersembunyi dalam hatinya: supaya dia lah yang mewarisi tahta ayahnya. Dan memang Manikmaya-lah akhirnya yang diangkat jadi penguasa dewa-dewa, dengan gelar baru :Batara Guru

Kelakuan Batara Guru tak bedanya dengan Semar dan Togog, suka akan pertikaian dan haus akan kekuasaan. Batara Guru yang berasal dari kuning telur itu, memang dewa yang gila akan kekuasaan. Sering dikisahkan Batara Guru berkelakuan tak ubahnya manusia, yang diselimuti iri, dengki, persaingan, pertikaian, dan pertentangan terhadap sesamanya.

Dari kisah yang dilukiskan dengan amat menyentuh oleh novelis klasik sekaligus jurnalis senior Romo Sindhu, sebutan akrab Dr Gabriel Possenti Sindhunata dalam bukunya berjudul "Putri Cina" terbitan Gramedia tahun 2007 yang sebagian kisahnya saya kutip di atas, saya baru 'ngeh' mengapa bentuk fisik Semar dan Togog, dua tokoh pewayangan yang sudah saya kenal sejak kecil menjadi seperti tersebut di atas.

Melalui penuturan Romo Sindhu yang saya kenal semasa sama-sama menjadi pengurus PWI Cabang Yogyakarta era tahun 1990-an, yang mengutip hikayat Sabdopalon-Nayagenggong, saya baru tahu bahwa pamomong orang Jawa seperti Semar yang dianggap suci seperti dewa itu juga mempunyai sifat berkelahi seperti anjing.

Semar dan Togog tak luput dari perkelahian dan pertikaian yang membuahkan kekerasan, demi ambisinya merebut tahta/kekuasaan. Jadi jika di tanah Jawa orang suka berkelahi dan bertikai tanpa pernah damai, maka Semar dan Togog lah pemulanya. Termasuk jika ada pemimpin besar bangsa ini yang memiliki ambisi kekuasaan tak terkendali, seakan merasa negeri ini kerajaan pribadi dan keluarganya sejatinya karena mewarisi perilaku Semar dan Togog.

Kisah Semar dan Togog sebagaimana dituturkan oleh Romo Sindhu tersebut bila kita cermati dan renungkan secara mendalam sebetulnya mengandung filsafat/hikmah tentang manusia. Semar dan Togog adalah bagian dari lambang-lambang, perumpamaan-perumpamaan dalam pewayangan yang mengandung pengajaran tentang diri manusia, dengan alam semesta, dan Sang Maha Pencipta. 
Bagaimana jadinya bila manusia sebagai hamba Tuhan ternyata dalam hidupnya hanya menuruti hawa nafsunya saja? Simak tulisan selanjutnya. (Ahmad Suroso)
 

Rabu, 06 Februari 2008

Bapakmu Adalah Muhammad Rasulullah!

Menggembirakan Anak Yatim

DALAM tulisan sebelumnya, saya memposting tulisan kunjungan anak-anak penyandang cacat dari SLB Kartini Batam ke harian Tribun Batam. Ya mereka adalah anak-anak yang berada dalam kondisi kurang beruntung dibanding anak-anak pada umumnya yang kondisi fisik dan mentalnya normal.

Mereka adalah mahluk Tuhan yang membutuhkan perhatian, empati, bimbingan, dorongan, dan uluran tangan kita, agar mereka dapat tumbuh mandiri. Setelah menerima kunjungan anak-anak SLB Kartini tersebut, saya jadi teringat pada anak-anak yatim yang kami kunjungi di beberapa Panti Asuhan dan Masjid dalam program Sahur Bersama bulan Ramadhan 1428 H kemarin yang digagas harian Tribun Batam dan Indosat serta PLN.

Pikiran saya pun melayang ke zaman Rasulullah Muhammad SAW, bagaimana Rasulullah memberikan contoh, uswatun hasanah kepada umatnya didalam memperlakukan anak yatim.
Alkisah, satu waktu di kala Iedul Fitri, di hari kebahagiaan..hari kemenangan, Rosululloh sedang berjalan-jalan sendiri, dan menemukan seorang anak sedang menangis.
Anak itu menangis sendirian...menundukkan kepalanya, memasukkan kepalanya disela-sela lutut dan menutupinya dengan kedua tangannya..
Sementara di kejauhan teman-teman sebayanya sedang asyik bermain dan bersenang-senang sebab itu memang hari yang sangat membahagiakan.Rosululloh dengan penuh kasih sayang lalu membelai si anak, dan bertanya,"Mengapakah engkau menangis wahai anak ?"
Si anak mengangkat mukanya, tampak matanya sembab, penuh air mata. "Bagaimana aku tidak menangis, sementara semua bergembira, aku tidak..." Ia balik menangis lagi, sambil menundukkan kepalanya..
Rasulullah kembali bertanya, "Mengapakah engkau sedih wahai anak ?"
Si anak menjawab, "Mereka bergembira sebab mereka memiliki ayah, aku tidak punya ayah lagi...
mereka bergembira sebab mereka punya ibu, sementara aku sudah tidak punya lagi, mereka bergembira sebab punya saudara, sementara aku tidak punya saudara.."
Sambil menangis anak itu melanjutkan cerita nestapanya, "Mereka bergembira sebab mereka bisa makan kenyang, sementara perutku sekarang lapar..mereka bergembira sebab mereka memaliki".
Mendengar penutupan anak itu, Rasulullah trenyuh. Beliau meneteskan airmatanya,kemudian beliau bertanya;
"Wahai anak...bagaimanakah perasaanmu, jika Rasulullah yang menjadi ayahmu ?
wahai anak...bagaimanakah perasaanmu, jika Aisyah yang menjadi ibumu ?
wahai anak, bagaimanakah perasaanmu, jika Hasan dan Husein cucu Rosul yang menjadi saudaramu ?
wahai anak, bagaimanakah perasaanmu jika engkau tidak lagi perlu berpikir makanan dan pakaian apa yang akan kau kenakan ?"
Si anak yang tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Rasulullah sendiri, terlonglong dan terbengong-bengong...
"Wahai Bapak..adakah kenikmatan di atas itu ?
wahai Bapak..adakah kebahagiaan lagi di atas kebahagiaan tertinggi itu ?
sungguh aku akan sangat senang sekali...dan aku tidak akan bersedih lagi jika itu memang terjadi.."
Kemudian Rosululloh merengkuh anak tersebut, menaikkannya kepundak seperti biasanya Rosululloh menggendong hasan dan Husein...
"Marilah...sekarang kita pulang ke rumah..
Bapakmu sekarang adalah Muhammad Rasulullah, ibumu Aisyah, saudaramu Hasan dan Husein.."

Si anak tersenyum riang...Kebahagiaan masuk ke dalam hatinya...ia masih sesenggukan...
SUBHANALLAH, semoga kita bisa mencontoh Rasulullah, dengan menggembirakan anak yatim piatu dan fakir miskin. (Ahmad Suroso)

Rabu, 16 Januari 2008

Pepeling untuk Anakku

Pepeling untuk Anakku

Ketahuilah anak-ku
Rumah ini rumah singgah
Kuburan adalah rumah abadimu
dimana blatung akan menggerogoti jasadmu

Keelokan tubuhmu pun kini hanya TONG-TAI yang berjalan
Reputasimu, kebanggaanmu, kemegahanmu & kesombonganmu
hanya menggelapkan mata batinmu dari memandang Allah

Ingatlah anak-ku
Setiap debu dari nafas kehidupan rumah ini
ada hitungan di hadapan-Nya
Semua dipertanggungjawabkan

Jadi setiap laku lampah hidup ini
hanya sebagai sarana mengabdi
berjalan melaksanakan "Darmaning Satrio"

Batu ini keras anak-ku
namun dapat dipahat indah penuh tuah
jangan hatimu lebih keras dari batu ini
Cukup batu nisan indah yang tak bisa dipakai si empunya ini
sebagai "kaca benggolo" bagi hatimu

Yogya, 28 Mei 2007
Bapakmu

BSW Adjikoesoemo


Bait demi bait tulisan penuh makna itu terpahat pada Tetenger terbuat dari batu marmer berbentuk kotak bersegi panjang lebar 70 cm, tinggi satu tengah meter yang ditaruh di pojok ruang tamu rumah Adjiekoesoemo di perumahan Griya Mahkota, Jl Godean Yogyakarta. Di sisi sebelah kiri batu tersebut terdapat tulisan:
Cherrie Wijnschenk
Geb, 9 Juni 1857
Overl, 31 December 1934

Cherrie Wijnschenk inilah si empunya tetenger terbuat dari marmer, seorang warga Belanda yang tidak sempat memakai batu nisan tersebut untuk pusaranya. Justru Adji-lah yang berhasil memanfaatkan batu tersebut sebagai pepeling atau pengingat untuk anak-anaknya bahwa semua kekayaan, harta benda yang dimilikinya hanya sebagai alat untuk mengabdi kepada Sang Khalik, bukan sebagai tujuan.
"Dalam ceramah2 agama saya sering bilang bahwa kita umat Islam perlu kaya, termasuk sufi pun harus kaya. Tapi sekali-kali tidak boleh hati kita tertambat pada harta kekayaan kita. Nah supaya tidak dibilang 'jarkoni' (isa ngajari ora bisa nglakoni/bisa mengajari tetapi tidak bisa menjalani) maka saya ingin membuktikan saya pun juga bisa kaya. Tapi tujuan kita hidup bukan itu, melainkan hanya sebagai alat untuk berjihad di jalan Allah," kilah Adji suatu ketika pada penulis. Memang setiap malam Rabu dan Jumat, Adji selalu memimpin zikir yang diawali dengan memberi taushiyah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan amalan tasawuf.
Saya jadi teringat pada guru ruhaniku, seorang mursid thoriqoh di Jatim yang selalu menekankan pada jutaan murid-muridnya untuk untuk selalu memperbanyak mengingat Allah, dzikron katsiron, menjaga keseimbangan antara jasmani dan ruhani,  antara syariat dan hakekat, antara dhohir dan batin, antara fikir dan rasa, antara aqal dan qalbu, antara iman dan kemanusiaan untuk menuju sempurnanya hidup.
Selama ini mungkin masih banyak orang awam yang berpikir bahwa tasawuf hanya memikirkan akhirat dan menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi/fana. Mereka pekerjaannya hanya berzikir, munajat terus pada Allah agar dapat makrifatullah.  Namun pikiran itu tidaklah benar. Karena, paling tidak yang saya lihat sendiri, guru saya meskipun dikenal sebagai mursid tasawuf tetapi juga memiliki kekayaan yang nilainya mungkin ratusan miliar rupiah, mulai dari aset gedung- gedung di pondok pesantrennya yang luasnya mencapai puluhan hektar sampai menjadi komisaris di beberapa perusahaan, termasuk perusahaan Mitra Sigaret PT HM Sampurna. Di Cilegon konon juga ada seorang mursid thoriqoh yang memiliki perusahaan baja bernilai triliunan.
Lalu makna apa yang bisa dipetik dari "pepeling" yang dibuat oleh Adjikoesoemo? (ahmad suroso/bersambung).

Kamis, 03 Januari 2008

Asa pun berguguran

Asa pun berguguran

TIDAK biasanya bigbos dari Jakarta itu menghampiri dan merangkul pundak si fulan sambil menarik agak menjauh dari temen-teman lainnya yang sedang bekerja, saat mengunjungi 'kantor cabangnya' Oktober 2007 lalu. Ada apa gerangan? Pikir si fulan. Setelah terpisah agak jauh dari karyawan lainnya, bigbos membisikkan kata-kata singkat sambil mengumbar senyum, "Sabar ya mas, tunggu bulan Desember".
Si Fulan hanya manggut-manggut , hatinya penasaran? Apa maksud janji yang menyiratkan adanya harapan menggembirakan. Karena itu keesokan harinya si Fulan iseng-iseng cerita pada orang kedua (bos II) di kantor cabang itu soal omongan bigbos. Singkat cerita, intinya dia bilang saat bertemu dengan bigbos bersama orang nomor satu di kantor cabang itu, dia bilang ke bigbos kalo punya anak buah , orangnya ini baik, kerjanya bagus, meskipun tidak menuntut, sudah selayaknya diberi penghargaan lebih.
Si Bigbos setelah tahu orang dimaksud itu si Fulan, langsung memerintahkan kepada bos I di perusahaan itu untuk segera mengajukan skema baru gaji si Fulan paling lambat Desember. Dan itulah yang kemudian diomongkan pada si Fulan. Tentu saja si Fulan berharap sangat akan ada perubahan pada Desember 2007.
Tapi ternyata di akhir Desember saat menerima struk gaji, si Fulan kecewa. Karena struk gaji yang diterimanya masih sama seperti yang diterima saat ia diangkat pada posisi yang sudah tiga tahun jalan di empat. Kekecewaan --meskipun hanya disimpan dalam hati--merupakan yang kesekian kalinya. Sebelumnya, ia paling tidak sudah dua kali dibisiki --untuk dipromosikan di dua kantor cabang baru yang hendak dibuka. Namun kedua-duanya ewes-ewes bablas angine. hehehehe
Si Fulan pun merenung, mencoba instrospeksi dengan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, kemudian menimbang-nimbang pantaskah ia meminta 'lebih'. Fulan lalu teringat pada teman-teman se angkatannya yang lebih beruntung, sudah 'naik pangkat'. Begitu dengan dengan teman-teman barunya.

Kerja Demi Siapa?

Tiba-tiba datang datang 'kembaran' si Fulan menghampiri. "Hai Fulan, mengapa kamu hari ini kok terlihat murung, tak bersemangat?". Ceritalah si Fulan soal diriya tersebut.

"Begini saudaraku. Kamu tidak boleh murung atau putus asa. Sebagai hamba Allah, kita harus sabar. Ikhlas menerima kenyataan. Dengan hati ikhlas, pasrah kepada Allah, insyaallah kamu akan hidup lebih tenang," bujuk si kembar yang sehari-harinya selalu berupaya memperbanyak mengingatNya, dzikron katsiron. "Sesungguhnya Nabi Muhammad, sedetikpun tidak pernah putus hubungannya dengan Allah SWT"
"Sekarang pikirkanlah kamu bekerja itu untuk apa?"
Belum lagi Fulan menjawab, si kembar melanjutkan nasihatnya. "Kebanyakan orang kalo ditanya begitu, jawabnya biasanya karena demi uang, demi anak istri, demi jabatan, demi mendapatkan penghargaan, dan hal-hal lain yang bersifat materi.. Kalau kamu bekerja karena itu, kamu suatu saat pasti akan menemui kekecewaan," tutur si kembar.
Yang benar dan ini yang harus kami tanamkan kedalam hatinuranimu, kita bekerja itu harus diniati karena Allah, nawaitu kita bekerja itu untuk IBADAH, untuk mendapat ridha-Nya. Ingatlah sabda Nabi, "Innamal a'malu bi niat", "sesungguhnya amal itu bersama niat".
Maka yang membedakan sesuatu itu termasuk IBADAH atau hanya TAMPAKnya saja ibadah, adalah NIATnya. Apabila NIATnya :"Semata-mata menjalankan PERINTAH ALLOH",
maka semua apa yang kita lakukan adalah Ibadah.. Sebaliknya, seandainya niat kita ternyata adalah selain itu, maka meskipun wujudnya, atau gambarnya atau tampaknya ibadah,
tetapi NILAI Ibadahnya adalah tidak ada.
Syahadat adalah bentuk Ibadah, 
Sholat adalah bentuk Ibadah, Puasa adalah bentuk ibadah,
Zakat adalah bentuk Ibadah, Haji adalah bentuk ibadah
Tetapi seandainya bentuk-bentuk Ibadah tersebut tidak kita niatkan "SEMATA-MATA karena menjalankan perintah ALLAH", maka apa-apa yang kita kerjakan hanyalah BENTUKnya saja, hanyalah GAMBARnya saja, hanyalah TAMPILANnnya, tidak ada nilai ibadahnya alias KOSONG MELOMPONG.
Maka jagalah, dan perhatikanlah masalah NIAT, letakkan kesadaran pada Semata-mata menjalankan perintah ALLAH. Bukan yang lainnya.

Maka si Fulan pun manggut-manggut mendengar nasihat si kembar sambil berdoa semoga Gusti Allah membuka hati dan ruhnya untuk bisa mencerap apa yang tersirat dibalik setiap kejadian dan firmannya. (Ahmad Suroso)




Senin, 31 Desember 2007

Sesatkah kita!?.. refleksi akhir tahun (2-Habis)

Lalu mengapakah sekarang kita tahu banyak kitab-kitab hadits yang beredar ?
Bukankah itu bid’ah ?
Bukankah itu sesuatu yang baru ?
Bahkan melihat sejarah,
Bukankah pembukuan hadits-hadits Nabi itu seolah menentang Nabi Muhammad yang melarang pembukuan hadits-hadits ?
Tetapi,
Apakah masuk pada bid’ah yang baik yang hasanah ?
Ataukah bid’ah dholalah ?
Kalau sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah dan RosulNya,
Wajib kita tidak menambahi ataupun menguranginya.
Sholat wajib lima sehari semalam, maka bid’ah sesat, bid’ah dholalah jika kita menambahi atau menguranginya. Mutlak tidak boleh ditambahi dan dikurangi.
Kalau Qur’an mengatakan “Qulhu Allohu Ahad”, mutlak, tidak boleh ditambahi maupun dikurangi. Jikalau ditambahi atau dikurangi, itu bid’ah yang dholalah, itu bid’ah yang sesat.

Bukankah diajarkan oleh Rosululloh untuk berijtihad ?
Bagaimana cara supaya sabar ?
Bagaimana cara supaya tawakal ?
Bagaimana cara dzikir ?
Jika perintah ada, tapi tuntunan resminya tidak ada ?
Bolehkan berijtihad ?
Tiap-tiap orang memiliki keyakinan sendiri-sendiri, pun meski Islam sebagai agamanya.

Bagaimana seandainya ditanya,
Apakah sabar itu ?
Bagaimanakah sabar itu ?
Caranya supaya sabar bagaimana ?

Apakah dzikir itu ?
Bagaimanakah caranya dzikir itu ?
Bagaimana cara supaya kita dzikir kepada Alloh ?
Bukankah perintahnya adalah “Dzikron Katsiron ?”

Apakah engkau sudah tahu cara bersyahadat ?
Apakah cukup dibaca saja syahadat itu ?
Apakah iman itu ?
Apakah taqwa itu ?

Maka janganlah heran jika banyak sekali pendapat-pendapat akan masalah-masalah itu.

Maka cukuplah, “Lana a’maluna wa lakum a’malukum”
“Apa-apa yang aku kerjakan adalah untuk aku sendiri dan apa- apa yang kamu kerjakan adalah untuk kamu sendiri”.

Saling hormat menghormati diantara sesama pemeluk agama Islam.
Saling berhubungan dengan kasih sayang, silaturrahmi.

Tanpa perlu menjelek-njelekkan pendapat lain,
Tanpa perlu menuduh sesat orang yang berbeda faham,
Tanpa perlu menuduh Zindiq orang-orang yang berjalan menujuNya,
Dan…..
Tanpa perlu mengkafir-kafirkan saudara-saudara kita yang seagama.

“Qu anfusakum wa ahlikum naroo”
“Selamatkanlah dirimu, dan keluargamu, dari api neraka”.
Marilah fastabihul khoirot ! Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Terima kasih untuk Huttaqi, sohib saya seperguruan ruhani, yang melalui tulisan-tulisannya telah memicu tumbuhnya inspirasi untuk menuliskan hikmah di setiap kejadian, dan firmanNya.
(Ahmad Suroso)

Sesatkah kita? catatan akhir tahun

Sesat? Tergantung siapa yang ngomong!


PERGANTIAN tahun merupakan saat yang paling pas untuk melakukan evaluasi, refleksi, instropeksi atas segala sepakterjang kita selama setahun terakhir. Begitu juga dalam melewati pergantian tahun 2007 menuju tahun 2008 menjadi moment yang selayaknya kita manfaatkan untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kita sebagai hamba Allah, yang mengemban anaman sebagai kalifatullah fil ardh.
Dari aspek agama, saya tergelitik untuk menyoroti kejadian menonjol selama tahun 2007, yakni banyaknya muncul aliran atau faham keagamaan yang menimbulkan kontroversi, menimbulkan benturan fisik dan ketegangan, keresahan di kalangan umat, khususnya umat Islam sendiri. Aliran tersebut antara lain Ahmadiyah, Al Qiyadah Al Islamiyah, Alquran Suci, Al Haq, yang mendapat stigma sesat dari MUI, sampai-sampai aliran Wahidiyah yang sebenarnya hanya kumpulan umat islam yang tergabung dalam shalawatan Wahidiyah di Tasikmalaya pun dicap sesat.
Tak pelak mantan Ketua Pengurus Besar NU KH Abdurrahman Wahid pun menjadi geram. Sehingga di refleksi catatan akhir tahun 2007 di Jakarta kemarin, Gus Dur menuding melalui fatwa sesatnya, MUI memberi andil atas terjadinya berbagai tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.. "MUI bukan satu-satunya ormas Islam.Karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat yang bisa memicu kesalahpahaman. Saya minta MUI tidak memakai kata sesat," cetusnya dalam orasi catatan akhir tahun di Hotel Santika Jakarta, Minggu (30/12).
Hal senada disampaikan anggota Wantimpres yang juga pengacara senior Adnan Buyung Nasution ini yang menilai MUI dianggap harus bertanggung jawab atas maraknya tindak kekerasaan keagamaan. Fatwa aliran sesat yang mereka keluarkan kerap berbuah aksi penyerangan atas kelompok keyakinan tertentu.
Di sisi lain ada yang menuding, dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah karena dinilai tidak lagi memberikan sentuhan yang mendalam tentang kebenaran agama Islam juga dituding sebagai salah satu pemicu maraknya aliran sesat. "Muhammadiyah dan NU tidak lagi memberikan sentuhan yang dalam tentang kebenaran agama Islam sehingga mereka mencari di luar mainstream yang ada," ungkap cendekiawan muslim Muslim Abdurrachman pada dialog di 'Trijaya FM' Jakarta Pusat, Sabtu (3/11/2007).
Saya tidak bermaksud menyalahkan MUI yang dengan gampangnya mengeluarkan fatwa-fatwa sesat, tetapi bukan berarti mendukung terhadap fatwa sesat yang direkomendasikan MUI. Saya ingin mengajak para pembaca untuk merenungkan kembali pemahaman kita terhadap stigma aliran sesat. Mengapa dianggap sesat? Karena dianggap bid'ah. Apa itu bid'ah? Inilah yang hendak kita renungkan bersama dengan hati yang dingin, sabar, ikhlas, tawakal.
Anda boleh setuju atau tidak setuju terhadap wacana yang saya uraian berikut ini hasil dari tholabul ilmu dengan guru ruhani saya dan buku-buku agama yang banyak mengupas masalah-masalah ruhaniyah. .

Ada beberapa pendapat tentang Bid’ah.
Yang satu menganggap bahwa “Semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah itu adalah sesat”
Sebagian yang lain menganggap bahwa agama dan teknologi itu pisah, kemudian mereka memahami bid’ah seperti ini :“Semua yang baru di dalam masalah agama adalah bid’ah dan itu sesat, sedangkan bid’ah atau sesuatu yang baru di dalam masalah teknologi itu ndak papa, sebab teknologi itu tidak termasuk wilayah agama”
Sebagian yang lain berpendapat bahwa seluruhnya itu tidak ada yang lepas dari masalah agama, baikpun itu masalah teknologi.
Mereka menganggap bahwa bid’ah itu ada 2 macam:.
“Yaitu bid’ah hasanah, atau sesuatu yang baru, sesuatu yang baru adanya tapi baik,
Dan yang satu adalah bid’ah dholalah, yaitu sesuatu yang baru, mengada-adakan tapi tidak baik.”
Tidakkah zaman Nabi belum ada perintah untuk pembuatan buku atau kitab al-Qur’an ?
Dan baru ada perintah pencatatan saja ?
Bukankah jaman Nabi belum ada pembagian seperti ini Fiqih, ini Ushuludin, ini Aqoid, ini tasawuf?
Benarkah Fiqih itu sesuatu yang baru atau bid’ah ? Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dholalah ?
Benarkah Ushuludin itu istilah yang baru atau bid’ah ? Lalu apakah bid’ah hasanah ataukah dholalah ?
Benarkah Tasawuf itu istilah baru yang juga bid’ah ? Lalu apakah bid’ah hasanah atau dholalah ?
Ingatkah engkau ketika Nabi melarang pencatatan apalagi pembukuan hadits-hadits beliau ?
Bacalah sejarah-sejarah di jaman Nabi ?
Abu Bakarpun tak berani menuliskan hadits ataupun membukukannya.
Umarpun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya.
Usmanpun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya.
Ali pun tak berani menuliskan hadits maupun membukukannya.
(ahmad suroso/bersambung)

Sabtu, 29 Desember 2007

Bersama Allah

Sendirian

Beginilah nasib jadi 'bulok' alias bujang lokal. Sementara saya bekerja di Batam, anak istri tinggal terpisah dengan saya nun jauh ribuan kilometer di Yogyakarta. Idealnya saat-saat ada acara rekreasi bersama atau family gathering yang rutin diadakan setahun sekali setiap tanggal 24 Desember di Batam View Hotel and Resort, bisa mengajak anak istri ikut serta. Tapi keinginan tinggal keinginan, saya hanya bisa membayangkan dan berandai-andai.
Sementara temen-temen kantor yang sudah berkeluarga mengajak serta anak istri atau suaminya ke acara Family Day 24 Desember 2007 lalu saya berangkat sendiri. Ketika melihat teman-teman saya asyik bercengkerama dengan anaknya-anaknya di pantai berpasir putih hotel Batam View, pikiran pun melayang, coba saya bisa mengajak istri, dan dua anak saya, Rian yang kini sudah duduk kuliah, dan Faisal yang masih duduk di kelas 5 SD, tentu kebahagiaan saya akan lebih lengkap.

Karena itu ketika istriku menelepon kalau pada tanggal 28-29-30 Desember akan rekreasi ke obyek wisata Bandungan, Ambarawa, Jateng, dan Baturaden di lereng Gunung Slamet, Purwokerto dan menanyakan bisa nggak pulang ke Yogya biar bisa ikut rekreasi, saya langsung iseng-iseng bilang ke bos bisa tidak saya pulang ke Yogya 28 Desember. Tapi seperti sudah saya duga, kecil sekali kemungkinann diizinkan karena redpel dan manajer produksi sedang cuti. "Wah ndak bisa, kacau nanti," jawab si bos singkat sambil berlalu keluar dari ruang kerjanya.

Dengan besar hati, akupun menerima keputusan itu, karena memang faktanya crew redaksi lagi banyak yang cuti natal dan tahun baru, termasuk lima reporter kota. Pada tgl 28 Desember kemarin istri saya kerja di sebuah perguruan tinggi Yogya rekreasi bersama teman-temannya se kantor, ke obyek wisata Bandungan, Ambarawa, Jateng. Mereka berangkat pagi, pulang malam.

Hari ini Sabtu setelah mengambil raport Faisal, sekitar pukul 12.00 istri saya berangkat bersama keluarga besar kantornya ke Baturaden. Bila saat ke Bandungan hanya dikhususkan untuk karyawan, rekreasi ke Baturaden sampai Minggu (30/12/07) mengajak serta keluarga. Jadilah istri saya mengajak Faisal, dan Lala, keponakan anak kakak ipar saya. "Coba kalau bapak bisa pulang, dan ikut tentu lebih asyik, doakan ya segalanya lancar," tutur istri saya via telepon saat hendak berangkat. Amin.

Sendirian di rantau memang ndak enak. Siapa sih yang mau hidup terpisah dengan anak istri. Tapi karena Tuhan menentukan jalan hidup saat ini harus begini, apa boleh buat. Ya jalani saja...enjoy aja gitu loh. Untung aku dapat jatah pulang menengok keluarga plus tiketnya dari perusahaan sebulan sekali, jadi tidak terlalu kesepian lah. Apalagi kini setiap saat kita bisa komunikasi lewat Hp.
Tetapi setelah saya pikir-pikir, batin saya bertanya, benarkah saya sendirian?. Setelah aku menyadari bahwa Allah menciptakan manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, artinya agama Alloh mengandung perintah untuk mengatur jasmani manusia dan ruhani manusia. Secara jasmani kita diperintah untuk beribadah sebagaimana diatur dalam syariat, dan secara ruhani antara lain mengandung perintah agar batin kita dihidupkan dengan selalu mengingat Allah (zikir) antara lain melalui sholat, "Aqimish sholata li dzikri (tegakkan sholat untuk dzikir)", saya pun menjadi sadar bahwa saya tidak sendirian.
Bukankah selama ini aku 'selalu bersamaNYA'? Ya, melalui sholat, zikir secara lisan maupun siri (hati mengucap Allah..Allah tiada putus) pada setiap kesempatan, aku dapat merasakan bahwa aku tidak sendirian, tetapi 'bersama' Allah. Karena hakekatnya Allah memang Maha Dekat, lebih dekat dengan apapun, sebagaimana firmannya," Wa nahnu aqrobu ilaihi min qoblil warit. (Sesungguhnya Allah itu lebih dekat dari urat leher kita). 
Manusia diciptakan Allah terdiri atas tujuh unsur: bulu, kulit, daging, darah, otot, tulang, sumsum. Ya Allah lebih dekat dari tujuh unsur kejadian manusia itu. Bayangkan... kekuatan dan daya Allah itu lebih dekat dari tujuh unsur jasmani manusia itu.
Jadi mengapa mesti merasa sendirian?

Kamis, 27 Desember 2007

Haruskah Perbedaan Keyakinan Disatukan? (3-Habis)

Berkiblat ke Rasul dan Umar r.a.

PERBEDAAN adalah rahmat. Begitu sabda Rasulullah. Karena itu didalam menyikapi perbedaan keyakinan kita pun dianjurkan untuk mengedepankan ukhuwah. Selama ini kita hanya terpaku pada ukhuwah Islamiyah yang mungkin sudah kita pahami secara tertentu atau secara umum. Umumnya dipahami bahwa Ukhuwah Islamiyah adalah Persaudaraan diantara umat Islam, yang tidak terpecah belah, yang seperti badan sekujur, satu sakit yang lain juga merasakan sakit juga.
Dibawah ini saya paparkan apa yang dimaksud ukhuwah Islamiyah, Persaudaraan menurut cara Islam dalam arti luas. Persaudaraan dibagi menjadi beberapa macam:

1. Persaudaraan antara umat Islam dengan Umat non Islam.

Ini sudah diatur oleh al Quran di dalam surat al Kafirun.
"Lakum dinukum waliyadin" "Agama kamu untuk kamu agama saya untuk saya". Jelas terpisah dan tidak ada campur aduk diantara agama-agama tersebut.

2. Persaudaraan diantara umat Islam
Ini juga sudah diatur oleh al Quran dan oleh hadits."Fastabihul khoirot" "berlomba-lomba menuju kebaikan" dan "Fastabihul Maghfiroh" "berlomba-lomba menuju ampunan Allah". Jadi bagi sesama umat Islam, fokusnya adalah berlomba-lomba di dalam urusan kebaikan dan berlomba-lomba di dalam menuju ampunan Allah.
Di hadits disebutkan bahwa "Persaudaraan itu seperti badan sekujur". satu sakit yang lain juga merasakan sakit. Persaudaraan sesama umat Islam sebagaimana badan sekujur. Kaki yang terantuk duri, maka mulut otomatis mengaduh dan tangan otomatis mengusap2 ke yang sakit.
tanpa diperintahpun otak akan berpikir bagaimana supaya yang kena duri tidak sakit lagi dan bisa sembuh.

3. Persaudaraan dengan seluruh umat manusia


Persaudaran jenis ini kadang ada yang nyebut ukhuwah insaniyah, yang dirangkum oleh ayat al Quran dengan satu istilah saja "Rohmatan lil 'alamin"...Umat Islam dididik untuk merahmati alam. Maka kita tahu petunjuk Rosulullah seperti "Khoiru nassi anfauhum linnas" "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain". Tidak peduli siapa saja, lintas suku, lintas agama lintas bangsa, yang paling bermanfaat bagi manusia lain adalah sebaik2 manusia.
Juga hadits Rosul yang menyampaikan bahwa "Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah pada tetanggamu" Tidak peduli tetangga kita itu beragama hindu, buddha, kristen, apapun juga, wajib kita berbuat baik kepada tetangga kita.
"Memuliakan tamu", tidak peduli agama apa saja, suku apa saja, wajiblah kita memuliakan tamu.
"Santuni anak yatim dan fakir miskin", tidak peduli agama apa saja, asalkan seseorang itu yatim atau fakir miskin, maka wajiblah kita memberikan santunan dan perlindungan.
Dan masih banyak lagi wujud-wujud dari Rohmatan lil 'alamin ini. Bukankah Allah sudah berfirman "..Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..." (QS Al hujurot 13)

Alangkah indahnya seandainya Ukhuwah Islamiyah ini, seandainya Persaudaraan yang telah diajarkan Islam ini kita praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari..Saling tolong menolong, hormat menghormati, lindung melindungi sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw di Madinah, dan para sahabat Rasul yang mulia. Yang Kristen hidup tenang dan tentram.

Mengenai contoh perilaku para sahabat Rasul, Adi Adian, Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat menulis (26 Januari 2007 di www.hidayatullah.com),  sejak awal mula, Islam sadar akan makna kerukunan umat beragama. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain. Ini juga diakui oleh Karen Arsmtrong, didalam bukunya A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers, 1997). Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen dan Yahudi di Jerusalem.
Umar r.a. adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa pengrusakan dan pembantaian manusia, bahkan menandatangani perjanjian 'Iliya' dengan pemimpin Kristen Jerusalem. Secara tegas Armstrong memuji sikap Umar bin Khatab dan ketinggian sikap Islam dalam menaklukkan Jerusalem, yang belum pernah dilakukan para penguasa sebelumnya.
Amstrong mencatat:
“Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama) monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya, dengan kemungkinan perkecualian pada Raja Daud. Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang Kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atyau pengambialihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerusalem memeluk Islam.

Alangkah indahnya jika jiwa besar ada di dalam dada kita masing-masing..Perbedaan pendapat dipahami sebagai sebuah kewajaran. Yang mengkritik memang berniat untuk memperbaiki tanpa memaksakan kehendaknya, yang dikritik menerima dengan lapang dada dan berintrospeksi.
Tak ada lagi hinaan dan cacian
Tak ada lagi celaan dan makian
Tak ada lagi pengrusakan
Tak ada lagi serbuan membabi buta
Yang ada kedamaian, ketenangan, ketentraman... sebagaimana Allah berfirman," Ya ayyuhannafsu muthmainah.. (hai jiwa yang tenang...)."
 Ya, jiwa yang tenang yang dipanggil Allah, 
bukan yang ditunggangi hawa nafsu. (Ahmad Suroso)

Minggu, 23 Desember 2007

Haruskah Perbedaan Keyakinan Disatukan?

Jamaah Ahmadiyah Juga Manusia Man!
SUDAH sepekan terakhir ini pikiranku terusik oleh aksi massa sekitar seribu orang dari Gerakan Anti Ahmadiyah (Gerah) yang menentang kelompok Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat, yang berakhir rusuh, Selasa 18 Desember. 8 Rumah dan 1 buah musala hangus dibakar oleh massa Gerah. Beberapa hari sebelumnya, penyerangan terhadap pengikut dan masjid Ahmadiyah juga terjadi di Tasikmalaya. April 2007 lalu, sebuah masjid bernama Al-Istiqomah milik Ahmadiyah di Majalengka, Jawa Barat juga dirusak ratusan massa dengan menggunakan batu, kayu dan pentungan.
Penyerahan terhadap jamaah Ahmadiyah yang berpusat di Pakistan itu juga terjadi di beberapa wilayah lainnya di Indonesia. Sepengetahuan saya, kejadian penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di beberapa wilayah di Indonesia itu tidak pernah terjadi semasa Orde Baru dulu.
Mungkinkah ini buntut dari fatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dialamatkan kepada Ahmadiyah.
MUI mengeluarkan fatwa sesaat, karena Ahmadiyah menganggap pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dari Pakistan sebagai Nabi, Imam Mahdi yang dijanjikan didalam kitab-kitab agama samawi. Sepengetahuan saya dari bacaan-bacaan tentang Ahmadiyah yang pernah saya pelajari, Ahmadiyah itu terbagi dua, yakni Ahmadiyah Qodian yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, dan Ahmadiyah Lahore yang menganggap pendiri Ahmadiyah itu hanya sebagai Mujadid, pembaharu Islam. Mungkinkah fatwa tersebut telah disalah tafsirkan sebagai pembenaran oleh sekelompok umat untuk 'melenyapkan' Ahmadiyah dari Indonesia, dan memaksa pengikutnya untuk meninggalkan apa yang telah diyakininya?
Saya tidak bermaksud untuk membela Ahmadiyah, karena memang saya bukan jamaah Ahmadiyah dan saya juga tidak sependapat dengan faham Ahmadiyah. Yang ingin saya soroti yaitu perilaku mereka yang ingin menegakkan amar ma'ruf tapi dengan cara-cara yang mungkar, merusak, meneror, mengintimidasi, memaksakan kehendak, main hakim sendiri, karena ada perbedaan (faham).
Kalau kita memang mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sebagai uswatun hasanah,
mengapa kita tidak meniru cara Nabi saja. Di dalam urusan perbedaan, Nabi bersabda,"Perbedaan adalah rohmat". Artinya di Islam dihargai adanya perbedaan. Meski sebagian orang tidak meyakini akan hadits ini. Tetapi hal yang lumrah adanya perbedaan. Baik perbedaan di dalam memahami ayat-ayat al Quran maupun hadits dan juga perbedaan di dalam mempraktekkan agama Islam.
Kalau dianggap bahwa yang benar itu dalam pemahaman ayat al Quran adalah satu faham saja, tentulah ini bertentangan dengan ayat al Quran yang kurang lebih menyatakan bahwa "jika lautan jadi tinta dan pohon-pohon jadi pena untuk menulis ayat-ayat Allah, tentulah setelah habis semua itu, ayat-ayat Allah belum akan selesai untuk ditulis".
Perbedaan itu adalah hal yang wajar. Perbedaan tidaklah perlu dipahami sebagai sebuah pertentangan yang harus disatukan, apalagi dianggap sebagai sebuah perselisihan yang akan membawa kepada perpecahan. Sudah sejak masa Rosulullah saw pun, perbedaan itu ada dan ada.
Untuk mensikapi adanya perbedaan itu al Quran mengatakan "lana a'maluna walakum a'malukum". "apa yang aku kerjakan ya untuk aku, dan apa yang kamu kerjakan adalah untuk kamu". Inilah yang banyak diceritakan di hadits-hadits bahwa tanggung jawab dihadapan Allah tiap-tiap orang adalah tanggung jawab masing-masingnya.
Yang penting kita saling hormat menghormati pendapat yang berbeda dan perbedaan itu janganlah kemudian ditungganggi hawa nafsu merasa benar sendiri. Akar dari konflik adalah ketika perbedaan yang ada itu ditunggangi oleh hawa nafsu, maka pastilah timbul konflik yang bisa berakibat fatal. Tergantung kemampuan masing-masing di dalam pengendalian hawa nafsunya.

Jangankan terhadap sesama umat yang sama-sama menjunjung tinggi syahadat, terhadap umat agama lain pun al Quran membimbing untuk menghormatinya. Saya jadi teringat ucapan seorang guru/mursid/sufi di Jawa Timur, tempat saya sering bertowabul ilmi mengatakan, "Di dalam al Quran ada perintah bagi umat Islam, untuk tidak membuat kerusakan dimuka bumi. Untuk tidak menghancurkan tempat-tempat ibadah agama lain, baik itu vihara, Gereja, Klenteng, dll. (QS. Haji)"
Seandainya ada umat Islam yang melakukan tindakan itu, bukanlah karena diperintah oleh agama, melainkan karena si orang Islam itu mengikuti HAWA NAFSU-nya sendiri" Sebab itulah ISLAM TIDAK IDENTIK DENGAN MUSLIM". Ingatlah,"Lakum dinukum waliyadin", dan marilah saling hormat menghormati diantara UMAT beragama.
Pertanyaannya, mengapa mereka yang menamakan gerakan anti Ahmadiyah menjadi brutal, siapa dan faktor-faktor apa yang membuat mereka menjadi terinspirasi untuk melakukan tindakan kekerasan, memaksakan kehendak? (ahmad suroso/bersambung)

Sabtu, 24 November 2007

Merenungkan Hakekat Perpisahan

KEBERSAMAAN - Ika (pakai kerudung) foto bersama-sama crew redaksi Tribun Batam (dari kiri Menik, aku, Yon, dan si centil Tari di pantai ujung pulau Galang saat melepas tim jelajah pulau Tribun-Telkomsel tahun 2005.

Sedih Ditinggal Ika


HARI ini, Sabtu, 24 November 2007 adalah hari terakhir Ika Maya Susanti, salah satu wartawati andalan Tribun Batam bekerja bersama-sama crew redaksi Tribun Batam. Sebab terhitung mulai 25 November 2007 besok ia mulai resign, menyatakan mengundurkan diri dari dunia wartawan, karena diterima sebagai dosen di Politeknik Batam, yang mulai tahun depan melebur menjadi Universitas negeri Raja Ali Haji (Umrah).

Berbeda dengan hari-hari biasanya, hari ini aku merasakan sangat kehilangan, sedih, "semedot" (kata orang Jawa), ditinggalkan satu diantara wartawan andalan Tribun Batam ini. Kalau saja aku boleh memilih dan menentukan, akan suruh wanita berjilbab yang sholehah, cerdas, banyak mengeluarkan ide-ide untuk membuat topik tulisan khususnya menyangkut dunia remaja, supel, mudah dimintai tolong dan kerjasama meskipun tetap mengedepankan sikap kritisnya itu untuk tetap bertahan di Tribun.
Tapi tentu saja, hal itu tidak akan saya lakukan. Karena ini menyangkut pilihan hidup masing- masing orang, yang kita tidak bisa memaksakannya. Saya jadi teringat sebulan lalu ketika Ika mendekati saya bilang mau resign, setelah diterima sebagai dosen di Poltek Batam.
"Bisa nggak ya saya resign mulai pertengahan November. Karena mulai besok saya sudah diminta mulai mengajar secara penuh, dan diminta resmi keluar dari Tribun mulai 15 November? tanya alumni Universitas Negeri Malang (dulu IKIP) yang rendah hati ini.
Mendengar Ika mau resign saya setengah tak percaya. Setelah beberapa saat diam, saya bilang sebaiknya kalau mau resign memenuhi prosedur yang ditentukan kantor, yakni minimal satu bulan sebelumnya harus memberi tahu. Artinya dia baru bisa keluar dari Tribun minimal per 25 November 2007.
"Kamu udah bilang sama mas Febby (Pemred Tribun) atau PSDM belum," tanyaku.
"Belum"
"Kalau gitu kamu bilang dulu sama mas Febby, terus ke PSDM," saranku pada Ika.
Tapi ketika perjalanan waktu sebulan kemudian itu benar-benar terlewati, yaitu pada hari ini, hari terakhir Ika bergabung di Tribun, hati kecil saya merasa kehilangan, berat hati ini ini melepas kepergian Ika yang saat ini sedang serius berpacaran dengan Junaidi, mantan wartawan Tribun Batam yang sudah lama resign..
Oke Ka, selamat ya memulai petualangan baru di dunia akademik, setelah tiga tahun lamanya mengembara di dunia wartawan. Perpisahan memang berat, apalagi kalau kita sudah merasa cocok dan enjoy bekerja dalam satu tim, tapi itulah romantika kehidupan. Semoga di tempatmu yang baru, kamu dapat menemukan suasana yang tak kalah mengasyikkan

Sebagai manusia, kita memang pasti akan mengalami perpisahan, entah itu pisah dengan teman seprofesi, teman main, sahabat, saudara, tetangga, anak, istri, suami, kakek, nenek dan sebagainya.
Untuk menghadapinya paling-paling dibutuhkan kemampuan untuk meredam kesedihan karena ditinggalkan orang-orang dekat kita, dengan hati ikhlas, rela, atau bahkan dengan sikap biasa-biasa saja..
Tetapi ada suatu perpisahan yang tidak setiap orang siap menghadapinya, yaitu berpisahnya nyawa atau ruh dengan jasmaninya atau fisik kita. Kesiapan menyangkut bekal yang akan kita bawa untuk kembali ke pangkuan Allah, innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Konkretnya sudahkah kita siap menghadapi kematian?. Yang dimaksud kita di sini adalah kesiapan ruh kita berpisah dengan jasad kita.
Supaya ruh kita siap rojiuun (kembali) ke Allah, maka kita harus mengenal diri kita sendiri. "Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu" , artinya "Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya".
Tetapi kebanyakan manusia tidak tahu dalam arti hakekat:.
Siapakah dirinya ?
Darimanakah dirinya berasal ?
Untuk tujuan apakah hidup didunia ini ?
Kemanakah nanti dirinya akan kembali ?
Dan seabreg pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit untuk dijawab. ..
(ahmad suroso/bersambung)

Senin, 08 Oktober 2007

Allah Memang Begitu Dekat






Lembang, 1 Juni 2007
* Catatan pengalaman spiritual ke Lembang, Bandung, 29-31 Mei 2007
SETELAH melakukan perjalanan jurnalistik Media Gathering PLN Batam yang sangat melelahkan sehari penuh hingga tengah malam dari Batam, Jakarta, dan Bandung, pukul 23.30 Selasa (29/5/2007) aku bersama 11 pimpinan media di Batam tiba di Hotel Puteri Gunung Lembang, Bandung, tempat kami menginap sampai Kamis, 31 Mei.
Aku dapat satu kamar dengan si bos, Pemred Tribun Batam Febby. Badan yang terasa sangat lelah ditambah dinginnya suhu di kawasan yang hanya berjarak sekitar 6 km dari puncak Gunung Tangkubanperahu membuat aku langsung tidur pulas.
Pagi harinya pukul 05.10 saya bangun lalu ambil air wudhu untuk sholat. Matahari belum lagi menampakkan cahayanya, ketika aku keluar dari kamar hotel Puteri Gunung. Embun pagi masih menyelimuti dedaunan tanaman bunga di area hotel yang berdiri di atas tanah berkontur miring.
Hawa dingin dan sejuk menyergap sekujur badan, sehingga setiap desah nafas yang keluar terlihat berhembus menyerupai asap putih. Setelah jogging dan berlari-lari kecil, pandanganku tertumbuk pada sebuah pemandangan yang menakjubkan di bawah lereng bukit belakang hotel Puteri Gunung.
Deretan petak-petak tanaman sayuran, mulai dari sawi, selada, cabai, terong, daun bawang merah, sledri, kobis yang setiap petak dipisahkan deretan pohon kopi membuat aku takjub. Sesuatu yang tidak mungkin aku saksikan di Batam. Subhanallah....subhanallah...subhanallah hanya itu yang terucap dari bibirku terus menerus saat aku sampai dan menyusuri petak-petak tanaman sayuran yang berada di lembah bawah hotel yang memiliki view indah, ditambah suara gemericik air dari selokan selebar satu meter yang mengalir mengapit di kanan kiri area kebun sayur yang cukup luas. Semua pepohonan, sayuran, bunga, bukit-bukit seakan ikut bertasbih.
Inilah bukti-bukti kebesaran Allah yang bisa aku rasakan ketika itu . Saat memandangi sayuran
yang masih terbalut embun berbentuk butiran-butiran air aku merasakan seakan Allah hadir. Inikah bukti dari kebenaran firman Allah di dalam QS Qaaf 50:16 "Wa nahnu aqrobu ilaihi min qoblil warid" bahwa "Sesungguhnya AKU lebih dekat dari urat lehermu".
Ya Allah memang begitu dekat, bahkan Engkau lebih dekat dari penglihatanku, pendengaranku, hidungku, mulutku, lidahku, gerak dan diamku. Bahkan engkau ketujuh unsur tubuhku, bulu, kulit, daging, darah, otot, tulang, sumsumku.
Rasa kagumku pada view eksotis di sekitar hotel mengundang penasaran dalam qolbu; ciptaan-NYA sedemikian indahnya, bagaimana dengan Sang Maha Pencipta?. Ya Allah...aku rindu padaMu.
Suasana batin yang tenang, merasakan 'kehadiran' Sang Khalik membuat aku dapat melupakan kepenatan dan kejenuhan pikiran dari rutinitas kerjaan setiap hari yang telah menghanyutkanku dan sering menutupi mata batinku.
Sesuatu yang kurindu, sesuatu yang ingin kutemui, sesuatu yang ingin kurasakan...seakan hadir disitu. Melalui samudra hati yang tiada bertepi...aku dapat merasakan kehadiran-Mu setiap kutarik dan kuhembuskan nafas perlahan sambil hati mengucap Allah...Allah...Allah, dan lisan melafalkan Subhanallah....Subhanallah....Subhanallah.
"Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka kemanapun engkau menghadap di situlah wajah Allah..."(QS Al Baqarah 2:55).