Senin, 10 Desember 2007

Dompetku Hilang, Pikiranku Melayang


SEHARI setelah aku tiba di mes Tribun di Batam dari Yogyakarta membawa dagangan batik satu karung ditambah dua tas ransel, Kamis pagi itu, 6 Desember 2007 aku masih bisa tersenyum setelah sahabat saya, Uly datang ke mes membayar kontan pesanan batik dan sarung bantal senilai Rp 1.100.000. Sejam kemudian, sekitar pukul 10 aku ke Pasar Raya Batam Center belanja sayur, Maklum jadi bulok alias bujang lokal, harus masak sendiri.
Siangnya pukul 13.00, Ompung, panggilan akrab Redpel Tribun Richard Nainggolan datang naik mobil Suzuki APV hitam inventaris kantor Tribun Batam ke mes nyamperin aku pergi ke kantor. Namun, sebelum ke kantor, Ompung aku ajak mampir ke rumah Yuni, mantan kasir Tribun yang juga pesan dagangan batik senilai Rp 2,5 jutaan. Dari rumah Yuni baru kami meluncur ke kantor.
Setelah beberapa menit sampai di kantor, betapa terkejutnya aku menyadari dompetku berisi uang Rp 1,2 juta dan surat-surat penting milikku tidak ada lagi di kantong celana maupun jaket dan baju yang kupakai. Surat-surat penting itu mulai KTP, SIM C, Kartu ATM Bank Danamon, dan ID Card karyawan Harian Tribun Batam, semua atas namaku, serta STNK sepeda motor Honda Supra Fit Nomor Polisi: BP 3004 DI atas nama PT Tribun Media Grafika, Batam (penerbit Harian Tribun Batam).
Saat itu aku menduga, dompetku kalau tidak tercecer di pasar ya di rumah. Sehingga sekitar pukul 18.00 aku pulang ke mes mengecek. Namun setelah aku obok-obok sudut-sudut mes, terutama kamarku, dompetku tetap tidak kutemukan, badanku langsung lemas, pikiran kalut. Selain memikirkan uangku Rp 1,2 juta yang tersimpan di dalam dompet, aku membayangkan kesulitan yang akan aku alami harus mengurus kembali surat-surat tersebut, bila dompet itu benar-benar hilang.
Jumat pagi aku diberitahu teman kantor tentang adanya "orangtua" di Perumahan Tiban Ayu, bernama Pak Endang yang bisa menolong menemukan dompet yang hilang. Aku segera meluncur ke alamat dimaksud, tetapi tidak ketemu, karena yang bersangkutan ternyata sedang berada di Jakarta dan, baru Sabtu berencana pulang.
Setelah tiga hari pikiran tak bisa tenang, Sabtu sore (7/12) aku pergi ke rumah Pak Endang, yang dikenal sebagai orang tua atau pintar' yang memiliki kemampuan batin dapat menerawang hal-hal gaib, di Perumahan Tiban Ayu, Batam. Dari Pak Endang ini, aku mendapat keterangan kalau dompet milikku terjatuh di Pasar dan dipungut seorang wanita.
"Ya saya akan bantu bapak, supaya wanita itu tergerak mengembalikan surat-surat penting milik bapak. Kalau besok (Senin,10/12) dia ngeposkan, berarti tiga atau empat hari lagi akan nyampe ke bapak. Tunggu saja, Insyaallah surat-suratnya dikembalikan, tapi kalo uangnya ya diikhlaskan saja," ujar Pak Endang menghibur.
Tiga hari setelah kehilangan dompet tersebut, pikiranku memang merasa galau, antara menyesali kecerobohanku dengan nasib sial yang kualami. Apalagi saat itu belum ada petunjuk dimana dompet itu jatuh. Baru setelah aku bertemu dengan Pak Endang, hatiku seperti dibuka
untuk bersikap ikhlas dan sabar menerima musibah kehilangan dompet itu sambil tak lupa terus memanjatkan doa ke Rabbul Izzati. "Ya Allah, kabulkanlah permohonanku agar dompet beserta surat-surat penting milikku itu kembali".
Mungkinkah ini tanbih, peringatan yang diberikan Allah kepadaku? Wallahu a'lam.

Minggu, 25 November 2007

Terbentuk Forum Bahasa Media Massa Kepri


PENGURUS FBMM KEPRI - Saya (paling kanan) Pengurus Forum Bahasa Media Massa Provinsi Kepri, dan Ketu FBMM pusat (pakai batik), Kepala Dinas Pendidikan Batam Muslim Bidin (ketiga dari kiri) foto bersama usai dilantik di kampus Politeknik Batam, Minggu, 25 Desember 2007.

Bahasa Indonesia Hadapi Tantangan Terberat
BATAM, TRIBUN - Bahasa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan paling berat, menyusul kecenderungan masyarakat dan sebagian pejabat pemerintah lebih menyukai menggunakan istilah asing daripada menggunakan bahasa Indonesia. Pendapat tersebut disampaikan Ketua Forum Bahasa Media Massa (FBMM) pusat, TD Asmadi seusai melantik Pengurus FBMM Provinsi Kepri di kampus Politeknik Batam, Minggu (25/11).
"Misalnya kita bilang peduli, orang bilang concern. Kita bilang wacana, orang bilang diskursus. Kita sebut Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia (KEKI), orang lebih suka bilang SEZ (Special Economic Zone). Ini menjadi tugas media massa, khususnya FBMM untuk membantu mengembangkan bahasa Indonesia," ujar Asmadi, mantan wartawan senior Kompas.
"Sebetulnya kalau kita terus menerus pakai istilah KEKI, maka SEZ akan terlupakan. Begitu juga dengan menggunakan MoU (Memorandum of Understanding), kenapa tidak pakai Nota Kesepahaman saja. Karena terlalu sering dipakai di media massa, sehingga masyarakat pun jadi latah. Sampai-sampai saya pernah dengan ada tukang becak bilang saya baru tandatangani MoU dengan si anu," imbuh Asmadi yang kini aktif sebagai pengajar di Lembaga Pers Dr Sutomo Jakarta.
Di sinilah, ungkap Asmadi, relevansi pentingnya dibentuk FBMM yang tugasnya membantu mengembangkan bahasa Indonesia, menyamakan penulisan (ejaan, tata bahasa, kosa kata, alfabet) dan pelafalan di media masaa.
Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang terbentuk Oktober 2002 di Jakarta mulai dua tahun lalu mengembangkan sayap dengan mendirikan organisasi serupa di daerah-daerah. Sedikitnya 10 FBMM daerah telah terbentuk, dan yang terbaru FBMM Provinsi Kepri.
Pengurus FBMM Kepri kemarin dilantik oleh Ketua FBMM pusat TD Asmadi, disaksikan antara lain Kepala Dinas Pendidikan Batam Drs Muslim Bidin, anggota DPRD Kota Batam Gani Hasyim, Humas Otorita Batam Dwi Djoko Wiwoho, Humas PT PLN Batam Ade Sulistiani.
Susunan lengkap pengurus FBMM Provinsi Kepri: Ketua Rumbadi Dalle (MBM Tempo), Wakil Jo Seng Bie (LKBN Antara), Sekretaris Suyono S (Bisnis Indonesia), Wk Sekretaris M Iqbal (Batam Pos), Bendahara Anastasia Ansi (Radio Sing FM). Bidang Elektronik TV, koordinator Erwan Buntoro (SCTV), anggota Sobari (RCTI), Syaiful Kurnia (Metro TV), Iskandar (STV). Bidang Radio, koordinator Roedianto (Bentara FM), anggota Rachmad (Era Baru FM).
Bidang Hubungan Luar, koordinator Ahmad Suroso (Tribun Batam), anggota Fadli (The Jakarta Pos), Sudirman (LKBN Antara), Saibansyah (Ekonomi Neraca). Bidang Diskusi dan Litbang, koordinator Agus Tri Harsanto (Tribun Batam), anggota Yudi Karya (Tabir Hukum), Syahdan (Sijori Mandiri), Arifuddin Jalil (Pos Metro Batam).
(ahmad suroso)

Sabtu, 24 November 2007

Merenungkan Hakekat Perpisahan

KEBERSAMAAN - Ika (pakai kerudung) foto bersama-sama crew redaksi Tribun Batam (dari kiri Menik, aku, Yon, dan si centil Tari di pantai ujung pulau Galang saat melepas tim jelajah pulau Tribun-Telkomsel tahun 2005.

Sedih Ditinggal Ika


HARI ini, Sabtu, 24 November 2007 adalah hari terakhir Ika Maya Susanti, salah satu wartawati andalan Tribun Batam bekerja bersama-sama crew redaksi Tribun Batam. Sebab terhitung mulai 25 November 2007 besok ia mulai resign, menyatakan mengundurkan diri dari dunia wartawan, karena diterima sebagai dosen di Politeknik Batam, yang mulai tahun depan melebur menjadi Universitas negeri Raja Ali Haji (Umrah).

Berbeda dengan hari-hari biasanya, hari ini aku merasakan sangat kehilangan, sedih, "semedot" (kata orang Jawa), ditinggalkan satu diantara wartawan andalan Tribun Batam ini. Kalau saja aku boleh memilih dan menentukan, akan suruh wanita berjilbab yang sholehah, cerdas, banyak mengeluarkan ide-ide untuk membuat topik tulisan khususnya menyangkut dunia remaja, supel, mudah dimintai tolong dan kerjasama meskipun tetap mengedepankan sikap kritisnya itu untuk tetap bertahan di Tribun.
Tapi tentu saja, hal itu tidak akan saya lakukan. Karena ini menyangkut pilihan hidup masing- masing orang, yang kita tidak bisa memaksakannya. Saya jadi teringat sebulan lalu ketika Ika mendekati saya bilang mau resign, setelah diterima sebagai dosen di Poltek Batam.
"Bisa nggak ya saya resign mulai pertengahan November. Karena mulai besok saya sudah diminta mulai mengajar secara penuh, dan diminta resmi keluar dari Tribun mulai 15 November? tanya alumni Universitas Negeri Malang (dulu IKIP) yang rendah hati ini.
Mendengar Ika mau resign saya setengah tak percaya. Setelah beberapa saat diam, saya bilang sebaiknya kalau mau resign memenuhi prosedur yang ditentukan kantor, yakni minimal satu bulan sebelumnya harus memberi tahu. Artinya dia baru bisa keluar dari Tribun minimal per 25 November 2007.
"Kamu udah bilang sama mas Febby (Pemred Tribun) atau PSDM belum," tanyaku.
"Belum"
"Kalau gitu kamu bilang dulu sama mas Febby, terus ke PSDM," saranku pada Ika.
Tapi ketika perjalanan waktu sebulan kemudian itu benar-benar terlewati, yaitu pada hari ini, hari terakhir Ika bergabung di Tribun, hati kecil saya merasa kehilangan, berat hati ini ini melepas kepergian Ika yang saat ini sedang serius berpacaran dengan Junaidi, mantan wartawan Tribun Batam yang sudah lama resign..
Oke Ka, selamat ya memulai petualangan baru di dunia akademik, setelah tiga tahun lamanya mengembara di dunia wartawan. Perpisahan memang berat, apalagi kalau kita sudah merasa cocok dan enjoy bekerja dalam satu tim, tapi itulah romantika kehidupan. Semoga di tempatmu yang baru, kamu dapat menemukan suasana yang tak kalah mengasyikkan

Sebagai manusia, kita memang pasti akan mengalami perpisahan, entah itu pisah dengan teman seprofesi, teman main, sahabat, saudara, tetangga, anak, istri, suami, kakek, nenek dan sebagainya.
Untuk menghadapinya paling-paling dibutuhkan kemampuan untuk meredam kesedihan karena ditinggalkan orang-orang dekat kita, dengan hati ikhlas, rela, atau bahkan dengan sikap biasa-biasa saja..
Tetapi ada suatu perpisahan yang tidak setiap orang siap menghadapinya, yaitu berpisahnya nyawa atau ruh dengan jasmaninya atau fisik kita. Kesiapan menyangkut bekal yang akan kita bawa untuk kembali ke pangkuan Allah, innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Konkretnya sudahkah kita siap menghadapi kematian?. Yang dimaksud kita di sini adalah kesiapan ruh kita berpisah dengan jasad kita.
Supaya ruh kita siap rojiuun (kembali) ke Allah, maka kita harus mengenal diri kita sendiri. "Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu" , artinya "Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya".
Tetapi kebanyakan manusia tidak tahu dalam arti hakekat:.
Siapakah dirinya ?
Darimanakah dirinya berasal ?
Untuk tujuan apakah hidup didunia ini ?
Kemanakah nanti dirinya akan kembali ?
Dan seabreg pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit untuk dijawab. ..
(ahmad suroso/bersambung)

Selasa, 20 November 2007

Sembuhkan Tumor melalui Doa, Mengapa Tidak!

TUMOR OTAK - Erwin Aprilan, orangtua Ummu yang menderita sakit tumor otak saat menerima bantuan dompet pembaca Tribun Rp 7.700.000 dari Ahmad Suroso selaku Koordinator Liputan Tribun Batam, di RSOB, Selasa (20/11)

Ummu Sudah Bisa Melihat
* Pasien Tumor Otak Harapan Hidupnya 5 Persen
* Terima Bantuan Pembaca Tribun Rp 7.700.000

UMMU Yasmin Shafa, bocah penderita tumor otak yang dirawat di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) sejak dua minggu lalu, kini kondisinya mulai membaik. Seperti pernah diberitakan Tribun sebelumnya, Ummu sempat dirawat di RS Awal Bros. Namun, karena keterbatasan biaya, Selasa (6/11/07) lalu bocah ini dipindahkan ke RSOB.
Gadis kecil ini saat kepalanya di Scan di RSOB, diketahui di dalam otaknya terdapat tumor ganas. Dokter mengatakan, harapan hidupnya tinggal lima persen.
Tidak ada pilihan lain, kata dokter anak itu harus dioperasi dan membutuhkan biaya operasi sekitar Rp 150 juta. Itupun tidak ada jaminan dari dokter setelah operasi Ummu akan bisa kembali normal atau sembuh.
"Kalau ada jaminan bisa sembuh bila dioperasi, seribu jalan akan saya usahakan untuk bisa mendapatkan uang itu. Tapi karena tidak ada jaminan, ya saya pasrah pada Allah, karena saya yakin Allah maha penyembuh segala penyakit," harap
Erwin Aprilan, ayah Ummu kepada Tribun, Selasa (20/11/07).
Kehadiran Tribun untuk menyerahkan sumbangan dari pembaca yang terkumpul melalui rekening dompet peduli pembaca Tribun sebesar Rp 7.700.000. Bantuan diterima Erwin Aprilan (37) yang didampingi sang istri Rosmalinda Poranita (28).
Menurut Erwin, kondisi kesehatan Ummu seminggu terakhir terus membaik. Bila sebelumnya, untuk bernafas, ia harus dibantu masker oksigen, kini sudah tidak pakai masker lagi. "Alhamdulillah matanya sudah bisa untuk melihat, dan juga sudah bisa bicara," ujar PNS golongan II Dinas Perhubungan Batam
seraya menambahkan, sebelumnya, mata Ummu memang melek, namun tidak bisa merespon alias tidak bisa melihat.
"Perkembangannya cukup bagus pak. Memang dokter mengatakan harapan anak saya tipis, tapi saya yakin melalui pertolongan Allah, anak saya akan sembuh. Saya hanya mohon dukungan doa dari bapak-bapak, dan masyarakat agar anak saya cepat sembuh tanpa harus operasi," kata Erwin.
Doa...atau penyembuhan alternatif itulah harapan terakhir Erwin untuk bisa menyembuhkan anaknya. Pengobatan melalui doa antara lain diikhtiarkan lewat kelompok majelis zikir Makrifatullah di Baloi Batam, di mana Erwin ikut aktif didalamnya. "Ini air yang sudah di asma'i jamaah Makrifatullah untuk penyembuhan anak saya. Alhamdulillah ada hasilnya," ungkap Erwin menunjuk botol air mineral ukuran 1 liter.
* * *
IKHTIAR penyembuhan melalui doa...itulah alternatif pengobatan yang diyakini Erwin insyallah bisa menyembuhkan putrinya setelah tim medis tidak menjamin operasi menyembuhkan atau menolong nyawa Ummu.
Doa memang merupakan senjatanya orang muslim, sebagaimana banyak disebut didalam Alquran dan hadits, termasuk doa untuk kesehatan. Kuncinya adalah yakin, asal kita yakin Insyallah biqodratillah doa kita akan terkabul, diiijabi Gusti Allah. Urusan langsung dikabulkan atau setelah menunggu lama, itu masalah waktu.
Di sini saya kutip doa untuk kesehatan, dari hadits riyawat Sahabat Anas, "Adzhibil Ba'sa Robbunnaasi Isyfi (isyfinii) antasyaafii laa syifaa'a illa syifaaukaa syifaa an laa yughoodirusaqoman". Artinya: "Walai Tuhan Manusia, Sembuhkanlah dia (saya). Sesungguhnya engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada Kesembuhan kecuali dari-Mu. Kesembuhan yang tidak diiringi dengan sakit lagi."
"Allahumma shallii 'alaa sayyidinaa Muhammadin Habibbil Mahbuubi syaafiil 'ilali Wamufarrijil Kurabi." Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad yang cinta dan dicintai (Allah) yang menghilangkan segala penyakit dan yang menghilangkan segala kesempitan (kesusahan).
Bisa juga ditambah doa, "Allohumma mushoghirol kabir wa mukabirosh shogir, shogir maabii." Artinya: "Ya Allah, Engkau yang mengecilkan yang besar dan membesarkan yang kecil. Kecilkanlah penyakitku ini."
Semoga doa yang terus menerus dipanjatkan keluarga Irwan untuk kesembuhan putrinya bisa menjadi obat yang menyembuhkan, sehingga Ummu bisa tumbuh normal sebagaimana anak-anak umumnya. Hanya Ridho-NYA yang diharapkan.
(ahmad suroso)

Sabtu, 17 November 2007

Perang lagi euuuy







AIRSHOFTGUN - Sabtu (17/11/07) sore, saya bersama crew Tribun sedang refreshing bermain airshoftgun di pusat latiran perang Airshoftgun Delta Force di kawasan Pelita, Nagoya, Batam, setelah pagi harinya sampai siang pukul 13.30 WIB bersama Pemred Tribun Batam Febby Mahendra mewawancarai 8 calon wartawan Tribun Batam yang lolos tes tulis.

Kamis, 15 November 2007

Maaf ya, Soeharto Lengser Saya Naik

tribun/agus tri harsanto
FOTO BERSAMA - Huang Cia Cia dan manajernya foto bersama dengan Korlip Ahmad Suroso dan reporter Ruri di kantor redaksi Tribun, Kamis (15/11).

Malam Ini Cia Cia Hibur Warga Batam


Maaf ya, Soeharto Lengser Saya Naik


LAGU Ye Liang Tai Piau Wo Te Sin milik Teresa Teng, mengalun merdu dari bibir Huang Cia Cia (24), penyanyi spesialis lagu mandarin dari Surabaya, ketika berkunjung ke kantor Tribun Batam, Kamis (15/11) sore.
"Saya menggelar konser tunggal di Restoran Shangrilla BCS Mall pada Jumat besok (hari ini) mulai pukul 19.00 sampai selesai. Konser ini merupakan konser pertama saya di Batam,"ujarnya.
Konser yang digelar dalam rangka ulang tahun Johny Studio ini juga merupakan konser perdana yang digelar Johny Studio di Batam.
Sejak kecil, gadis asal Surabaya, Jawa Timur, ini memang sudah akrab dengan dunia tarik suara. Kendati banyak mengenal guru musik, Cia Cia, mengaku belajar menyanyi secara otodidak. Ia baru serius mengembangkan bakat menyanyinya setelah tumbangnya (mantan) Presiden Soeharto, penguasa rezim Orde Baru.
"Maaf ya...Jadi, ketika Soeharto lengser, sayalah yang naik,"ujarnya sambil tersenyum. "Maksud saya, karier saya sebagai penyanyi bisa dimulai ketika Soeharto tak lagi berkuasa kan? Tahu sendiri kan kalau budaya Tionghoa maupun keseniannya dilarang berkembang selama Orde Baru,"ujar gadis berambut panjang ini.
Lalu bagaimana Cia Cia ingin mengembangkan kariernya, termasuk menyanyi di Singapura dan Malaysia? Cia Cia mengaku banyak menggali ilmu dari artis-artis mandarin mancanegara yang dikenalnya saat mereka berkunjung ke Indonesia.
"Dari obrolan dengan mereka, saya jadi tahu sampai di mana kemampuan dia dan bagaimana juga mereka menilai kemampuan saya,"papar penyanyi yang sudah menelurkan empat album sejak 2003 ini.
Dari obrolan dan melihat kemampuan mereka, penyanyi yang sudah menjual lebih dari 3.000 kopi (khusus di Medan), ini yakin bisa menyalip artis-artis dari Singapura maupun Malaysia. "Saya yakin bisa menyalip mereka suatu saat nanti,"katanya optimistis.
Untuk menjaga kualitas suaranya, Huang Cia Cia sedikit berbagi tips. Hampir seperti penyanyi pada umumnya, ia tak ingin memakan goreng-gorengan terlalu berlebihan. "Selain itu, mungkin saya jaga stamina aja ya, karena harus berkeliling ke banyak daerah untuk menyanyi,"terangnya.
Nama Huang Cia Cia di Batam dan Kepri sudah sangat dikenal. Banyak warga Tionghoa yang sering menyanyikan lagu-lagu daur ulang yang dinyanyikan Huang Cia Cia dalam berbagai lomba karaoke. "Karena itu, kami memberikan kesempatan bagi warga Batam yang ingin melihat langsung konsernya di Restoran Shangrilla,"kata Kenny Jackson, Public Relation BCS Mall.
"Apalagi Huang Cia Cia bisa dibilang sudah menjadi penyanyi muda yang mampu menorehkan namanya di pentas dunia lagu Mandarin di Indonesia," imbuh Kenny.
Hari ini, Jumat (16/11) pukul 12.00, akan diselenggarakan acara jumpa fans bagi para penggemar Huang Cia Cia di atrium BCS Mall, Baloi, sebelum Huang Cia Cia menggelar konser pada malam harinya. Konser yang akan berlangsung selama 1,5 jam itu nantinya akan memberikan kesempatan bagi para tamu untuk request (meminta) lagu yang mereka inginkan.
"Walaupun bisa request, tapi penonton jangan naik panggung ya, namanya juga konser,"pungkas Kenny.

Senin, 12 November 2007

Lho mihun-e kok lengket ngene?

Lho mihun-e kok lengket ngene?

BEGINILAH kalau para bulok (bujang lokal) dan bujang beneran di mess masak mihun (mi putih kering) takkala badan sudah capek dan mata ngantuk. Ceritanya dinihari sekitar pukul 01.00, Selasa (13/11) dua bulok (bujang lokal) Cak Febby, tuan 'dengkek' Albert, serta si bujang beneran Agus Boyo tiba di mess Tribun Batam di Mitraraya Batam Centre setelah seharian ngantor.
Seperti biasa, sampai di mess perut biasanya keroncongan, jadi ya harus masak dulu biar perut tak protes. "Gus... masak mi. Itu ada mihun, mihunnya direbus dulu baru, baru dimasak," celetuk Febby.
Agus yang memang biasa kebagian masak, tanpa pikir panjang langsung merebus mihun. Sambil menunggu mendidih, ia meracik bumbu2 untuk memasak mie spesial itu.
"Lho mihun-e kok lengket ngene?" teriak Agus setelah melihat mihunnya sudah lengket jadi satu seperti bubur.
"Lho kamu salah Gus, harusnya mihunnya jangan direbus, tapi cukup direndam air panas aja biar lembek," sahut tuan Dengkek.
"Terus piye ki?" tukas Agus dengan nada suara bersalah.
"Ya udah gak apa-apa. Terus aja dimasak, gak usah omong Cak Febby," imbuh Albert sambil melongok keluar rumah, sambil menengok si bos Febby yang lagi asyik menyemprot mobil APV hitam kesayangannya.
Rupanya si bujang beneran satunya, Edi Sijabat Erat pun yang sebetulnya tidak bisa masak pun 'sok tahu' ikut-ikutan nimbrung ngaduk-aduk masakan mihun yang sudah membentuk gumpalan- gumpalan. Bukannya tambah beres, masakan mihun godok itu pun makin runyam bentuknya.
Singkat cerita, mihun godok itupun selesai dimasak, di makan berempat. Rasanya memang tetap enak, tapi bentuknya itu lho, jadi gumpalan-gumpalan tak jelas bentuknya.
"Sekali layar terkembang, pantang surut, harus dihabisin mihunnya" canda Febby.
"Nyam...nyam...nyam"
Aku yang tiduran di kamar sedang berusaha untuk bisa tidur, tapi tak juga datang kantuknya, sehingga mendengar percakapan mereka jadi teringat pengalaman ketika masak sarden bareng Agus. Waktu itu aku yang sudah menyiapkan bumbu pelengkap untuk memasak sarden minta tolong Agus untuk membuka kaleng sarden.
Tanpa tanya-tanya lagi, Agus ambil pisau terus melubangi kaleng sarden. Tapi bukannya dibuka pinggirnya, tapi Agus hanya melubangi bagian tengah kaleng sarden sebesar jari tangan.
"Lho Gus kok dibolong tengahnya kecil gini, gimana ikannya bisa keluar?" tanyaku penasaran.
"Sori bos, gak pernah masak sarden," kilah Agus Boyo.
Oalah...beginilah nasib jadi bulok di rantau, termasuk aku. Jauh dari istri.