Sudah lebih dari sepekan ini, tepatnya mulai Sabtu, 27 Desember 2008, seluruh dunia disuguhi sebuah serangan udara masif yang dilancarkan jet-jet tempur Israel ke wilayah tanah Palestina di Jalur Gaza. Mulai Sabtu (3/1) malam waktu setempat seribuan personel pasukan darat Israel dari 10.000 pasukan yang disiapkan giliran menyerbu wilayah Gaza, menggunakan sejumlah tank dan dikawal helikopter-helikopter tempur. Sebaliknya para pejuang Palestina menembakkan roket-roketnya terhadap wilayah Israel.
Inilah babak baru peperangan antara zionis Israel yang didukung perangkat-perangkat tercanggih dengan tentara pejuang Hamas yang bersenjata roket. Israel tak hanya membidik pejuang Hamas sebagai target serangan tapi juga penduduk sipil Hamas di kota berpenduduk total 1,5 juta itu. Laporan-laporan kantor berita internasional menunjukkan, jumlah korban serangan Israel yang dimulai sejak sepekan terakhir ini mencapai 414 orang warga Gaza, dan lebih dari 2250 orang menderita luka-luka.
Israel kini menurunkan ribuan pasukan darat masuk ke Gaza karena kecil kemungkinan mencegah serangan roket Qassam pejuang Hamas hanya dari serangan udara. Tapi di darat mereka mesti ingat petaka saat melawan Hizbullah di Lebanon pada 2006. Hasil pertempuran di Lebanon boleh disebut seri. Tapi hasil perang boleh disebut dimenangkan Hizbullah. Gengsi Hizbullah naik, organisasinya makin kuat, dukungan makin besar, persenjataan sekarang makin lengkap, dan semangat makin tinggi.
Jika pasukan Hamas bisa menahan pasukan Israel, seperti Hizbullah menahan Israel di Lebanon, maka posisi Hamas yang berkekuatan 10-15 ribu orang makin kuat. Apalagi jika serangan ini diakhiri dengan gencatan senjata karena, mungkin sekali, dalam kesepakatan gencatan Hamas akan menuntut blokade ekonomi Gaza dibuka. Ini tidak diinginkan Israel karena mereka menghitung kemakmuran Gaza sama dengan memperkuat Hamas yang akan mengancam Israel, mengingat organisasi sayap militer Palestina ini terang-terangan tidak mengakui eksistensi negara Israel.
Tetapi satu hal yang harus menjadi keprihatinan dunia sekarang, warga Gaza kini benar-benar sedang mengalami mimpi buruk. Bukan hanya dibayangi rasa putus asa, tertekan, ketakutan menjadi sasaran serangan tentara Israel, tetapi juga banyak kebutuhan dasar tak bisa terpenuhi, mulai dari kekurangan pangan, kesehatan yang parah, bahan bakar untuk memasak, listrik, obat- obatan. Situasinya lebih layak disebut sebagai pembantaian massal.
Harapan masyarakat internasional agar segera tercapainya gencatan senjata, untuk menghentikan serangan-serangan di luar batas kemanusiaan itu, juga tak terwujud karena para petinggi Tel Aviv justru terus melemparkan ancaman-ancaman serangan. Apalagi Israel nyata-nyata didukung oleh Amerika Serikat yang sudah tiga kali ini sejak serangan dimulai Sabtu lalu (27/12) memveto resolusi PBB tentang seruan penghentian serangan Israel ke Gaza.
Sementara pemimpin negara-negara liga Arab seperti sedang menderita sakit gigi, tidak melakukan upaya-upaya yang siginifikan untuk menekan Israel menghentikan agresinya, melalui tekanan politik ataupun ekonomi. Mereka hanya sekadar mengecam, sehingga rakyat di negara-negara Teluk itu menggelar demo selain mengutuk kebiadaban Israel juga mengecam pemerintahnya yang membiarkan aksi brutal tentara Israel.
Bukan pertama kalinya bangsa Palestina dikhianati para pemimpin Arab. Peristiwa di Gaza ini mengingatkan pembantaian massal yang terjadi di Sabra dan Shatila, yang mengakibatkan ribuan orang Palestina di kedua kamp itu dibantai Israel, dan tidak ada pembelaan sedikitpun dari para pemimpin Arab.
Jadi hal yang patut disayangkan, mengapa pemimpin negara-negara Arab dan Dewan Keamanan PBB tak berdaya menghentikan terjadinya aksi 'pembantaian' massal terhadap rakyat Palestina di Gaza oleh zionis Israel. (ahmad suroso)
Cornet Tribun Batam, 5 Januari 2009
Senin, 05 Januari 2009
Menyayangkan Sikap Pertamina
KELANGKAAN Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di berbagai daerah di tanah air belakangan ini telah membuat masyarakat luas dan kalangan industri menderita dan kebingungan, sekaligus geram. Betapa tidak, dalam jarak waktu yang berdekatan, Pertamina telah memicu keresahan beruntun. Pertama elpiji yang mengalami kelangkaan, kalaupun ada harganya mahal. Belum lagi itu teratasi, kini giliran BBM langka. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai daerah kehabisan stok.
Pertamina sebagai pemegang hak monopoli pengadaan dan pemasaran BBM dengan entengnya melontarkan berbagai dalih penyebab terganggunya persediaan BBM di dalam negeri. Bila saat terjadi kelangkaan gas elpiji beberapa pekan lalu, Pertamina berdalih sedang melakukan perbaikan kilangnya, dan sebab cuaca yang tidak bersahabat, kini, saat berlangsung kelangkaan BBM jenis premium dan pertamax sepekan terakhir ini, perusahaan itu mengemukakan alasan yang terkesan mengada-ada.
Selain beralasan kelangkaan dikarenakan kerusakan sistem on line pemesanan dan penebusan BBM, koneksi ke beberapa bank belum semua dapat beroperasi sehingga sebagian besar pemilik SPBU delivery order (DO) belum bisa dilayani, juga dalihnya yang menggelikan, yakni karena adanya libur panjang, sehingga terjadi keterlambatan distribusi.
Sampai-sampai alasan yang disampaikan pejabat pertamina tersebut membuat Presiden Bambang Susilo Yudhoyono mengaku tidak nyaman, sehingga merasa perlu menegur Pertamina melalui media massa. Kelangkaan itu seharusnya itu tidak terjadi. Apalagi hanya karena alasan tengah libur panjang. Seperti diketahui, pekan lalu terdapat libur bersama nasional yang cukup panjang mulai dari 25 Desember s/d 29 Desember.
"Ada yang membuat saya tidak happy, seperti yang ditulis di media atas keterlambatan pasokan bahan bakar. Ada excuse dari jajaran Pertamina, itu karena hari libur atau karena sistem baru. Menurut saya, tidak ada hari libur kalau untuk melayani masyarakat, keliru itu," sentil Presiden SBY seusai membuka perdagangan pasar saham perdana tahun 2009 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/12).
Presiden menegaskan pelayanan terhadap masyarakat dapat dilakukan dari mana saja. Yang dibutuhkan dari pejabat pemerintah adalah concern terhadap tanggung jawab yang diembanya. Pelayanan masyarakat tidak pernah libur, negara tidak boleh libur. The state is never sleep.
BBM, sebagaimana halnya gas elpiji merupakan bagian dari 9 kebutuhan pokok masyarakat luas, sehingga pengadaan dan distribusinya tidak boleh terganggu.
Terganggunya pasokan dan distribusi menunjukkan Pertamina terkesan tidak profesional.
Apalagi dengan entengnya beralasan karena adanya hari libur semakin menunjukkan lepas tanggungjawab, menyederhanakan masalah yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas. Pertamina tidak mengantisipasi dan memprediksi dampak yang bakal menimpa masyarakat luas. Alasan itu tidak sepantasnya diucapkan seorang pejabat. (ahmad suroso)
Corner Tribun Batam, 6 Januari 2009
Pertamina sebagai pemegang hak monopoli pengadaan dan pemasaran BBM dengan entengnya melontarkan berbagai dalih penyebab terganggunya persediaan BBM di dalam negeri. Bila saat terjadi kelangkaan gas elpiji beberapa pekan lalu, Pertamina berdalih sedang melakukan perbaikan kilangnya, dan sebab cuaca yang tidak bersahabat, kini, saat berlangsung kelangkaan BBM jenis premium dan pertamax sepekan terakhir ini, perusahaan itu mengemukakan alasan yang terkesan mengada-ada.
Selain beralasan kelangkaan dikarenakan kerusakan sistem on line pemesanan dan penebusan BBM, koneksi ke beberapa bank belum semua dapat beroperasi sehingga sebagian besar pemilik SPBU delivery order (DO) belum bisa dilayani, juga dalihnya yang menggelikan, yakni karena adanya libur panjang, sehingga terjadi keterlambatan distribusi.
Sampai-sampai alasan yang disampaikan pejabat pertamina tersebut membuat Presiden Bambang Susilo Yudhoyono mengaku tidak nyaman, sehingga merasa perlu menegur Pertamina melalui media massa. Kelangkaan itu seharusnya itu tidak terjadi. Apalagi hanya karena alasan tengah libur panjang. Seperti diketahui, pekan lalu terdapat libur bersama nasional yang cukup panjang mulai dari 25 Desember s/d 29 Desember.
"Ada yang membuat saya tidak happy, seperti yang ditulis di media atas keterlambatan pasokan bahan bakar. Ada excuse dari jajaran Pertamina, itu karena hari libur atau karena sistem baru. Menurut saya, tidak ada hari libur kalau untuk melayani masyarakat, keliru itu," sentil Presiden SBY seusai membuka perdagangan pasar saham perdana tahun 2009 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/12).
Presiden menegaskan pelayanan terhadap masyarakat dapat dilakukan dari mana saja. Yang dibutuhkan dari pejabat pemerintah adalah concern terhadap tanggung jawab yang diembanya. Pelayanan masyarakat tidak pernah libur, negara tidak boleh libur. The state is never sleep.
BBM, sebagaimana halnya gas elpiji merupakan bagian dari 9 kebutuhan pokok masyarakat luas, sehingga pengadaan dan distribusinya tidak boleh terganggu.
Terganggunya pasokan dan distribusi menunjukkan Pertamina terkesan tidak profesional.
Apalagi dengan entengnya beralasan karena adanya hari libur semakin menunjukkan lepas tanggungjawab, menyederhanakan masalah yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas. Pertamina tidak mengantisipasi dan memprediksi dampak yang bakal menimpa masyarakat luas. Alasan itu tidak sepantasnya diucapkan seorang pejabat. (ahmad suroso)
Corner Tribun Batam, 6 Januari 2009
Sabtu, 03 Januari 2009
Hidup Kami (Warga Gaza) seperti Binatang

Foto:AFP
DEMO DI ISRAEL - Seorang bocah perempuan ikut demo bersama sekitar 100 ribu warga Arab yang tinggal di Israel pada unjuk rasa menentang serangan udara Israel dan roket Hamas, di Kota Kasthin, Israel, Sabtu (3/12).
==Kesaksian Penduduk Jalur Gaza --
Hidup Kami seperti Binatang
PEMBOMAN Israel ke wilayah Jalur Gaza memasuki hari ke delapan Sabtu kemarin (3/1/09). Penduduk Gaza yang tewas terus bertambah menjadi 525 tewas dan 2.250 luka-luka. Untuk mengetahui situasi di Gaza dan bagaimana serangan brutal Israel mempengaruhi kehidupan penduduk Jalur Gaza yang berjumlah 1.5 juta, kantor berita Al Jazeera mewawancarai sejumlah warga Gaza. Berikut ini kesaksian mereka.
Majed Badra, 23, mahasiswa di Universitas Islam Gaza.
Situasi kota Gaza sangat buruk dan tidak menguntungkan. Karena serangan Israel semakin banyak mengenai sasaran rumah-rumah penduduk, masjid, dan universitas. Mereka lebih fokus pada warga sipil.
Tidak ada lagi penduduk yang bekerja di Gaza, dan tidak ada yang kami kerjakan. Kami hanya tinggal di dalam rumah bersama keluarga. Setiap keluarga di Gaza melakukan hal yang sama.
Kami gunakan untuk mendengar serangan udara, dan kami tidak mempunyai cara untuk melindungi diri. Kami hanya tinggal di dalam rumah, mendengar berita di mana Israel melakukan serangan, mendengar suara jet F16 dan helikopter Apache Israel menembak sasaran sambil menunggu apa akan terjadi. Kami tidak siap untuk berperang. Mereka menyerang warga sipil dan anak-anak dan tidak peduli kita bersenjata atau tidak.
Majed, Kota Gaza
Kemarin, rumah adik saya jadi korban serangan Israel. Semua kamar hancur kecuali dapur, tempat dia dan anak-anaknya sembunyi. Allah melindungi mereka.
Dunia melihat orang-orang tak bersenjata Palestina seolah-olah mereka adalah bangsa dengan tentara, seolah-olah kita sama dengan Israel. Mereka berpikir kami mempunyai roket yang menyebabkan banyak kerusakan atau memiliki pengaruh besar. Padahal hal itu tidak benar. Kami yang tidak memiliki apa-apa itu telah menjadi korban serangan Israel di Gaza.
Mengapa tentara Israel menyerang saya universitas dan rumah-rumah dan masjid? Saya tidak tahu jawabannya. Anda harus menanyakan ke mereka (Israel-red). Hari-hari mendatang akan sangat buruk. Akan ada lebih banyak kematian. "
Nida 'Aniss Abu al-Atta, 26, Gaza City, petugas proyek
Semula anak-anak berfikir sedang ada perpecahan baru antara pendukung Hamas dan Fatah. Mereka takut dan mulai menangis dan berlari ke ibu-ibu mereka. Saya merasa marah dengan pemandangan di internal Palestina. Mereka tidak dapat bersatu bahkan sebelum tragedi ini.
Saya benci dengan jalan pikiran pemimpin Hamas yang mencoba mengklaim bahwa kami dapat menghadapi mesin-mesin perang militer yang mengerikan. Orang-orang Palestina sedang berdarah- darah dan berteriak "cukup". Bahkan Presiden kami (Mahmoud Abbas) tidak berdaya yang membuat kami sakit, dan kehilangan kepercayaan pada siapapun.
Saya tidak terlalu berharap pada masyarakat internasional, dunia Arab dan Islam. Bagaimanapun juga mereka tidak akan mampu menolong kami, kalau hanya berteriak dan membakar bendera.
Hamoudi, Tal el Hawa
"Lebih dari tiga gedung telah rata tanah di daerah tempat saya. Dua tetangga saya terbunuh saat mereka berjalan kembali dari sekolah - Yasmeen (16) dan saudara perempuan, Haneen (15). Mereka gadis-gadis tak berdosa.
Di rumah saya, dimana saya tinggal bersama saudara-saudara saya, kakak dan adik perempuan yang masih berumur delapan bulan, kami tidur dalam kegelapan karena tiadanya aliran listrik. Biarkan mereka tahu yang yang terjadi pada abad ke-21 ini, sementara seluruh dunia hanya menonton, dan diam saja. Saya terkejut, betapa murahnya darah orang-orang Palestina.
Amin Asfour, Gaza City, dokter di rumah sakit umum
Situasi di sini sangat sulit. Mereka membidik kita dari mana-mana, semua menjadi target, militer atau bukan. Mereka menggunakan segala jenis bom. Beratnya sampai 500 kg dan dapat menghancurkan bangunan 15 lantai, seperti gempa bumi. Semua orang hidup dalam ketakutan. Anda tidak akan pernah tahu sasaran serangan mereka (Israel).
Kami hanya bisa menunggu bom-bom berikutnya jatuh dan apakah akan mengenai kita atau tetangga. Ini perang. Di rumah sakit, persedian obat-obatan kian menipis, namun kami harus bekerja dengan apa yang kami miliki. Kami kehilangan banyak peralatan dan perlengkapan kerja kami yang sudah kuno Namun para dokter tetap bekerja keras, tidak terpengaruh oleh situasi yang mencekam.
Ghada Snunu, 30, Gaza City, pekerja hak asasi manusia
Apa yang terjadi di sini sungguh luar biasa, benar-benar malapetaka. Kami seperti hidup dalam mimpi. Kami takut dengan nasib diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang kami sayangi. Sepanjang hidup saya, belum pernah merasakan perasaan yang seburuk ini.
Anak-anak, dan keponakan perempuan keponakan saya sangat ketakutan. Mereka bersembunyi di bawah tempat tidur, dan dalam situasi seperti sekarang, saya sama sekali tidak dapat menolong mereka, kecuali menghibur dengan nyanyian yang menyejukkan mereka.
Dunia harus mengambil sikap tegas dan konkret untuk untuk mengakhiri kekerasan terhadap orang-orang kami. Saya sangat marah dengan dunia - kami hanya mendengar kata-kata dan tidak ada tindakan, tidak ada perubahan nyata. Cukup, kita sakit hanya mendengar kata-kata bahkan dari negara-negara Arab.
Hidup kami di Gaza sudah seperti binatang - walaupun mungkin binatang yang kondisinya yang lebih baik. Kami tidak memiliki obat-obatan, makanan, memasak gas, bahan bakar, dan kekuatan. Kami tidak menikmati listrik selama seminggu terakhir ini.
Kondisi psikologis setiap orang di Gaza sangat buruk, apa yang terjadi di sini mendorong kami putus asa. Saya merasa tertekan, sakit dan bosan dengan segala yang terjadi di sekitar kami, di samping karena perseteruan internal orang-orang Palestina antara Hamas dan Fatah.
Meskipun kami berada di bawah kepungan dan serangan yang sedang berlangsung, Hamas dan Fatah masih berjuang. Ini adalah waktu bagi mereka untuk kembali bersatu dan bekerja bersama-sama dan mengakhiri keadaan yang telah memburuk ini.
Pada mulanya saya berpikir bahwa Israel menargetkan Hamas, tetapi kemudian saya melihat rumah-rumah dan gedung dan jalan juga hancur, dan orang-orang tak berdosa tewas dan terluka. Sekarang saya pikir Israel menargetkan Gaza dan bukan Hamas. Ini adalah pembantaian massal. (ahmad suroso)
Dimuat di Tribun Batam, 4 Januari 2009
Jumat, 02 Januari 2009
Transparansi Aturan NPWP
MEMASUKI tahun baru 2009 ini muncul kesibukan baru di konter-konter unit pelaksana fiskal luar negeri (UPFLN) di pelabuhan-pelabuhan dan bandar udara di Indonesia yang melayani rute internasional. Ini seiring dengan mulai diberlakukannya persyaratan harus memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) mulai 1 Januari 2009, bila tidak ingin terkena denda Rp 1 juta untuk penumpang kapal laut, dan Rp 2,5 juta untuk penumpang pesawat tujuan luar negeri.
Di satu sisi, keharusan pembayaran fiskal luar negeri (FLN) mulai 1 Januari 2009 bagi mereka yang tidak memiliki NPWP itu secara umum disambut gembira oleh masyarakat. Sebab selama ini setiap akan ke luar negeri, mereka harus bayar FLN Rp 1 juta. Dengan adanya peraturan baru ini, masyarakat tak perlu lagi bayar FLN Rp 1juta asal bisa menunjukkan NPWP.
Seperti disampaikan sejumlah penumpang tujuan luar negeri dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang pada Kamis (1/2) yang ditemui wartawan. Menurut Yacobus, seorang penumpang yang mengaku sudah 10 tahun lebih mempunyai NPWP, dia tidak pernah merasakan manfaat dari kepemilikan atas NPWP itu. Baru kali ini dia merasakan manfaatnya.
Sekarang dengan NPWP,Yakobus yang kerap mengunjungi anaknya sekolah di luar negeri itu bebas keluar negeri tanpa perlu bayar fiskal. "Tidak ada kendala dalam mengurus bebas fiskal, prosesnya cepat," ujar Yacobus. Meskipun ada juga penumpang yang kaget ketika diminta membayar fiskal Rp 2,5 juta, karena mengaku sama sekali tidak tahu kenaikan dan peraturan baru tersebut.
Namun situasi berbeda terjadi di pelabuhan-pelabuhan internasional di wilayah Kepri, khususnya di Batam, Tanjungpinang dan Karimun. Banyak masyarakat yang hendak ke luar negeri kebingungan dan kaget. Maklum, selama ini masyarakat di Kepri, begitu juga Riau, Padang yang akan pergi ke negeri jiran tidak perlu membayar fiskal asal mempunyai paspor wilayah tersebut. Tetapi aturan bebas fiskal tersebut mulai 1 Januari 2009 tidak berlaku, bila penumpang tidak memiliki NPWP (kecuali untuk anak yang berumur dibawah 21 tahun kebawah).
Akibatnya tak sedikit masyarakat yang mengurungkan niatnya pergi keluar negeri, pada hari pertama dan kedua penerapan FLN, karena belum punya NPWP dan keberatan diminta denda Rp 1 juta. Padahal KPP Batam telah membuat terobosan bahwa tiap wajib pajak yang belum punya NPWP diberi surat pernyataan bersedia membuat NPWP paling lambat tanggal 15 Januari, mereka (sementara) tidak dikenai fiskal saat pergi keluar negeri. Namun karena aturan ini tidak disosialisasikan, beberapa penumpang di Tanjungpinang Jumat kemarin mengaku tetap bayar denda fiskal Rp 1 juta.
Ada juga ketentuan penumpang tidak dikenai fiskal asal bisa menunjukkan surat dispensasi yang dikeluarkan dari Kantor Pajak, berisi informasi bahwa yang bersangkutan sedang mengurus NPWP. Seperti diakui seorang warga Batam yang hampir setiap pekan ke Singapura untuk urusan bisnis. Setelah membeli tiket ferry tujuan Batam-Singapura Kamis (1/1) lalu, oleh petugas UPFLN di terminal ferry Batam Centre ia tidak diminta bayar fiskal karena menunjukkan surat dispensasi dari KPP Batam yang isinya pemberitahuan NPWP masih dalam proses pengurusan.
Persoalannya, banyak masyarakat yang tidak tahu dengan ketentuan dispensasi tersebut. Sementara petugas kantor pajak dan UPFLN juga tidak pro aktif mensosialisasikan ketentuan tersebut. Atau jangan-jangan ada kesengajaan. Soal transparansi aturan-aturan terkait NPWP itulah yang kita harapkan dilakukan petugas KPP Batam ataupun UPFLN.
Sudah menjadi kewajiban petugas untuk memberitahukan ke wajib pajak yang mengurus NPWP, supaya masyarakat tidak merasa dirugikan atau dijebak. Sosialisasi ini penting sekali, khususnya bagi masyarakat Batam, pulau Bintan dan Karimun yang memang selama ini sering bepergian ke negeri jiran untuk urusan bisnis atau keluarga. (ahmad suroso)
Kolom Rubrik Corner Tribun Batam, Sabtu, 3 Januari 2009
Di satu sisi, keharusan pembayaran fiskal luar negeri (FLN) mulai 1 Januari 2009 bagi mereka yang tidak memiliki NPWP itu secara umum disambut gembira oleh masyarakat. Sebab selama ini setiap akan ke luar negeri, mereka harus bayar FLN Rp 1 juta. Dengan adanya peraturan baru ini, masyarakat tak perlu lagi bayar FLN Rp 1juta asal bisa menunjukkan NPWP.
Seperti disampaikan sejumlah penumpang tujuan luar negeri dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang pada Kamis (1/2) yang ditemui wartawan. Menurut Yacobus, seorang penumpang yang mengaku sudah 10 tahun lebih mempunyai NPWP, dia tidak pernah merasakan manfaat dari kepemilikan atas NPWP itu. Baru kali ini dia merasakan manfaatnya.
Sekarang dengan NPWP,Yakobus yang kerap mengunjungi anaknya sekolah di luar negeri itu bebas keluar negeri tanpa perlu bayar fiskal. "Tidak ada kendala dalam mengurus bebas fiskal, prosesnya cepat," ujar Yacobus. Meskipun ada juga penumpang yang kaget ketika diminta membayar fiskal Rp 2,5 juta, karena mengaku sama sekali tidak tahu kenaikan dan peraturan baru tersebut.
Namun situasi berbeda terjadi di pelabuhan-pelabuhan internasional di wilayah Kepri, khususnya di Batam, Tanjungpinang dan Karimun. Banyak masyarakat yang hendak ke luar negeri kebingungan dan kaget. Maklum, selama ini masyarakat di Kepri, begitu juga Riau, Padang yang akan pergi ke negeri jiran tidak perlu membayar fiskal asal mempunyai paspor wilayah tersebut. Tetapi aturan bebas fiskal tersebut mulai 1 Januari 2009 tidak berlaku, bila penumpang tidak memiliki NPWP (kecuali untuk anak yang berumur dibawah 21 tahun kebawah).
Akibatnya tak sedikit masyarakat yang mengurungkan niatnya pergi keluar negeri, pada hari pertama dan kedua penerapan FLN, karena belum punya NPWP dan keberatan diminta denda Rp 1 juta. Padahal KPP Batam telah membuat terobosan bahwa tiap wajib pajak yang belum punya NPWP diberi surat pernyataan bersedia membuat NPWP paling lambat tanggal 15 Januari, mereka (sementara) tidak dikenai fiskal saat pergi keluar negeri. Namun karena aturan ini tidak disosialisasikan, beberapa penumpang di Tanjungpinang Jumat kemarin mengaku tetap bayar denda fiskal Rp 1 juta.
Ada juga ketentuan penumpang tidak dikenai fiskal asal bisa menunjukkan surat dispensasi yang dikeluarkan dari Kantor Pajak, berisi informasi bahwa yang bersangkutan sedang mengurus NPWP. Seperti diakui seorang warga Batam yang hampir setiap pekan ke Singapura untuk urusan bisnis. Setelah membeli tiket ferry tujuan Batam-Singapura Kamis (1/1) lalu, oleh petugas UPFLN di terminal ferry Batam Centre ia tidak diminta bayar fiskal karena menunjukkan surat dispensasi dari KPP Batam yang isinya pemberitahuan NPWP masih dalam proses pengurusan.
Persoalannya, banyak masyarakat yang tidak tahu dengan ketentuan dispensasi tersebut. Sementara petugas kantor pajak dan UPFLN juga tidak pro aktif mensosialisasikan ketentuan tersebut. Atau jangan-jangan ada kesengajaan. Soal transparansi aturan-aturan terkait NPWP itulah yang kita harapkan dilakukan petugas KPP Batam ataupun UPFLN.
Sudah menjadi kewajiban petugas untuk memberitahukan ke wajib pajak yang mengurus NPWP, supaya masyarakat tidak merasa dirugikan atau dijebak. Sosialisasi ini penting sekali, khususnya bagi masyarakat Batam, pulau Bintan dan Karimun yang memang selama ini sering bepergian ke negeri jiran untuk urusan bisnis atau keluarga. (ahmad suroso)
Kolom Rubrik Corner Tribun Batam, Sabtu, 3 Januari 2009
Rabu, 31 Desember 2008
Selamat Memasuki Tahun Politik
KITA baru saja meninggalkan tahun 2008, dan hari ini, Kamis, 1 Januari memulai menapaki tahun baru 2009. Sebagaimana kita ketahui, tahun 2009 selain ditandai oleh adanya ancaman krisis ekonomi nasional yang berdampak pada kemungkinan meningkatnya angka penggangguran, juga akan ditandai oleh kesibukan menghadapi pesta demokrasi Pemilihan Umum 2009, untuk memilih para wakil rakyat yang terhormat dan calon Presiden dan Wakil Presiden RI. Tidak berlebihan bila kita menamai tahun ini sebagai Tahun Politik.
Memang kesibukan menuju pemilu 2009 sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Ini bisa saksikan dari bagaimana eforia para calon wakil rakyat dan anggota DPD mengkampanyekan dirinya sendiri untuk dipilih melalui pemilihan langsung, dengan memasang spanduk, baliho berisi foto-foto terbaiknya dan pesan- pesan berisi ajakan untuk memilih dirinya yang terpasang di pinggir-pinggir jalan dan tempat-tempat strategis. Termasuk memanfaatkan media massa untuk mempromosikan dirinya.
Naluri untuk ikut merasakan nikmatnya kue kekuasaan menghinggapi hampir semua kalangan. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya, ataupun kemampuannya. Apalagi dalam pemilu 2009, syarat calon legislatif terpilih tidak lagi berdasarkan nomor urut, melainkan pada suara terbanyak.
Ketentuan baru itu berdasarkan keputusan MK yang mengabulkan uji materiil atas pasal 214 Huruf a,b,c, d, dan e UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD.
MK memutuskan, caleg terpilih dalam pemilu 2009 tak boleh lagi berdasarkan nomor urut, tetapi harus didasarkan pada suara terbanyak.
Keputusan MK ini menjadi semacam suntikan 'darah segar' yang memacu adrenalin para caleg untuk memenangkan pertarungan menuju kursi dewan. Karena itu memasuki tahun 2009 ini intensitas dari kegiatan kampanye itu diprediksi akan semakin meningkat dan memanas. Mengingat pemilu sudah di depan mata. Waktu yang tersisa untuk mempersiapkan pemilu yang bakal digelar pada 9 April 2009 untuk pemilu legislatif dan 6 Juli 2009 untuk Capres dan Cawapres akan dimanfaatkan betul oleh para caleg dan partai, termasuk tim sukses masing-masing.
Di seantero Tanah Air hiruk-pikuk kampanye pemilu legislatif akan bergema sampai menjelang hari pencentangan di awal April itu. Berbagai cara dan strategi akan dipakai oleh para caleg maupun aktifis partai untuk merebut simpati masyarakat agar memilih yang bersangkutan, termasuk tidak menutup kemungkinan politik uang.
Karena untuk mendapat suara terbanyak tidak bisa lagi duduk manis menunggu hasil pemilu, seperti ketika pemilu masih berdasarkan nomor urut. Calon legislatif harus bekerja keras dan cerdas di daerah pemilihan untuk merebut sebanyak-banyaknya kepercayaan rakyat. Berlaku pepatah kuno tak kenal maka tak sayang.
Sayangnya, semangat para caleg dan fungsionaris partai untuk memenangkan pemilu kurang diimbangi oleh kesiapan aparat pelaksana dan pengawas pemilu, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas. Persiapan itu boleh dibilang masih mengkhawatirkan. Satu di antaranya kesulitan mencari orang yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di daerah. Padahal pemilu tinggal tiga bulan lagi.
Kinerja KPU juga sangat lamban. Terbukti masih ada sejumlah peraturan pelaksana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang hingga kini belum dibuat oleh KPU. KPU juga tidak memiliki prioritas apa yang harus dikerjakan. Contohnya, mereka mengutamakan sosialisasi ke luar negeri daripada sosialisasi pemilu di dalam negeri.
Demikian besarnya kekhawatiran publik melahirkan pertanyaan apakah Pemilu 2009 bisa dilaksanakan dengan baik. Sampai- sampai mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengusulkan agar pemilu ditunda sampai tahun 2010. Selamat memasuki tahun politik 2009. Semoga Anda termasuk yang beruntung. (ahmad suroso)
Corner, Tribun Batam, 1 Januari 2009
Memang kesibukan menuju pemilu 2009 sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Ini bisa saksikan dari bagaimana eforia para calon wakil rakyat dan anggota DPD mengkampanyekan dirinya sendiri untuk dipilih melalui pemilihan langsung, dengan memasang spanduk, baliho berisi foto-foto terbaiknya dan pesan- pesan berisi ajakan untuk memilih dirinya yang terpasang di pinggir-pinggir jalan dan tempat-tempat strategis. Termasuk memanfaatkan media massa untuk mempromosikan dirinya.
Naluri untuk ikut merasakan nikmatnya kue kekuasaan menghinggapi hampir semua kalangan. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya, ataupun kemampuannya. Apalagi dalam pemilu 2009, syarat calon legislatif terpilih tidak lagi berdasarkan nomor urut, melainkan pada suara terbanyak.
Ketentuan baru itu berdasarkan keputusan MK yang mengabulkan uji materiil atas pasal 214 Huruf a,b,c, d, dan e UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD.
MK memutuskan, caleg terpilih dalam pemilu 2009 tak boleh lagi berdasarkan nomor urut, tetapi harus didasarkan pada suara terbanyak.
Keputusan MK ini menjadi semacam suntikan 'darah segar' yang memacu adrenalin para caleg untuk memenangkan pertarungan menuju kursi dewan. Karena itu memasuki tahun 2009 ini intensitas dari kegiatan kampanye itu diprediksi akan semakin meningkat dan memanas. Mengingat pemilu sudah di depan mata. Waktu yang tersisa untuk mempersiapkan pemilu yang bakal digelar pada 9 April 2009 untuk pemilu legislatif dan 6 Juli 2009 untuk Capres dan Cawapres akan dimanfaatkan betul oleh para caleg dan partai, termasuk tim sukses masing-masing.
Di seantero Tanah Air hiruk-pikuk kampanye pemilu legislatif akan bergema sampai menjelang hari pencentangan di awal April itu. Berbagai cara dan strategi akan dipakai oleh para caleg maupun aktifis partai untuk merebut simpati masyarakat agar memilih yang bersangkutan, termasuk tidak menutup kemungkinan politik uang.
Karena untuk mendapat suara terbanyak tidak bisa lagi duduk manis menunggu hasil pemilu, seperti ketika pemilu masih berdasarkan nomor urut. Calon legislatif harus bekerja keras dan cerdas di daerah pemilihan untuk merebut sebanyak-banyaknya kepercayaan rakyat. Berlaku pepatah kuno tak kenal maka tak sayang.
Sayangnya, semangat para caleg dan fungsionaris partai untuk memenangkan pemilu kurang diimbangi oleh kesiapan aparat pelaksana dan pengawas pemilu, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas. Persiapan itu boleh dibilang masih mengkhawatirkan. Satu di antaranya kesulitan mencari orang yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di daerah. Padahal pemilu tinggal tiga bulan lagi.
Kinerja KPU juga sangat lamban. Terbukti masih ada sejumlah peraturan pelaksana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang hingga kini belum dibuat oleh KPU. KPU juga tidak memiliki prioritas apa yang harus dikerjakan. Contohnya, mereka mengutamakan sosialisasi ke luar negeri daripada sosialisasi pemilu di dalam negeri.
Demikian besarnya kekhawatiran publik melahirkan pertanyaan apakah Pemilu 2009 bisa dilaksanakan dengan baik. Sampai- sampai mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengusulkan agar pemilu ditunda sampai tahun 2010. Selamat memasuki tahun politik 2009. Semoga Anda termasuk yang beruntung. (ahmad suroso)
Corner, Tribun Batam, 1 Januari 2009
Video Hot Langgar UU Pornografi
SEBUAH video hot sepasang pekerja beredar luas dari HP ke HP milik para penghuni beredar di dormitori (asrama pekerja) di Batam. Beberapa pekerja yang menyimpan rekaman adegan mesum itu mengaku mengenal kedua pemerannya. Meski demikian, belum diketahui persis siapa sebenarnya sepasang muda-mudi itu. Juga belum diketahui siapa yang telah menyebarkan rekaman video mesum tersebut.
Rekaman berdurasi 10 menit itu menggambarkan keduanya beradegan hot, meski tidak sampai adegan persenggamaan, atau telanjang. Dari tayangan yang diperoleh Tribun, tampak jelas yang membuat rekaman si cowok. Dia menyetel kamera yang kemungkinan diletakkan di atas karang. Kemudian dia mendekati ceweknya yang duduk di batu karang pinggir pantai untuk memastikan adegan mereka terekam dengan baik. Setelah itu baru mereka melakukan adegan panas.
Adegan layak sensor itu sudah lama menjadi pembicaraan hangat kalangan penghuni dormitori di Batam. Celakanya, video mesum itu sudah beredar luas dan tidak menutup kemungkinan sudah sampai ke tangan sejumlah remaja Kota Batam. "Mereka keterlaluan. Terlalu berlebihan. Masak melakukan adegan begituan di tempat terbuka," sesal seorang pekerja seperti dikutip Tribun, Selasa (30/12).
Kita patut prihatin dan menyayangkan atas kenekatan dua pekerja tersebut yang berani melakukan adegan hubungan intim di tempat terbuka di pinggir pantai yang diperkirakan di daerah kepulauan Barelang. Apalagi mereka merekamnya dengan perasaan bangga, terlihat dari ekspresi si cowok yang melakukannya sambil sesekali tersenyum di depan kamera, dan akhirnya beredar luas.
Soal pembikinan rekaman dan penyebaran video mesum sampai ke masyarakat luas ini sebenarnya sudah berkali-kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Inilah salah satu dampak negatif yang tidak bisa terhindarkan dari perkembangan teknologi, khususnya HP berkamera. Dengan Handphone atau kamera orang bisa bebas merekam apa yang diinginkan termasuk adegan panas dengan pasangannya.
Masalahnya ketika adegan mesum itu dilakukan di tempat terbuka dan kemudian beredar luas ke masyarakat ini akan masuk ranah hukum. Ini bisa dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap Undang Undang Pornografi yang sudah disahkan DPR beberapa waktu lalu. Didalam UU tersebut yang dimaksud definisi pornografi adalah: “Materi seksualitas melalui media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”.
Di dalam definisi tertulis "membangkitkan hasrat seksual” dan “melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Jelas kedua pekerja berlainan jenis itu telah melakukan perbuatan yang melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat, karena dilakukan di tempat terbuka. Lebih-lebih adegan itu direkam beredar di masyarakat. Di sinilah unsur membangkitkan hasrat seksual terpenuhi.
Kasus ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita, khususnya para pekerja, pelajar, orangtua, kalangan dunia pendidikan, pemerintah dan kepolisian. Jangan sampai kasus pembuatan dan penyebaran rekaman video panas itu terjadi lagi. Orangtua perlu sesekali mengecek HP putranya, siapa tahu tersimpan rekaman adegan porno.
Karena pornografi bukan hanya mengganggu etika kaum beradab tapi juga dipercaya membawa banyak masalah kemasyarakatan; kehamilan remaja, penyebaran penyakit menular melalui seks, kekerasan seksual, keruntuhan nilai-nilai keluarga, aborsi, serta bahkan pedophilia dan pelecehan perempuan.
Di dalam pasal 21 UU Pornografi disebutkan: “Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.” Di sinilah peran serta masyarakat sebagaimana diatur dalam UU tersebut dapat melaporkan pelanggaran UU, menggugat ke pengadilan, melakukan sosialisasi peraturan, dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat. (***)
Corner Tribun Batam, 31 Desember 2008
Rekaman berdurasi 10 menit itu menggambarkan keduanya beradegan hot, meski tidak sampai adegan persenggamaan, atau telanjang. Dari tayangan yang diperoleh Tribun, tampak jelas yang membuat rekaman si cowok. Dia menyetel kamera yang kemungkinan diletakkan di atas karang. Kemudian dia mendekati ceweknya yang duduk di batu karang pinggir pantai untuk memastikan adegan mereka terekam dengan baik. Setelah itu baru mereka melakukan adegan panas.
Adegan layak sensor itu sudah lama menjadi pembicaraan hangat kalangan penghuni dormitori di Batam. Celakanya, video mesum itu sudah beredar luas dan tidak menutup kemungkinan sudah sampai ke tangan sejumlah remaja Kota Batam. "Mereka keterlaluan. Terlalu berlebihan. Masak melakukan adegan begituan di tempat terbuka," sesal seorang pekerja seperti dikutip Tribun, Selasa (30/12).
Kita patut prihatin dan menyayangkan atas kenekatan dua pekerja tersebut yang berani melakukan adegan hubungan intim di tempat terbuka di pinggir pantai yang diperkirakan di daerah kepulauan Barelang. Apalagi mereka merekamnya dengan perasaan bangga, terlihat dari ekspresi si cowok yang melakukannya sambil sesekali tersenyum di depan kamera, dan akhirnya beredar luas.
Soal pembikinan rekaman dan penyebaran video mesum sampai ke masyarakat luas ini sebenarnya sudah berkali-kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Inilah salah satu dampak negatif yang tidak bisa terhindarkan dari perkembangan teknologi, khususnya HP berkamera. Dengan Handphone atau kamera orang bisa bebas merekam apa yang diinginkan termasuk adegan panas dengan pasangannya.
Masalahnya ketika adegan mesum itu dilakukan di tempat terbuka dan kemudian beredar luas ke masyarakat ini akan masuk ranah hukum. Ini bisa dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap Undang Undang Pornografi yang sudah disahkan DPR beberapa waktu lalu. Didalam UU tersebut yang dimaksud definisi pornografi adalah: “Materi seksualitas melalui media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”.
Di dalam definisi tertulis "membangkitkan hasrat seksual” dan “melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Jelas kedua pekerja berlainan jenis itu telah melakukan perbuatan yang melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat, karena dilakukan di tempat terbuka. Lebih-lebih adegan itu direkam beredar di masyarakat. Di sinilah unsur membangkitkan hasrat seksual terpenuhi.
Kasus ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita, khususnya para pekerja, pelajar, orangtua, kalangan dunia pendidikan, pemerintah dan kepolisian. Jangan sampai kasus pembuatan dan penyebaran rekaman video panas itu terjadi lagi. Orangtua perlu sesekali mengecek HP putranya, siapa tahu tersimpan rekaman adegan porno.
Karena pornografi bukan hanya mengganggu etika kaum beradab tapi juga dipercaya membawa banyak masalah kemasyarakatan; kehamilan remaja, penyebaran penyakit menular melalui seks, kekerasan seksual, keruntuhan nilai-nilai keluarga, aborsi, serta bahkan pedophilia dan pelecehan perempuan.
Di dalam pasal 21 UU Pornografi disebutkan: “Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.” Di sinilah peran serta masyarakat sebagaimana diatur dalam UU tersebut dapat melaporkan pelanggaran UU, menggugat ke pengadilan, melakukan sosialisasi peraturan, dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat. (***)
Corner Tribun Batam, 31 Desember 2008
Minggu, 28 Desember 2008
Memaknai Tahun Baru Hijriah dan Masehi
DALAM sepekan ke depan, kita akan melewati dua tahun baru sekaligus, yakni Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1430 Hijriah yang bertepatan dengan hari Senin, 29 Desember 2008 dan Tahun Baru kalender Masehi, Kamis, 1 Januari 2009. Bila pergantian tahun baru sebelumnya (2008) bangsa Indonesia sedang dalam kondisi diuji oleh berbagai bencana alam yang datang silih berganti, pergantian tahun baru menuju 2009 pun bangsa Indonesia juga sedang dihadapkan pada kondisi buruk, yakni krisis ekonomi dunia.
Krisis finansial dan ekonomi dunia pada tahun 2008 yang bermula dari krisis kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage di Amerika Serikat berimbas ke negara- negara maju jatuh ke jurang resesi. Krisis ini juga menghantam perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia, dan diprediksi tahun depan kondisinya tidak lebih baik. Sampai saat ini para pembuat kebijakan di seluruh dunia juga masih bergulat mengusir krisis, dan belum menemukan formula yang tepat untuk mengatasi krisis global tersebut.
Karena itu alangkah baiknya pergantian tahun baik tahun baru Hijrah maupun tahun baru Masehi disikapi dengan perbuatan positif. Bila selama ini, penyambutan datangnya tahun baru Masehi diidentikan dengan hura-hura, seyogyanya tahun ini dijadikan sebagai moment untuk membangkitkan rasa solidaritas dan saling tolong menolong terhadap saudara-saudara kita yang terkena dampak langsung krisis ekonomi, baik mereka yang terkena PHK, maupun saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan ekonomi.
Bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam sewajarnya tahun baru Hijriah disikapi dan diisi dengan perbuatan yang bermanfaat bagi orang banyak. Apalagi tanggal 1 Muharram itu merupakan sejarah yang sangat bermakna, ketika 1430 tahun lalu Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya hijrah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah mengilhami setiap pribadi muslim untuk senantiasa optimis bahwa di mana ada kemauan dalam upaya kebenaran, di situ ada jalan pertolongan Tuhan.
Contohnya Rasul Muhammad SAW dan para sahabatnya (muhajirin) mendapatkan dukungan dan bantuan dari masyarakat Madinah (anshar). Lebih dari itu antara muhajiran dan anshar memiliki tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) yang sangat kuat, lebih dari ikatan keluarga. Karena itu tahun baru ini hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk senantiasa memelihara dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah antar sesama umat.
Hendaknya senantiasa meningkatkan kepedulian dan perhatian, seperti saat ini setidaknya mendoakan saudara-saudara kita bangsa Palestina yang Sabtu (27/12) dan Minggu kemarin dibombardir oleh zionis Israel di tanah air mereka sendiri (Gaza) menewaskan sedikitnya 270 penduduk Gaza dan melukai sedikitnya 700 orang, agar segera mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, juga terhadap umat Islam tertindas lainnya.
Peristiwa tahun baru Hijriah bukanlah sekadar peringatan tanpa bekas, namun hendaknya menjadi momen penting untuk bangkit demi kemajuan dan kejayaan umat dan manusia secara universal. Menjadi moment untuk memperbaiki diri, "hijrah" dari yang buruk menjadi lebih baik.
Segala kemajuan dan keberhasilan yang sudah kita raih tahun kemarin harus kita usahakan untuk terus mengalami peningkatan yang signifikan, sementara kekurangan dan kesalahan yang sengaja kita lakukan atau tidak harus kita tinggalkan.
Moment menghadapi pergantian tahun -apakah Masehi atau Hijriah- seharusnya mendorong siapa pun untuk mengoreksi diri, mengevaluasi diri, atas segala perencanaan, perbuatan yang telah dilakukan pada tahun kemarin. Selanjutnya berupaya mencapai hasil atau prestasi lebih baik dibanding sebelumnya.
Memulai untuk membuka lembaran hidup baru, dengan meningkatkan semangat solidaritas, saling tolong menolong, mengembangkan toleransi tanpa memandang suku, agama, etnis, daerah asal, dan bahasa. Kalimat ini yang mungkin pantas untuk kita ucapkan di awal tahun baru Hijriah 1430 dan tahun baru Masehi 2009. (ahmad suroso)
Terbit di Corner Tribun Batam, 29 Desember 2008 M/1 Muharram 1430 H
Krisis finansial dan ekonomi dunia pada tahun 2008 yang bermula dari krisis kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage di Amerika Serikat berimbas ke negara- negara maju jatuh ke jurang resesi. Krisis ini juga menghantam perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia, dan diprediksi tahun depan kondisinya tidak lebih baik. Sampai saat ini para pembuat kebijakan di seluruh dunia juga masih bergulat mengusir krisis, dan belum menemukan formula yang tepat untuk mengatasi krisis global tersebut.
Karena itu alangkah baiknya pergantian tahun baik tahun baru Hijrah maupun tahun baru Masehi disikapi dengan perbuatan positif. Bila selama ini, penyambutan datangnya tahun baru Masehi diidentikan dengan hura-hura, seyogyanya tahun ini dijadikan sebagai moment untuk membangkitkan rasa solidaritas dan saling tolong menolong terhadap saudara-saudara kita yang terkena dampak langsung krisis ekonomi, baik mereka yang terkena PHK, maupun saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan ekonomi.
Bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam sewajarnya tahun baru Hijriah disikapi dan diisi dengan perbuatan yang bermanfaat bagi orang banyak. Apalagi tanggal 1 Muharram itu merupakan sejarah yang sangat bermakna, ketika 1430 tahun lalu Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya hijrah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah mengilhami setiap pribadi muslim untuk senantiasa optimis bahwa di mana ada kemauan dalam upaya kebenaran, di situ ada jalan pertolongan Tuhan.
Contohnya Rasul Muhammad SAW dan para sahabatnya (muhajirin) mendapatkan dukungan dan bantuan dari masyarakat Madinah (anshar). Lebih dari itu antara muhajiran dan anshar memiliki tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) yang sangat kuat, lebih dari ikatan keluarga. Karena itu tahun baru ini hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk senantiasa memelihara dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah antar sesama umat.
Hendaknya senantiasa meningkatkan kepedulian dan perhatian, seperti saat ini setidaknya mendoakan saudara-saudara kita bangsa Palestina yang Sabtu (27/12) dan Minggu kemarin dibombardir oleh zionis Israel di tanah air mereka sendiri (Gaza) menewaskan sedikitnya 270 penduduk Gaza dan melukai sedikitnya 700 orang, agar segera mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, juga terhadap umat Islam tertindas lainnya.
Peristiwa tahun baru Hijriah bukanlah sekadar peringatan tanpa bekas, namun hendaknya menjadi momen penting untuk bangkit demi kemajuan dan kejayaan umat dan manusia secara universal. Menjadi moment untuk memperbaiki diri, "hijrah" dari yang buruk menjadi lebih baik.
Segala kemajuan dan keberhasilan yang sudah kita raih tahun kemarin harus kita usahakan untuk terus mengalami peningkatan yang signifikan, sementara kekurangan dan kesalahan yang sengaja kita lakukan atau tidak harus kita tinggalkan.
Moment menghadapi pergantian tahun -apakah Masehi atau Hijriah- seharusnya mendorong siapa pun untuk mengoreksi diri, mengevaluasi diri, atas segala perencanaan, perbuatan yang telah dilakukan pada tahun kemarin. Selanjutnya berupaya mencapai hasil atau prestasi lebih baik dibanding sebelumnya.
Memulai untuk membuka lembaran hidup baru, dengan meningkatkan semangat solidaritas, saling tolong menolong, mengembangkan toleransi tanpa memandang suku, agama, etnis, daerah asal, dan bahasa. Kalimat ini yang mungkin pantas untuk kita ucapkan di awal tahun baru Hijriah 1430 dan tahun baru Masehi 2009. (ahmad suroso)
Terbit di Corner Tribun Batam, 29 Desember 2008 M/1 Muharram 1430 H
Langganan:
Postingan (Atom)
