Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juli 2008

Resep Hidup kaya dan bahagia ala Gede Prama


Sulit Bersyukur? Kunjungi UGD, Panti, Kuburan

SETIAP hari kita melihat semua orang sibuk bekerja guna mencari nafkah. Tidak sekedar nafkah diri dan keluarga yang menjadi tujuan, tetapi setiap orang selalu ingin hidup kaya dan bahagia.

Mah, bagaimana agar hidup kaya dan bahagia? Seorang motivator Indonesia kenamaan Gede Prama membagikan resep kaya dan bahagia kepada masyarakat Batam saat hadir dalam seminar yang diadakan Bank Niaga Cabang Batam dalam even business gathering ; The Art of Life Mastery with Gede Prama di Hotel Novotel Batam, Senin (14/7/08)

Dalam ceramahnya kurang lebih satu jam, motivator asal Bali ini memaparkan tiga resep hidup kaya dan bahagia. Pertama, rajinlah bersyukur. Seorang wanita yang rajin bersyukur tidak akan pernah tua. Bahkan semakin usianya bertambah bukan ketuaan yang didapat tapi bisa tetap awet muda kaena pancaran inner beauty.

Jika Anda kesulitan bersyukur, ada tiga tempat rekreasi yang bisa menimbulkan rasa syukur itu. "Kunjungilah unit gawat darurat (UGD) karena disana terbaring banyak orang yang kondisi kesehatannya parah. Dengan demikian Anda bisa merasakan syukur karena masih diberi kesehatan. Jika tidak juga bisa bersyukur, pergilah ke panti asuhan anak-anak cacat, karena disana banyak orang yang tidak lengkap fisiknya tapi sempurna jiwanya. Banyak orang yang tidak punya tangan dan kaki bisa melukis dengan mulut, menulis, atau bekerja lain. Kalau tidak bisa juga bersyukur, datanglah ke kuburan. Di kuburan Anda bisa melihat, secantik apapun, sekaya apapun, atau sejelek apapun semasa hidupnya, menjadi tidak berdaya terbaring di dalam tanah," papar Gede seperti dilaporkan wartawan Tribun Batam, Menix dan dilansir Tribun Selasa (15/7).

Resep kedua, janganlah hanya mau menerima kelebihan seseorang, tapi terima jugalah kekurangannya. Jika Anda memiliki istri, jangan hanya mau cantiknya saja dan begitu ia buang angin (kentut) langsung disuruh keluar.

"Wanita yang cantik dan baik, biasanya kekurangannya adalah goblok. Sementara lelaki yang tampan dan kaya, kekurangannya adalah tukang selingkuh," ungkapnya. Kelebihan itu sama dengan bunga, sementara kekurangan sama dengan sampah organik.
Jangan pernah salah, bunga dalam beberapa hari bisa menjadi sampah sementara sampah dalam beberapa bulan bisa menjadi bunga, tergantung bagaimana kita mengelolanya. "Menerima kelebihan memang mudah tetapi menerima kekurangan hanyalah orang bijaksana yang bisa melakukannya," kata Gede.

Resep terakhir, sayangilah orang lain tanpa syarat. Untuk hidup bahagia dan membahagiakan orang lain, bisalah kita mencontoh Dalai Lama, biksu kenamaan dari Tibet. Ia berprinsip kalau mau bahagia, praktekkanlah welas asih atau cinta kasih dan bila ingin orang lain bahagia, praktekkan pula welas asih.

Gede berpesan, jadilah seorang kaya yang bijaksana. "Kaya itu ibarat pedang. Kalau tidak pandai menggunakanya bisa mematikan. Gara-gara menjadi kaya orang makan tidak terkontrol yang akhirnya menyebabkan kolesterol dan penyakit jantung. Tetaplah ingat kaya tapi jangan pernah melupakan bahagia," tuturnya.

Jumat, 30 Mei 2008

Eksotisme Borobudur di Malam Waisak 2552



SUASANA magis bercampur merinding membayangkan kehidupan di zaman batu saat memandang stupa candi Borobudur di kegelapan seperti menyergap pikiran dan jiwa takkala aku bersama sekitar 25 anggota rombongan Fam Trip Journalist 2008 Yogyakarta memasuki lapangan Gunadharma di sisi timur Candi Borobudur, pukul 19.30 WIB, Senin malam, 19 Mei Mei 2008 lalu.
Cukup banyak ornamen untuk persembahyangan menghiasi area seputar candi untuk keperluan pembacaan doa dan puja-puja. Sayang rombongan tidak bisa memasuki bangunan utama candi, karena selain faktor keamanan memang ada sebuah imbauan untuk menjaga ketenangan dan kekhusyukan umat Buddha. Ini membuat wartawan asal negara jiran sedikit kecewa.

Selain faktor latar belakang Candi Borobudur yang mistis diterangi oleh cahaya Bulan Purnama, dan sorot lampu 10.000 watt menerangi lapangan Gunadharma, gaung suara para biksu bersama sekelompok kecil umat Buddha yang memanjatkan doa, puja-puja dalam bahasa Tibet, negara tempat lahir Sang Buddha Gautama pada tahun 623 Sebelum Masehi, yang berkumandang dari soundsystem berkuatan 15.000 watt membuat aku merasakan nuansa mistis, seakan berada di alam lain.

Yah, malam itu suasana kompleks candi terbesar di dunia itu berbeda dengan biasanya. Karena seperti dijelaskan Ketua Panitia Puja Bakti Hari Raya Waisak 2552, Hadi Yasin kepada penulis, untuk pertama kalinya dalam sejarah di Candi Borobudur dilaksanakan pembacaan doa, puja-puja selama 24 jam nonstop mulai pukul 14.00 Senin (19/5) sampai pukul 14 keesokan harinya. Pada perayaan Waisak tahun-tahun sebelumnya, pembacaan doa hanya dilakukan di Candi Mendut.

Meskipun berada dalam kegelapan, hanya diterangi cahaya Bulan Purnama, Borobudur malam itu tetap terlihat sangat indah, cantik dan sangat kokoh dan perkasa. Sesekali terlihat bintang komet jatuh dari langit. Sesuatu yang luar biasa, mempunyai nilai spiritualitas yang tinggi dan baik dari ukuran, bentuk mau pun keberadaannya.

Tak habis-habisnya aku merasakan kekaguman atas karya spektakuler nenek moyang bangsa Indonesia abad ke VIII Masehi di zaman Syailendra. Sementara manusia selalu berubah, peradaban kadang terkoyak oleh bencana yang membuat semua kehidupan dan alam berubah, tapi Borobudur tetap kokoh.

Inilah pengalaman yang aku rasakan paling berkesan selama tiga hari (19-21 Mei 2008 lalu) mengikuti program Fam Trip Journalist 2008 bersama 13 wartawan dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand mengunjungi tempat-tempat wisata di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti yang sudah aku tulis di harian Tribun Batam edisi 26-28 Mei 2008 dan aku posting di blogku ini. (Ahmad Suroso)

Selasa, 22 April 2008

UAN Meneror dan Mengikis Kejujuran Siswa

WASPADAI putra-putri kita, karena kian hari sistem pendidikan mengikis kejujuran anak-anak. Berkompetisi untuk mencari keunggulan menuju sebuah evaluasi tapi malah dirusak oleh kecurangan-kecurangan… !

Menarik apa yang diungkapkan Sumatera Barat Intelectual Society (SIS) seperti dilansir Minangkabau News.Com 6 April 2008 yang mencoba mengungkap fenomena kecurangan UAN (Ujian Akhir Nasional) tahun 2007. Yang dilakukan survey terhadap mahasiswa tahun satu di Kota Padang.

Survei ini adalah survei lapangan yang bersifat deskriptif dengan tujuan mengambarkan kenyataan di lapangan apa adanya. Survei ini ditujukan pada 100 orang mahasiswa tahun satu di Kota Padang dengan teknik pengambilan sampel secara random (acak).

Berikut ini dipaparkan temuan survei lapangan beserta analisisnya. Dari total 100 responden, 45 persen sebelum ujian dimulai telah mendapat bocoran soal dan 55 persen lagi tidak mendapat bocoran soal. Dari 45 persen yang mendapat bocoran soal , 9 persen diperoleh dari internet, 67 persen dari teman dan 24 persen dari guru. seterusnya Dari total 100 responden, 30 persen dalam UAN mendapat contekan dari guru dan 70 persen lagi tidak mendapat contekan dari guru.

Namun dalam UAN, teman juga sebagai dewa penyelamat menurut mereka, karena dari total 100 responden, 82 persen dapat contekan dari teman, dan 18 persen lagi tidak. Dalam UAN ada tempat-tempat strategis mereka memperoleh contekan, 43 persen tempatnya di lokal, 3 persen di kafe, 22 persen di WC, 17 persen via SMS, 1 persen lain-lain dan 14 persen tidak ada.

Selanjutnya ditanya lagi, ketika ketahuan ada yang mencontek apakah ada tindakan tegas dari pengawas, hanya 35 persen ada tindakan tegas dari pengawas, dan 65 persen lagi tidak ada tindakan tegas dari pengawas. Artinya membiarkan begitu saja.

Kemudian diketahui dari total 100 responden, ternyata 50 persen ada kesepakatan antara guru dengan teman agar lulus seratus persen dengan catatan harus saling membantu, dan 50 persen lagi tidak ada kesepakatan dengan teman dan guru. Terus ketika ditanya apakah UAN murni dikerjakan sendiri, 88 persen menyatakan tidak murni dia kerjakan sendiri, hanya 22 persen yang mengakui murni ujian dilakukan sendiri.


Ini adalah angka-angka yang cukup membuat kita terenyuh melihatnya, apakah kecemasan dari awal dan stres yang cukup tinggi dialami oleh siswa, orangtua serta guru bahkan pemerintah daerah juga ikut cemas, akan diselamatkan dengan cara-cara yang merusak. Jika memang ini adalah sebuah kompetisi menuju sebuah evaluasi, mengapa tidak membiarkan semua berjalan dengan normal.

Jelas sekali kecurangan itu, terlihat dari total 100 responden, 45 persen sebelum ujian dimulai sudah dapat bocoran soal, terus ada 70 persen dalam ujian mendapat contekan dari guru, selanjutnya dari total responden 82 persen dapat contekan dari teman. Lebih bahaya lagi 50 persen sudah ada kesepakatan sebelum ujian bersama pihak guru dengan siswa untuk saling membantu dalam ujian.

Bagaimana dengan pelaksanaan UAN SMA/SMK tahun 2008 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai Selasa sampai Kamis, 22-24 April? Informasi yang diperoleh dari seorang kepala lembaga bimbingan belajar/tes ternama di Batam, banyak siswa peserta UAN di Batam yang merasa tegang, cemas, sampai stres menghadapi UAN. Fenomena yang mirip-mirip hasil survey di Batam tersebut juga terjadi.

Apalagi bila mengingat standar kelulusannya dinaikkan dari 4,25 (tahun 2007) menjadi 5,25, dan mata pelajaran yang diujikan juga ditambah dari 3 menjadi 6 pada tahun ini. Artinya bila salah satu dari 6 mata pelajaran yang diujikan tidak mencapai angka minimal 5,25, maka otomatis dia tidak lulus alias harus tinggal kelas.

Yang menyedihkan, dari hasil try out dengan soal yang dibuat oleh pihak sekolah bekerja sama dengan sebuah lembaga pendidikan yang digelar beberapa hari sebelumnya di sejumlah sekolah di Batam rendah, tingkat kelulusan kurang dari 30 persen. Bandingkan dengan target yang dipatok sejumlah sekolah dan pihak Dinas Pendidikan Batam yang menargetkan tingkat kelulusan UAN minimal 80 persen. Disinilah peluang ketidakjujuran siswa, guru, dan pihak sekolah muncul.

Ini yang perlu diwaspadai. Karena, hasil penelitian itu menggambarkan bahwa tujuan dari Ujian Akhir Nasional untuk meningkatkan kualitas, sangat jauh dari tujuan peningkatan kualitas itu sendiri, malah yang terjadi adalah ketakutan dan pendistorsian tujuan itu sendiri. Artinya pendidikan bukan menjadikan seseorang itu cerdas, tapi menjadikan seseorang itu alat untuk dinilai dan dihargai.

Padahal menurut terminologi hukum yang dirumuskan Komisi Pemberantan Korupsi (KPK), budaya contek mencontek itu, entah itu dari catatan contekan sendiri, teman, guru itu, atau menyuap guru dengan membawa bingkisan agar nilai matematikanya jeblok didongkrak biar lulus itu termasuk korupsi. Yang dikorupsi, apalagi kalo bukan ilmu. Artinya, selagi masih sekolah, murid sudah dibiasakan untuk berperilaku yang tidak terpuji. Dari pola pikir kayak gini, bibit-bibit korupsi tumbuh dan mengganas di kemudian hari. Pantas saja korupsi merajalela di Indonesia.
Lalu terobosan pendidikan apa yang sebaiknya dilakukan, agar virus bibit budaya korupsi itu tidak berkembang di kalangan generasi muda? (ahmad suroso)

Jumat, 01 Februari 2008

Ketika Iblis Merasuk di Benak Yudi


DIMAKAMKAN - Kakek Rizky, Tatang (67) membopong cucunya yang sudah terbujur kaku dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri, Yudi, Jumat (1/2).

Bayi Empat Bulan Tewas di Tangan Ayah Kandung

JUMAT siang kemarin (1/2) pulang dari Jumatan saat aku buka berita real time/berita terkini di Tribun Jabar.co.id aku penasaran membaca judul berita "Bayi Usia 4 Bulan Disiksa hingga Tewas". Seketika itu aku klik berita itu. Pada alinia pertama diberitakan, "Yudi Junaedi (20), warga Kampung Barulaksana RT 02/14 Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat tega menyiksa Rifki Rahayu, anak kandungnya yang masih berusia empat bulan, hingga tewas, Jumat (1/2) pagi."

Tega benar! Pikirku saat itu. Apalagi setelah mengetahui penyebabnya hanya karena gara-gara kecewa ketika istrinya, Iis mengandung, Yudi berharap anaknya itu adalah perempuan. Namun saat dilahirkan, anaknya itu berjenis kelamin laki-laki. Selain itu, kondisi ekonomi yang morat-marit membuat Yudi sering marah dan emosinya tidak terkendali.

Malamnya ketika membaca kiriman berita selengkapnya kasus tersebut dari email yang dikirim manajer produksi Tribun Jabar, Kang Cecep via email, aku bertambah terkejut membaca cara Yudhi menghabisi anak pertamanya itu. Berita itu selanjutnya diturunkan di halaman satu Tribun Batam hari ini (2/2) bertajuk, "Bayi Tewas di Tangan Ayah Kandung, Rizky Dianggap Pembawa Sial".

Pagi itu pukul 08.00, Yudi membunuh anak kandungnya itu dengan cara memasukkan/menggerojok paksa jari-jarinya ke tenggorokkan bayi malang itu. Darah pun muncrat dari mulut sang bayi. Ibunya, Iis Kartika (18) yang sedang menjemur pakaian kaget dengar jeritan suara bayi dari dalam rumah.

"Saat mengetahui anak saya tengah disiksa oleh bapaknya, saya langsung menghalangi. Akhirnya berhasil berhenti," tutur Iis yang sudah menikah selama 1,5 tahun dengan Yudi. Setelah Iis berhasil merebut sang anak dari tangannya, Yudi tidak langsung pergi. Mungkin karena melihat mulut Rizki berlumuran darah, ia sempat meninggalkan uang Rp 25 ribu untuk biaya berobat anaknya.

Iis yang kalut melihat keadaan anaknya langsung membopong Rizki ke Puskesmas, tak jauh dari rumah mereka. Namun karena petugas Puskesmas tak sanggup mengobatinya, bayi malang itu lalu dilarikan ke klinik Sekolah Staf Pimpinan Polri Lembang. Tetapi nyawanya tak tertolong.

Entah karena himpitan ekonomi atau alasan lainnya, namun yang pasti, Rizky lahir ke dunia tidak dikehendaki oleh ayah kandungnya sendiri. "Suami saya menganggap Rizki lahir tak membawa rezeki. Malah suasana rumah selalu dianggap panas sejak kelahiran Rizki" tutur Iis.
Sejak kelahiran anaknya itu, Yudi selalu berkata kasar terhadap Rizky. Yudi juga dua kali mencoba membunuh bayinya. Pertama, memberi minum minyak kayu putih, tetapi berhasil diselamatkan meskipun menderita sakit berhari-hari. Kemudian pernah diberi makan merica. Lalu bila pulang kerja dan tidak mendapatkan uang, Yudi yang seorang pengumpul barang rongsokan itu, selalu memukul anaknya.

Membaca kisah tragis yang dialami bayi tak berdosa, sungguh susah diterima akal sehat. Betapa tidak, karena setiap orang yang menikah, maka hal pertama yang dirindukan adalah segera memiliki keturunan, ingin memiliki buah hati sebagai Rosululloh saw bersabda, "Anak itu adalah buah hati orangtua". Segala macam usaha akan dilakukan, segalanya akan diberikan, demi datang dan hadirnya sang buah hati.

Saat sang buah hati hadir...maka saat itu seolah semua menjadi tidak berarti. Sungguh satu kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa. Rasa itu berbeda dengan kebahagiaan ketika nikah, rasa itu berbeda dengan kebahagiaan ketika mendapatkan pekerjaan, rasa bahagia yang sebelumnya belum pernah kita rasakan.

Tetapi, entah setan belang mana yang membisiki pikiran Yudi saat berkali-kali tega menyiksa darah dagingnya sendiri. Rasa kemanusiaannya telah hilang sampai titik nadir.

Sungguh-sungguh kebiadaban yang tak dapat dipikirkan, bisikan iblis dari mana yang dianut dan diturut, sungguh iblis mana yang disembah...ketika seorang ayah menganggap bayinya yang masih berusia 4 bulan sebagai pembawa sial, lalu selalu bersikap kasar, memukul, selalu mengancam anaknya akan dibunuh, bila tak punya uang.

Sungguh iblis mana yang sudah merasuk ke dalam dirinya, ketika seorang ayah tega berupaya menghabisi nyawa anak kandungnya dengan cara memberinya minum minyak kayu putih, kemudian memberinya makan merica, dan terakhir yang paling sadis menggerojokkan tangannya ke tenggorokan sang anak sampai menemui ajalnya.
Tidak pernahkah sekalipun mendengar...? Tidak pernahkah sedikitpun terlintas dalam telinganya...? Firman Alloh, "Membunuh satu nyawa tanpa hak, adalah sama dengan membunuh seluruh umat di dunia ini" ???
Merekalah pemilik Kerajaan-kerajaan Allah kata Nabi Isa Alaihi Salam. Merekalah yang masih fitroh..."kullu mauludin yuladu alal fitroh"...
(Ahmad Suroso)
 

Jumat, 21 Desember 2007

Idul Adha kok Berbeda-beda?



IDUL ADHA DI PARANGTRITIS -
Umat Islam melaksanakan salat Idul Adha 1428 H di pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, Kamis (20/12).

Sikapi Perbedaan dengan Hawa Nafsu, No Way


SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, hampir selalu ada perbedaan di dalam menetapkan jatuhnya waktu 10 Zulhijjah sebagai tanda waktunya salat Idul Adha, begitu juga dengan 1 Syawal saat waktunya melaksanakan salat Idul Fitri di tanah air Indonesia. Begitu juga dengan tahun ini. Hari ini (21/12/07) diberitakan, ribuan jemaah Islam Syatariah di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Barat, dan jemaah thoriqoh Naqshobandiyah Jombang, Jawa Timur baru melaksanakan Shalat Idul Adha 1428 Hijriah pada Jumat pagi (21/12).
Beberapa ormas Islam, antara lain Hizbut Thahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia melakukannya pada Rabu (19/12), mengikuti penetapan yang dilakukan pemerintah Arab Saudi. Sementara pemerintah Indonesia sendiri bersama dua ormas Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menetapkan salat Idul Adha 1428 H jatuh pada hari Kamis (20/12).
Munculnya perbedaan itu karena adanya perbedaan metode didalam cara menentukan, yang satu memakai metode hisab/perhitungan untuk menentukan/melihat posisi hilal/ bulan, satunya dengan metode rukyat/ melihat langsung dengan indera mata. Mungkin sebagian umat Islam menjadi bingung dengan adanya perbedaan tersebut. Bahkan tak sedikit yang kemudian mempertentangkannya, sehingga memicu perpecahan di kalangan umat Islam sendiri..
Bagaimana kita seharusnya menyikapi perbedaan ini?
Bagi umat Islam, tidak usah jauh-jauh, cukuplah kita mencontoh kepada Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah. Di dalam urusan perbedaan, Nabi bersabda,"Perbedaan adalah rohmat". Artinya di Islam dihargai adanya perbedaan. Meski sebagian orang tidak meyakini akan hadits ini. Tetapi hal yang lumrah adanya perbedaan, baik perbedaan di dalam memahami ayat-ayat al Quran maupun hadits dan juga perbedaan di dalam mempraktekkan agama Islam.
Perbedaan tidak perlu dipahami sebagai sebuah pertentangan yang harus disatukan, apalagi dianggap sebagai sebuah perselisihan yang akan membawa kepada perpecahan. Sudah sejak masa Rosulullah saw pun, perbedaan itu ada dan ada.
Untuk mensikapi adanya perbedaan itu al Quran mengatakan "Lana a'maluna walakum a'malukum"."Apa yang aku kerjakan ya untuk aku, dan apa yang kamu kerjakan adalah untuk kamu". Inilah yang banyak diceritakan di hadits-hadits bahwa tanggung jawab di hadapan Allah tiap-tiap orang adalah tanggung jawab masing-masingnya.
Yang penting kita saling hormat menghormati pendapat yang berbeda dan perbedaan itu janganlah kemudian ditungganggi hawa nafsu merasa benar sendiri. Akar dari konflik adalah ketika perbedaan yang ada itu ditunggangi oleh hawa nafsu, maka pastilah timbul konflik yang bisa berakibat fatal. Tergantung kemampuan masing-masing di dalam pengendalian hawa nafsunya.
Rosulullah bersabda: "Khoiru nassi anfauhum linnas" "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain". Tidak peduli siapa saja, lintas suku, lintas agama lintas bangsa, yang paling bermanfaat bagi manusia lain adalah sebaik2 manusia. Juga hadits Rosul yang menyampaikan bahwa "Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah pada tetanggamu" Tidak peduli tetangga kita itu beragama hindu, budha, kristen, apapun juga".
Alangkah indahnya seandainya perbedaan diantara sesama umat islam tidak ditunggangi oleh hawa nafsu yang mengakibatkan perpecahan, pertengkaran dan perselisihan. Yang ada adalah saling menghormati perbedaan pemahaman dan keyakinan masing-masing faham. Perbedaan pendapat dipahami sebagai sebuah kewajaran.
Alangkah indahnya bila kehidupan ini diatur dengan dasar pengertian, dengan dasar tolong menolong dalam kebaikan dengan cara berkomunikasi yang lebih dewasa secara sopan dan secara santun. Yang mengkritik memang berniat untuk memperbaiki tanpa memaksakan kehendaknya, yang dikritik menerima dengan lapang dada dan berintrospeksi. Tak ada lagi hinaan dan cacian, tak ada lagi celaan dan makian. Tak ada lagi jalan kekerasan yang ditempuh untuk menyelesaikan perbedaan, apalagi sampai mengedepankan hukum rimba dengan melakukan penyerbuan, pembakaran, pembunuhan. Islam sebagai rahmatan lil alamin harus benar-benar diwujudkan, jangan hanya menjadi jargon di lisan. Semoga. (Ahmad Suroso)

Kamis, 20 Desember 2007

Relevansi Semangat Haji dan Kurban



SUARA gema takbir mulai Rabu kemarin dan Kamis hari ini berkumandang
menandai datangnya hari raya Idul Adha 1428 H. Pelaksanaan salat Idul Adha 1428 H ada perbedaan. Sebagian umat Islam melakukannya Rabu kemarin karena mengikuti ketetapan pemerintah Arab Saudi yang menetapkan wukuf terjadi Selasa (18/12) dan Idul Adha Rabu (19/12). Sedangkan pemerintah Indonesia termasuk dua ormas Islam terbesar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menetapkan Idul Adha Kamis pagi ini.
Tetapi yang pasti di seluruh dunia, kaum muslimin juga merayakan hari pengorbanan ini. Bersama para jamaah haji lainnya, mereka berharap sepenuh hati agar dengan ibadah haji dan berkurban dengan menyembelih hewan kurban itu, kecintaan pada dunia, kecintaan kepada diri, anak, isteri,suami, dan harta jangan sampai melebihi dengan kecintaannya kepada Allah.
Inilah hakekat Idul Adha, yakni sebagai hari raya penghambaan. Idul Kurban yang di Indonesia juga dikenal sebagai lebaran haji adalah hari raya bagi siapa saja yang menganggap dirinya hanyalah seorang hamba yang harus mengorbankan hal yang paling dicintainya kepada Allah.
Apa yang dilakukan para jamaah haji mulai dari mengenakan pakaian ihram,, thawaf, sa'i, wukuf, melempar jumrah, serta amalan ibadah haji lainnya adalah merupakan pengulangan atas sebuah peristiwa sangat agung yang pernah terjadi terhadap Ibrahim dan putranya Ismail yang tercantum dalam Al-Quran surah Ash-Shaffat ayat 102 dan 102.
Berkata Ibrahim As, "Wahai anakku, sungguh aku telah bermimpi. Dalam mimpiku itu, aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?' Ismail lalu menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apapun yang telah diperintahkan. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar".
Percakapan yang pendek ini merekam sebuah gambaran dunia yang bersih serta penuh dengan kerelaan dan cinta. Dua manusia mulia ini, yaitu Ibrahim dan Ismail, telah menunjukkan sebuah konsep penghambaan yang paling agung. Pengorbanan tiada tara yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail itu menyebabkan turunnya rahmat dan keridhoan dari Allah yang Maha Pengasih yang kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba. Ismail sendiri selamat karena yang kemudian disembelih adalah domba yang diturunkan Allah itu.

Haji juga melambangkan persamaan (egalitarianisme). Mulai dari mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kafan pembungkus mayat, yang terdiri dari dua helai kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Ajaran egaliterianisme inilah yang sudah berabad timbul tenggelam dalam sejarah. Ajaran ihram tanpa jahitan yang dipakai jamaah laki-laki adalah bukti ajaran tentang persamaan berakar sangat kuat dalam tradisi asli Islam meski sering dinodai dengan berbagai alasan.
Ibadah haji dan kurban juga menunjukkan semangat ketundukan secara mutlak terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah. Keterpisahan dan hal-hal duniawi yang mengikat dan dari berbagai bentuk hawa nafsu adalah pelajaran terpenting yang harus diserap oleh siapa saja yang menjalankan ibadah haji ini. Dengan semangat persamaan ini tentu kita tidak akan diam melihat ketimpangan sosial di sekitar kita, melihat fakta jumlah orang miskin di Indonesia yang mencapai sekitar 37 juta dari 240 juta dari total jumlah penduduk Indonesia.
Perintah berkurban menjadi masih sangat relevan dengan situasi kita saat ini. Memberikan hewan kurban bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, maupun bagi umat islam yang mampu hanyalah sebagian dari bentuk kesalehan sosial yang harus terus ditumbuhkan dalam jiwa kita. Penting ditanamkan kesediaan hati yang tulus untuk berbagi suka terhadap mereka yang kurang beruntung, mereka yang berada di bawah
Haji juga merupakan manifestasi sesungguhnya dari semua prinsip moral dan semua langkah islam yang digabung menjadi satu. Haji adalah transformasi tertinggi ari keseluruhan fitrah manusia, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial untuk menjalani tugas sebagai rahmatan lil alamin. Akhirnya selamat merayakan Idul Adha 1428 H, semoga kita dapat mengambil hikmah yang tersirat dari pelaksanaan ibadah haji yang puncaknya ditandai shalat Idul Adha. (ahmad suroso)

Tribun Batam, Rabu, 19 Desember 2007

Selasa, 20 November 2007

Sembuhkan Tumor melalui Doa, Mengapa Tidak!

TUMOR OTAK - Erwin Aprilan, orangtua Ummu yang menderita sakit tumor otak saat menerima bantuan dompet pembaca Tribun Rp 7.700.000 dari Ahmad Suroso selaku Koordinator Liputan Tribun Batam, di RSOB, Selasa (20/11)

Ummu Sudah Bisa Melihat
* Pasien Tumor Otak Harapan Hidupnya 5 Persen
* Terima Bantuan Pembaca Tribun Rp 7.700.000

UMMU Yasmin Shafa, bocah penderita tumor otak yang dirawat di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) sejak dua minggu lalu, kini kondisinya mulai membaik. Seperti pernah diberitakan Tribun sebelumnya, Ummu sempat dirawat di RS Awal Bros. Namun, karena keterbatasan biaya, Selasa (6/11/07) lalu bocah ini dipindahkan ke RSOB.
Gadis kecil ini saat kepalanya di Scan di RSOB, diketahui di dalam otaknya terdapat tumor ganas. Dokter mengatakan, harapan hidupnya tinggal lima persen.
Tidak ada pilihan lain, kata dokter anak itu harus dioperasi dan membutuhkan biaya operasi sekitar Rp 150 juta. Itupun tidak ada jaminan dari dokter setelah operasi Ummu akan bisa kembali normal atau sembuh.
"Kalau ada jaminan bisa sembuh bila dioperasi, seribu jalan akan saya usahakan untuk bisa mendapatkan uang itu. Tapi karena tidak ada jaminan, ya saya pasrah pada Allah, karena saya yakin Allah maha penyembuh segala penyakit," harap
Erwin Aprilan, ayah Ummu kepada Tribun, Selasa (20/11/07).
Kehadiran Tribun untuk menyerahkan sumbangan dari pembaca yang terkumpul melalui rekening dompet peduli pembaca Tribun sebesar Rp 7.700.000. Bantuan diterima Erwin Aprilan (37) yang didampingi sang istri Rosmalinda Poranita (28).
Menurut Erwin, kondisi kesehatan Ummu seminggu terakhir terus membaik. Bila sebelumnya, untuk bernafas, ia harus dibantu masker oksigen, kini sudah tidak pakai masker lagi. "Alhamdulillah matanya sudah bisa untuk melihat, dan juga sudah bisa bicara," ujar PNS golongan II Dinas Perhubungan Batam
seraya menambahkan, sebelumnya, mata Ummu memang melek, namun tidak bisa merespon alias tidak bisa melihat.
"Perkembangannya cukup bagus pak. Memang dokter mengatakan harapan anak saya tipis, tapi saya yakin melalui pertolongan Allah, anak saya akan sembuh. Saya hanya mohon dukungan doa dari bapak-bapak, dan masyarakat agar anak saya cepat sembuh tanpa harus operasi," kata Erwin.
Doa...atau penyembuhan alternatif itulah harapan terakhir Erwin untuk bisa menyembuhkan anaknya. Pengobatan melalui doa antara lain diikhtiarkan lewat kelompok majelis zikir Makrifatullah di Baloi Batam, di mana Erwin ikut aktif didalamnya. "Ini air yang sudah di asma'i jamaah Makrifatullah untuk penyembuhan anak saya. Alhamdulillah ada hasilnya," ungkap Erwin menunjuk botol air mineral ukuran 1 liter.
* * *
IKHTIAR penyembuhan melalui doa...itulah alternatif pengobatan yang diyakini Erwin insyallah bisa menyembuhkan putrinya setelah tim medis tidak menjamin operasi menyembuhkan atau menolong nyawa Ummu.
Doa memang merupakan senjatanya orang muslim, sebagaimana banyak disebut didalam Alquran dan hadits, termasuk doa untuk kesehatan. Kuncinya adalah yakin, asal kita yakin Insyallah biqodratillah doa kita akan terkabul, diiijabi Gusti Allah. Urusan langsung dikabulkan atau setelah menunggu lama, itu masalah waktu.
Di sini saya kutip doa untuk kesehatan, dari hadits riyawat Sahabat Anas, "Adzhibil Ba'sa Robbunnaasi Isyfi (isyfinii) antasyaafii laa syifaa'a illa syifaaukaa syifaa an laa yughoodirusaqoman". Artinya: "Walai Tuhan Manusia, Sembuhkanlah dia (saya). Sesungguhnya engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada Kesembuhan kecuali dari-Mu. Kesembuhan yang tidak diiringi dengan sakit lagi."
"Allahumma shallii 'alaa sayyidinaa Muhammadin Habibbil Mahbuubi syaafiil 'ilali Wamufarrijil Kurabi." Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad yang cinta dan dicintai (Allah) yang menghilangkan segala penyakit dan yang menghilangkan segala kesempitan (kesusahan).
Bisa juga ditambah doa, "Allohumma mushoghirol kabir wa mukabirosh shogir, shogir maabii." Artinya: "Ya Allah, Engkau yang mengecilkan yang besar dan membesarkan yang kecil. Kecilkanlah penyakitku ini."
Semoga doa yang terus menerus dipanjatkan keluarga Irwan untuk kesembuhan putrinya bisa menjadi obat yang menyembuhkan, sehingga Ummu bisa tumbuh normal sebagaimana anak-anak umumnya. Hanya Ridho-NYA yang diharapkan.
(ahmad suroso)

Minggu, 11 November 2007

Hari Pahlawan, untuk Siapa?



BAKAR SEMANGAT - Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya saat pertempuran 10 November 1945.

SEMUA orang tahu tanggal 10 November adalah hari Pahlawan untuk memperingati peristiwa heroik pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang dikobarkan oleh Bung Tomo. Peristiwa pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI yang dipimpin pemuda bernama Soetomo dari invansi tentara sekutu pimpinan Inggris itu diperingati secara nasional sebagai Hari Pahlawan.
Setiap instansi resmi pemerintah selalu memperingatinya dengan menggelar upacara bendera.

Tetapi coba kita renungkan sejenak. Seberapa banyak orang atau pemimpin peduli dengan jasa- jasa sang the man behind the gun yang dengan gagah berani memimpin para pemuda Surabaya menggayang tentara sekutu hanya bersenjatakan bambu runcing? Pemerintah sendiri seperti melupakannya, terbukti sampai sekarang pemerintah belum menetapkan almarhum Bung Tomo, pahlawan yang sudah membebaskan kita dari belenggu penjajahan sebagai Pahlawan Nasional.

Memang masih ada ormas yang peduli pada jasa-jasa kepahlawan Bung Tomo, yakni ormas Gerakan Pemuda Ansor, organisasi onderbouw ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama yang Jumat (9/11) lalu memberikan gelar kepada Bung Tomo sebagai pahlawan nasional. Penghargaan itu diserahkan oleh Ketua GP Ansor Syaifullah Yusuf dan diterima oleh anak Bung Tomo, Bambang Sulastomo di gedung DPR RI.

Ironis. Sesak dada ini bila mengingat kenyataan tiadanya penghargaan secara wajar dari pemerintah terhadap pahlawan Surabaya yang berani melawan senjata sekutu yang lengkap dan berbahaya, salah satu tokoh pergerakan nasional yang mengantarkan kita untuk menikmati kemerdekaan ini.

Soal penghargaan pada pahlawan, kita lihat misalnya penghargaan terhadap tokoh kharismatik almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX, raja pertama di Indonesia yang menyatakan bergabung ke pangkuan republik yang baru diproklamirkan, dan sejarahnya ikut mempertahankan kemerdekaan RI dan mengisi pembangunan. Tetapi kenyatannya sampai sekarang, pemerintah tidak menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Menunggu keluarga mengajukan usulan agar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional? Jangan harap itu dilakukan, seperti ditegaskan Sri Sultan HB X dalam dialog di Metro TV belum lama ini, Gubernur DIY itu (begitu juga anak Bung Tomo, Bambang Sulastomo) tidak akan pernah mengajukannya.

Pahlawan atau pejuang sejati memang tidak membutuhkan penghargaan. Tetapi sebagai bangsa yang beradab, seharusnya para pemimpin tahu diri untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan secara proporsional.
Kemanakah nurani-nurani mereka yang menamakan dirinya manusia, yang menamakan dirinya pemimpin republik ini.
Sejarah sudah banyak yang tak tahu.. Sebab banyak yang sibuk berlomba dan beradu. Demi kantong tebal dan uang saku. Sudah sebegini parahkan bangsaku ?
Beginikah sikapmu wahai Indonesia, penghargaanmu pada sang Pahlawan pembela bangsa...!?

Di Hari Pahlawan ini marilah kita renungkan kembali pesan terakhir Dr Soetomo;
"Saudaraku, Pesanku kepadamu, dan saudara seperjuangan semua yang kutinggalkan, bekerjalah terus untuk pergerakan kita, ketauilah olehmu bahwa pergerakan kita masih harus berkembang, harus bersemi dan harus selalu maju. Oleh karena itu sampaikan pesanku kepada saudara-saudaraku semuanya yang tidak dapat mengunjungi kemari. Bersama-sama giat bekerja guna kemajuan pergerakan dan perjuangan kita sehingga tercapai kemerdekaan dan kemulyaan bangsa kita"

(Ahmad Suroso)

Sabtu, 10 November 2007

Moshaddeq Mengaku Salah dan Bertobat


Moshaddeq (kiri) mengangkat tangan bersama pengurus MUI dan Ketua PB NU KH Said Agil Siradj


Moshaddeq Mengaku Salah dan Bertobat

* Setelah mengaku sebagai Nabi Al Masih Al Mawud
* Benarkah Isa akan Turun di Akhir Zaman?

AHMAD Moshaddeq, sang nabi palsu yang selama sebulan terakhir ini menyedot perhatian media massa dan membuat resah umat Islam, khususnya para ulama dan pemerintah akhirnya menyadari kekeliruannya. Pimpinan aliran sesat Al Qiyadah Al Islamiyah yang mempunyai pengikut puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia itu mengaku secara jujur atas segala kesalahannya dalam memahami Islam selama ini, dan memilih bertobat di hadapan para tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) di kantor Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jumat (9/11).
Tobat diawali dengan kata bismillah lalu diikuti kalimat syahadat. "Ini hasil perbincangan dalam dua hari dengan Saudara Said Agil (KH Said Agil Siradj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) terkait masalah yang kontroversial," kata Moshaddeq.
Dalam kesempatan itu Moshaddeq menyerukan kepada seluruh pengikutnya untuk bertobat. Ia juga secara khusus meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada umat Islam di Indonesia. Moshaddeq mengaku sadar, apa yang dilakukannya membuat keresahan dan sebuah kekeliruan besar.
"Selanjutnya saya menyerukan kepada seluruh jamaah Al- Qiyadah agar tetap tenang, istiqomah, dan taubatan nasuha. Saya mengharapkan dengan sungguh-sungguh agar umat Islam bangsa Indonesia, dapat memaafkan saya dan seluruh jamaah kami, sedalam-dalamnya. Selanjutnya, dapatlah kiranya menerima kami sebagai ikhwanfidiin, saudara seagama, seutuhnya," ungkap Moshaddeq.
Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI Ma'ruf Amin, para pengikut Al-Qiyadah yang masih tetap mempertahankan keyakinannya sangat layak untuk tetap dituntut. "Kalau tidak mau bertobat, artinya melanggar dan wajib diadili. Kalau sekarang si Moshaddeq itu sudah kembali ke Islam, lalu anak buahnya sekarang mau ikut siapa lagi," tegas Ma'ruf Amin yang akan meminta Polri dan Kejaksaan Agung untuk tidak menuntut Ahmad Moshaddeq yang sebelumnya dijaring sebagai tersangka kasus penodaan agama..
Sebagaimana dilansir Tribun Batam (10/11), kunci utama yang akhirnya meluluhkan hati Moshaddeq, KH Said Agil memintanya merenungkan ayat 40 Surat Ahzab. Dalam ayat itu dijelaskan berakhirnya nubbuwah, kenabian yaitu Nabi Muhammad SAW.
"Dalil saya sangat kuat. Itu yang akhirnya membuat ia merenung. Nabi Muhammad merupakan nabi penutup dan wahyu telah selesai dengan Al-Quran. Yang menentang, artinya menentang konsensus umat Islam," urai Said Agil
***
SETELAH mengikuti perkembangan pemberitaan kasus Ahmad Moshaddeq yang mengklaim sebagai nabi baru, namun setelah berdiskusi panjang lebar dengan tiga ulama kharismatik dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Agil Siradj, KH Agus Miftah, dan Prof KH Bahctiar Aly akhirnya menyadari kekeliurannya dan mengaku bertobat, muncul pertanyaan mengapa Moshaddeq dulu ngotot mengatakan dialah nabi baru bergelar Al Masih Al Mawud.

Sejauh ini belum ada keterangan di media massa yang menjelaskan atas dasar apa Moshaddeq berani mengklaim sebagai nabi baru bernama Al Masih Al Mawud. Menurut saya mungkin saja Moshaddeq yang mengaku menerima wahyu lewat mimpi bahwa dialah Al Masih yang secara tersirat dijanjikan didalam al Kitab yang akan datang di akhir zaman..
Apalagi di dalam beberapa hadits Nabi disebutkan kemungkinan adanya Nabi setelah Muhammad Rasulullah. Salah satunya di dalam tafsir Durul Mantsur jilid V halaman 204 disebutkan, keterangan dari sahabat Syu'bi RA berkata Syu'bi: Seorang laki-laki berkata di sisi Mughfioh bin Syu'bah, katanya "Sejahterakanlah atas Muhammad khotamul ambiyaa'i tidak ada Nabi setelahnya".
Tetapi sahabat Mughiroh bin Syu'bah menegur: Cukuplah kamu berkata Khotamul Ambiyaa'i, sesungguhnya Isa A'laihi salam akan keluar. Jika dia telah keluar maka sungguh2 adanya beliau itu adalah Nabi sebelumnya dan Nabi sesudahnyanya (Muhammad Rosululloh).
Mungkin ini salah satu hadits yang dijadikan dasar oleh Moshaddeq untuk menafsirkan akan datangnya Isa Al Masih, dan dia mengklaim sebagai Isa Al Masih dimaksud. Pemahaman atas turunnya Isa al-Masih di akhir jaman sudah cukup kuat meresap dimasyarakat. Suatu pemahaman yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak masa anak-anak itu, seakan tertradisikan sehingga segala bentuk perbedaan akan terlibas dengan cepatnya

Tetapi benarkah pemahaman tersebut? Sebagai umat Islam yang haus pada ajaran Islam bukan hanya dari aspek syariat saja tapi juga tasawuf, saya mencoba memandang dengan kacamata yang jernih, dan cara berfikir yang adil dan netral terhadap pemahaman itu. Di sini sedikit saya kutip pendapat dari milis bernama Huttaqi yang satu guru dengan saya di Jombang.
Berawal dari pemahaman yang sederhana tetapi kuat dan sangat mendasar :
1. Bahwa ketika Nabi Isa bin Maryam turun, pastilah membawa tugas dari Allah akan sesuatu.Mustahil seorang Nabi tidak mendapatkan tugas dari Allah akan sesuatu..
2. Apakah Nabi Isa bin Maryam itu turun dengan tugas lamakah yang dibawa beliau ataukah tugas baru. Sedangkan semua tugas Nabi-nabi mulai Adam AS sampai ke Isa semua dirangkum oleh kenabian Muhammad Saw..
3. Kalau tugas baru, bukankah berarti Isa Nabi baru???. Sedangkan Muhammad Saw adalah Khotamul Anbiya-penutup para nabi..

JADI menurut saya, jikalau Isa Bin Maryam turun kembali berati bertentangan dengan Ayat Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah penutup para Nabi. Karena jelas-jelas dalam ayat 40 surat Alhzab Alquran disebutkan. "MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIN MIN RIJAALIKUM WALAAKIN ROSUULALLAHI WAKHOTAMAN NABIYYIENA WAKAANALLAHU BIKULLI SYAI'IN 'ALIEMA" .

Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah Bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah ROSULULLOH DAN PENUTUP NABI-NABI. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(Ahmad Suroso)

Selasa, 06 November 2007

Lagu Jablai...Musik Jahiliyah!?

KUNJUNGI TRIBUN - Mantan rocker era awal 90-an (kedua dari kiri) yang kini lebih dikenal sebagai Mubaligh , Harry Mukti saat bersilaturahmi ke kantor redaksi Tribun Batam, diterima Pemred Tribun Febby Mahendra, Sabtu (3/11/07)

"La lai...la lai...la lai... panggil aku Si Jablai"
Siapa yang tidak ingat reffrain lagi ini. Ya... lagu berjudul Si Jablai bergenre irama dangdut
yang dinyanyikan artis kondang Titi Kamal ini begitu memasyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dari warung remang-remang hingga pub dan kafe-kafe berkelas di hotel berbintang.

Terhadap lagu ini tentu ada yang pro ada pula yang kontra. Yang kontra memandang lagu ini norak, liriknya terkesan mesum. Bahkan di mata mantan rocker terkenal era awal 90-an, Harry Mukti yang kini lebih dikenal sebagai juru dakwah, menyebutnya sebagai lagu jahiliyah. Banyak mudhorotnya.

"Si Jablai itu lagu jahililah. Meskipun syairnya diganti dengan, "Ya Allah...ya Allah...ya Allah," tetap saja itu lagu jahiliyah," cetus Harry Mukti yang melejit namanya sebagai penyanyi lewat lagu Hanya Satu Kata saat bertandang ke kantor Redaksi Tribun Batam di Komplek MCP Batuampar, Batam Sabtu (3/11/07).

Harry Mukti yang kini aktif berdakwah bersama Hizbut Tahrir Indonesia ini mengambil contoh musik yang tidak jahiliyah itu antara lain lagu-lagunya Opick. "Seperti lagu....Bersyukur kepada Alllah...bersyukur sepanjang waktu....dst itu baru lagu yang baik, mengajak umat untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt," simpul Harry Mukti yang kedatangannya ke Tribun didampingi istrinya dan beberapa pengurus Hizbut Tahrir Batam dan Jakarta.

Saat disinggung kemungkinan kembali terjun ke dunia seni sambil berdakwah, Harry yang sudah lebih dari 10 tahun melepas labelnya sebagai penyanyi rocker ini mengaku belum ada rencana ke arah itu. Dia mengaku harus melihat dulu konsepnya mengingat dakwah sifatnya wajib sementara seni hukumnya mubah (dikerjakan tidak apa-apa, tidak dikerjakan juga tidak apa-apa)
Bila Harry menilai seni (musik) hukumnya mubah, sejauh yang saya ketahui ada juga yang berpendapat bahwa musik itu diharamkan dengan memakai banyak dalil-dalil dan keterangan-keterangan. Benarkah penilaian itu? Mari sejenak kita merenung!

Bukankah Adzan itu sunnah di lagukan?
Bukankah membaca al-Quran itu wajib di lagukan?
Begitu merdu suara Adzan berkumandang, begitu indah dan syahdu suara qiro dan qiroah melantunkan ayat-ayat sang Maha Indah.
Maka tidak heran bila Nabi bersabda "Bukanlah umatku mereka yang tidak melagukan al-Quran"
Tidak ingatkah kita apa yang diciptakan penduduk Medinah untuk menyambut kedatangan Rasulullah saw dari Hijrahnya?
Sebuah syair yang benar-benar mengharukan, " Thala'al badru `alaina. Min tsaniyatil wada'i
Wajabasy syukru `alaina, Mada'a lillahid da'i"
Banyak hadits Rasulullah SAW tentang bernyanyi dan bermain musik. Diantaranya seperti diriwayatkan oleh Aisyah,"Ketika Rasulullah saw masuk ke rumahku, disampingku ada dua wanita sedang memainkan rebana sambil bernyanyi, kemudian di hardik oleh Abu Bakar, namun Rasulullah saw bersabda,"Biarkanlah karena setiap kaum punya hari-hari bahagia" (HR.Bukhori )

Beberapa tokoh-tokoh Musik di awal masa Islam. Misalnya, Al Farabi, seorang ulama, sufi, dan juga musisi. Bahkan Imam Ghozali pun sang hujjatul Islam menulis sebuah kitab tentang musik berjudul "Musik dan Ghairah" yang dikalangan barat dikenal dengan judul "Music and Ectasy", konon kitab ini naskah aslinya sudah hilang, tapi masih ada terjemahannya dalam bahasa Inggris dan Perancis.
Menurut sufi besar Imam Ghozali,"musik sangat penting untuk memperoleh "ghairah" nikmat Allah. Dengan musik dan nyanyian seorang sufi lebih cepat memperoleh nikmat perjumpaan dengan Allah.
Bagaimana dengan lagu syair lagu Si Jablai? Setujukah pembaca dengan pendapat Harry Mukti?
Tentu pembaca bebas melakukan penilaian. Tetapi saya pribadi menilai, lagu-lagu yang syairnya menghadapkan pendengaran kepada nafsu hayawan memang lebih baik dihindari.
"Musik adalah salah satu jalan menuju Allah", maka bersegeralah wahai pemusik, untuk berjalan menuju Tuhanmu.